rss

Thursday, July 06, 2006

Bangsa Penenggak Arak (1)

(diterbitkan di majalah Playboy edisi Juni 2006 dengan judul "Generasi Penenggak Arak." ini versi asli sebelum disunting.)

Bangsa Penenggak Arak

Dari Kapten James Cook sampai Shaggy Dog memuji tradisi minuman memabukkan di Nusantara.

17 September 1770. Awak kapal “Endeavour” girang sumringah. Di ujung pandangan menyembul sosok pulau kecil permai. Sudah lama mereka menanam harap bersua pulau semacam Tahiti, daratan indah dan subur yang mereka tinggalkan setahun sebelumnya.

Letnan Satu James Cook, sang kapten, jauh lebih girang. Tak tercantum Pulau Sawu dalam peta pelayaran kapal Endeavour. Kalau benar itu pulau baru, akan menambah panjang daftar daratan temuan Cook. Sejak melepas sauh dari Pantai Britania 27 Mei 1768, mereka telah menemukan Tahiti serta Selandia Baru. Temuan terbesarnya adalah Australia pada April 1970.

Raja George III yang mengirim Endeavour. Misinya sampai di Tahiti sebelum bulan Juni 1969 untuk meneliti fenomena astronomi Transit of Venus. Mencari ukuran tata surya adalah kepingan puzzle yang paling membuat penasaran dunia pengetahuan abad ke-18. Ketika itu baru diketahui ada enam planet yang mengitari matahari -Uranus, Neptunus dan Pluto belum ditemukan.

Ekspedisi Cook seolah misi luar angkasa. Tak hanya itu. Di kapal itu membonceng sejumlah orang sipil yang dipimpin Joseph Banks. Pria 25 tahun ini kaya raya, kegemarannya menyelidiki alam. Dengan antusiasme Abad Pencerahan, Banks dan anak buahnya mengumpulkan dan mendokumentasi temuan tumbuhan baru serta binatang selama pelayaran. Mereka juga mencatat situasi antropologis dan budaya yang mereka temui.

Setelah mengitari Australia, Endeavour melanjutkan muhibah ke arah barat. Di bulan Juni, Endeavour sempat mengurangi 50 ton muatan untuk menambal bocor lambung kapal yang mencium karang. Papua Nugini sudah mereka singgahi, tapi mereka belum mendapat cadangan makanan baru.

Awak kapal mulai terserang penyakit. Tubuh manusia hanya mampu menyimpan kebutuhan vitamin C selama enam minggu. Awak Endeavour menjadi kelinci percobaan Angkatan Laut Inggris dalam melawan momok hidup lama di laut: kudis, sariawan dan pendarahan – yang membuat kapal-kapal di abad ke-18 kehilangan separuh awaknya. Cook membawa sejumlah makanan percobaan seperti acar kubis dan rendaman kecambah gandum. Bila ada awak kapal yang menolak, dicambuk.

Selama empat bulan di laut, awak Endeavour merindu makanan segar. Savu, begitu Cook menyebut gugusan di Nusa Tenggara Timur itu terlihat dipenuhi pohon lontar dan kelapa. Endeavour melempar sauh di pantai utara Pulau Sawu. Tak lama kapal itu disergap perahu berisi sekitar 20 lelaki bersenjata parang. Cook diajak menghadap Ama Doko Lomi Djara, penguasa Seba, salah satu dari lima kerajaan di Sawu.

Bukan perlakukan kasar yang mereka terima di daratan. Cook dan sejumlah awak penting Endeavour justru dijamu makan Ama Doko. Sajiannya daging kambing bakar dan minuman keras berasa manis yang mengalir tiada henti. Minuman itu dideres dari pohon jangkung yang memenuhi daratan awu. Cook mulai doyan rasa tuak lontar.

“Air itu manis, segar dan rasanya aneh,” tulis Cook dalam catatan perjalanannya.

Ternyata kerajaan di Sawu sudah mengikat perdagangan dengan VOC. Ada Christian Joseph Lange, wakil perdagangan VOC yang sudah tinggal di Sawu sejak tahun 1956. Keberadaan Lange akan menghambat usaha Cook untuk membeli kebutuhan kapalnya di Sawu.

Cook seorang petualang sekaligus diplomat ulung. Dia paham membalas penyambutan yang meriah itu dengan elegan, sekaligus mengurangi intervensi Lange dalam urusan jual beli dengan orang Sawu. Cook menghadiahkan Raja Ama seekor biri-biri Inggris, satu-satunya sisa cadangan hewan potong di Endeavour. Awak Endeavour pun bisa membeli sejumlah kambing, babi, kerbau dan unggas dari penduduk. Cook memimpin pembelian ini dengan gaya diplomat dan amat mengesankan penduduk setempat.

Dimana-mana, awak Endavour mendapat suguhan tuak. Minuman nikmat yang mudah diambil dari alam Pulau Sawu. “Dengan memotong ujung dahan berbunga, lalu menempatkan wadah daun lontar kecil untuk menampung tetesan yang akan dikumpulkan oleh pemanjat setiap pagi dan sore,” tulis Cook tentang cara orang Sawu mengambil tuak.

Hari berikutnya lagi-lagi Cook dijamu masyarakat Sawu. Rombongan duduk bersila di atas tikar, menghadap 36 sajian lezat yang sampai-sampai tak sanggup mereka habiskan.

Selama tiga hari berinteraksi, Cook menyadari peran penting pohon lontar dalam kehidupan masyarakat Sawu. Sydney Parkinson merasakan hal sama. Dia pelukis yang mendokumentasikan muhibah Cook dari tahun 1768-1771. Selama di Sawu, Parkinson menggoreskan sketsa sebuah rumah kepala desa. Di belakang rumah, seorang pria bertelanjang dada memanjat pohon lontar, menyandang dua wadah bundar untuk menampung hasil deresan nira.

Di bawah sketsanya, Parkinson menulis: “A chief house in Savu, near Timor”.
Diplomasi yang diwarnai nikmatnya menenggak tuak membuat Cook berhasil membeli bahan pangan dan ternak yang dibutuhkannya. Meski tidak bisa mengklaim diri sebagai penemu pulau Sawu, Endeavour sukses bermuhibah ke arah barat, menepi di Batavia pada 11 Oktober. Untung saja di Sawu Cook mampir minum.
***

“Urip mung mampir ngombe, karena itu kita suka minum,” kata Heru.
Heru anak Jogjakarta. Bisa banyak interpretasi dari idiom yang diucapkan vokalis band Shaggy Dog itu. Idiom itu menggambarkan kesederhanaan cara pandang orang Jawa terhadap hidup yang laksana singgah di warung minum. Karenanya persinggahan itu harus dijalani dengan kepasrahan, sebelum melanjut ke perjalanan berikut.

Shaggy Dog memainkan musik ska yang berfusi dengan reggae, rock and roll, dan jazz. Sempat banyak band ska yang mencuat sejak aliran ini trend di tahun 1997. Tapi tak banyak yang ‘mampir’ di blantika musik nasional selama Shaggy Dog. Mereka sudah menelurkan tiga album, dan beberapa kali masuk dalam album kompilasi. Hampir selalu Shaggy Dog menjadi band di penghujung gig ska atau reggae. Itu menandakan peringkat daya tarik mereka. Belum lama, anak-anak Shaggy Dog menggelar tur ke Belanda untuk kedua kalinya.
Bila hidup adalah mampir minum, lewat lagu Di Sayidan, Shaggy Dog mengajak mampir ke sebuah kawasan di Jogjakarta.

Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan
Teman-teman riang menunggu di Sayidan


Begitu petunjuk Shaggy Dog dalam Di Sayidan, lagu pamungkas mereka dari album “Shaggy Dog” yang dirilis tahun 2000. Lagu itu telah menjadi anthem, yang wajib mereka mainkan di panggung. “Dari Aceh sampai Papua tahu lagu itu,” kata Heru.

Relasi awal mereka adalah “teman minum”, bersama mereka banyak membunuh waktu di Sayidan. Tak ada yang istimewa dengan kampung di bantaran Kali Code itu. Gangnya sempit, mayoritas penghuninya bekerja di sektor informal. Sayidan jadi tersohor berkat Shaggy Dog. Kampung itu pun sering kebanjiran musafir dari lain kota. Kalau tidak bisa bertemu dengan anak-anak Shaggy Dog, para pendatang cukup puas bisa mencicipi air kedamaian yang disebut dalam Di Sayidan.

Mari... Sini... berkumpul kawan
Dansa... Dansa... sambil tertawa
Di Sayidan, di jalanan
Angkat sekali lagi gelasmu kawan
Di Sayidan, di jalanan
Tuangkan air perdamaian


Air perdamaian yang mereka maksud adalah lapen, minuman beralkohol khas Jogja. Lirik awal Di Sayidan yang ditulis Bandizt, sang pembetot bass, sebenarnya menceritakan kandungan lapen. “Lirik awalnya itu, ‘Diramu dari buah-buahan, dijadikan minuman, untuk mabuk-mabukan.’ Hardcore banget,” kata Heru tertawa.

“Kenapa diubah?” tanya saya.

“Aku edit, diperhalus untuk tujuan yang sama, supaya bisa menembus mainstream,” balas Heru.

Bagi saya Di Sayidan punya semangat yang sama dengan Gaudeaumus, lagu civitas academica atau Lisoi milik masyarakat Batak Toba. Gaudeaumus adalah drinking song, mengajak menikmati hidup, selagi muda.

Jangan kau takut pada gelap malam
Bulan dan bintang semuanya teman
Tembok tua tikus-tikus liar
Iringi langkah kita menembus malam


Shaggy Dog punya peran membuat lapen tersohor sampai ke luar Jogja. Di kalangan tertentu, lapen jadi oleh-oleh yang wajib dibawa dari kota gudeg, bukan bakpia pathok.

Tak sulit mencari lapen, penjualnya menyebar di penjuru Jogja. Rasanya beragam, ada strawberry, mocca dan mint. Di daerah terban ada angkringan lapen “melon chaos.” Dari namanya sudah jelas rasanya. Di Sosrowijayan ada lapen rasa kopi, persis kahlua. Kahlua brand ternama untuk likor yang dibuat dari kopi Meksiko terbaik, alkohol tebu dan vanila. Ada juga lapen yang dicampur telur dan jamu penambah tenaga.

“Bisa bikin ereksi sampai pagi.” Heru tertawa.

Karena berasa buah, lapen mudah dinikmati. “Rasanya nggak begitu keras, sesuai dengan makanan Jogja yang manis, pas buat sambil ngobrol,” kata Heru.

“Dan murah,” timpal saya.

“Ya murah. Tapi ngantem dari belakang,” kata Heru.

‘Belakang’ maksud Heru adalah tengkuk, bagian tubuh yang akan terasa terjotos kalau tak mawas diri menenggak lapen.

Efek lapen memang menjotos. Tapi jotosan itu menjadi berkah bagi Sakti Darwinto, penjual lapen di Sayidan yang menjadi tongkrongan anak-anak Shaggy Dog. “Sekarang Pak Seti jadi lebih kaya dari kita,” canda Heru.

Seti panggilan akrab Sakti. Dia mulai menjaja lapen sejak tahun 2000. “Awalnya saya cuma ikut-ikutan, diajak teman. Tapi setelah pikir-pikir, saya ingin buka sendiri,” terang Seti.

Lokasi warung Seti di Jl. Brigjen Katamso, di depan SMP Maria Immaculata. Lalu lintas Brigjen Katamso cukup padat, arah selatan menuju pantai Parangtritis, ke utara pusat kota.

Awalnya Seti menjual paling banter 10-20 liter per malam. “Dalam waktu setahun lagu Shaggy Dog terkenal, teman-teman mereka pindah nongkrong ke tempat saya. Dari luar kota juga banyak yang datang,” kata Seti.

“Sejak lagu Di Sayidan ngetop, sehari berapa liter terjual?” tanya saya.

“Bisa 30 liter, kalau malam minggu 60 liter,” jawab Seti.

Seti menjual lapen Rp 10.000 per liter. “Kalau teman lama Rp 8.000,” kata dia.

Seti menganggap semua pelanggannya sebagai teman, bedanya pada teman lama atau teman baru. Usianya 47 tahun, tapi lancar bersenda gurau dengan pengunjung yang rata-rata bersebaya dengan anaknya. Tubuhnya tegap, rambutnya cepak. Di siang hari Seti berprofesi sebagai petugas keamanan di pertokoan.

“Lapen dibuat sendiri? Apa bahannya?”

“Alkohol 96 persen dengan CMC. Semuanya yang kualitas nomor satu,” kata pria 47 tahun itu.

“CMC?” Saya menimpali.

“Itu bahan untuk bikin roti, untuk mengentalkan adonan. Semua bahan direbus sampai mendidih, dibiarkan dingin sampai seharian, terus dicampur dengan esens,” terang Sakti.

Dulu Seti memakai beragam esens, rasa mocca, melon, strawberry dan menthol. Dia juga menjual lapen jamu yang menurut Heru bisa membuat ereksi sampai pagi. “Saya pakai jamu produksi Cilacap, namanya serbuk super. Tapi sekarang cuma jual yang rasa mocca,” kata Seti.

“Kenapa cuma mocca?” tanya saya.

“Tahu suasana lah, istilahnya sekarang ini sedang gerobyok. Tempat saya bisa digaruk, kadang-kadang yang minum kena juga. Sekarang nggak ada yang nongkrong, saya larang.”

“Kalau mau beli lapen?”

“Beli di rumah saya, tapi nggak minum di warung,” kata Seti.

Sejak awal tahun 2005, Pemerintah Kota Jogjakarta memberlakukan Perda anti penyakit masyarakat (pekat). Akibat perda itu warung lapen kerap dirazia. Kini di warungnya Seti menjajakan menu tongseng, ayam bakar, pecel lele dan mie goreng.

Penjual lapen lain berdagang sembunyi-sembunyi. Tapi warung lapen di Pajeksan, jalan yang bersiku dengan Jl Malioboro, seperti tak terpengaruh. Sebuah plang tripleks menerangkan jam operasinya: “Buka 18.00-23.00.” Saya datang sekira pukul 23.00, masih ramai anak muda nongkrong di sana.

Sesekali membuncah tawa meriah. Mereka duduk berkelompok, sebagian di atas tikar yang digelar di emperan toko. Sebagian lagi di kursi kayu panjang yang disusun di mulut sebuah gang. Di mulut gang itu ada sebuah meja kecil untuk kasir, lebih ke dalam lagi ada dua lemari. Tak terlalu besar ukurannya, di raknya tersusun sejumlah sloki, ceret dan bungkusan plastik menampung cairan berwarna coklat serupa teh dan merah jambu. Masing-masing bervolume 1 liter. Untuk pembeli yang tak ingin minum di tempat. Inilah warung lapen paling legendaris di Jogja.

Dasmadi yang biasa disapa Jas memulai sejarah lapen 12 tahun silam. Pada masa itu, dia termasuk punggawa Komunitas Pemusik Jalanan Malioboro (KPJM). Menjelang dini hari, para pengamen Malioboro biasa nongkrong di emperan toko.

“Dulu Malioboro nggak tidur, Mas. Sekarang padat karena mobil. Pengamen yang menjaga Malioboro tetap aman, jalan kaki jam tiga pagi juga aman,” kata Jas.

Sembari ngobrol, para penjaga Malioboro menenggak aneka minuman, dari jamu pelepas lelah sampai yang beralkohol.

“Lama-lama kepikiran gawe ndiri wae. Coba-coba nyampur minuman, dan teman-teman bilang enak. Coba didol wae,” kata Jas.

Menurut Jas, pada prinsipnya lapen adalah jamu. Bahan-bahan seperti daun ketela, adas kulowaras (sejenis akar-akaran), dan beberapa rempah-rempah lain ditumbuk dan dicampur. Lalu difermentasi dengan rasa. “Jadi sebenarnya ini jamu anak muda, tapi ada penghangatnya,” kata Jas.

“Alkoholnya jadi berapa persen?”

“Di sini alkoholnya biasa-biasa saja, 12-15 persen. Tapi kalau diminum lebih dari target pasti mabuk,” kata dia.

Jas berkongsi dengan lima kawannya. Tujuan awalnya untuk membiayai komunitas, kalau ada untung sedikit baru dibagi. Air kedamaian itu dijual dari tangan ke tangan. Permintaan semakin banyak, Jas dan teman-temannya perlu tempat tetap. Sebuah mulut gang di Pajeksan dipilih. Pelan tapi pasti, warung lapen Jas kian tersohor. Warung-warung lapen lain bermunculan di Jogja.

“Tapi massanya beda-beda,” kata Jas. “Kalau di sini kebanyakan anak muda, terutama yang bergerak di kesenian.”

Kata Jas, kalau pun tak minum, banyak yang datang ke Pajeksan untuk bertemu komunitas seni di Jogja. Tidak hanya para pemusik, tapi juga penari, pelukis dan pemain teater. “Biasanya kalau mau ada acara, menyebarkan undangan dari sini. Kalau mau lihat akan ada apa acara kesenian di Jogja, poster dan pamflet selalu penuh di sini. Banyak seniman dari luar kota selalu mampir ke sini kalau ke Jogja,” kata Jas.

“Siapa saja?” tanya saya.

“Sawung Jabo, Oppie Andaresta. Mereka kalau ke Jogja pasti main ke sini, silaturami. Sudah ada empat generasi seniman yang suka nongkrong di sini,” kata Jas.

“Empat generasi?”

“Yang pertama itu generasinya Umbu. Lalu Jabo, Sapto Raharjo, Djaduk (Ferianto) dan Butet (Kertaredjasa), lalu generasi Oppie. Berikutnya generasi Duta (Sheila on 7) dan Heru (Shaggy Dog),” kata Jas.

Umbu Landu Paranggi dijuluki “Presiden Malioboro.” Lewat Persada Studi Klub (PSK) yang dia dirikan tahun 1969, penyair yang kini ‘menyepi’ di Bali ini menjadi pengasah bakat sejumlah penyair Jogja seperti Emha Ainun Najib dan Linus Suryadi AG. Di Bali, Umbu menjadi guru bagi Oka Rusmini, Raudal Tanjung Banua, dan Tan Lioe Ie. Djaduk Ferianto dan Butet Kertaredjasa adalah anak maestro tari Bagong Kussudiardjo. Yang pertama menggeluti teater, sementara yang kedua bergerak di musik alternatif. Sapto dikenal sebagai pemusik kontemporer yang memadukan gamelan dengan elektronika. Pengasuh radio Geronimo Jogja ini penggagas proyek Yogayakarta Gamelan Festival yang mempertemukan seniman gamelan sedunia.

“Sekarang di Jogja penjual lapen sembunyi-sembunyi karena banyak razia,” kata saya. “Tapi kenapa di sini aman-aman saja?”“Saya bisa menjamin jangan sampai menimbulkan keresahan di lokasi. Kami bisa bertahan di sini karena bisa menjaga tidak pernah ada keributan,” kata Jas.
(bersambung)

1 komentar:

Jonh Neo on 7:12 AM said...

Hey tamankembangpete, I want to introduce you a article site:
http://global-in-arm.com
See u soon, tamankembangpete