Monday, April 16, 2007
PLAYBOY Interview: Goenawan Mohamad (Januari 2007)
Sastrawan ini mengungkap hasrat barunya dalam teater, kenapa dia tidak menulis novel, dan kesukaannya menggoda wanita. Meski sudah puluhan tahun melakukannya, dia selalu tak percaya diri dan butuh lima jam untuk menulis Catatan Pinggir.
Banyak orang bertestimoni tentang kebiasaannya membaca majalah Tempo. Dimulai dari halaman belakang, rubrik Catatan Pinggir. Meski tak lagi aktif di majalah yang dia dirikan itu, Goenawan masih setia menghadirkan esainya yang biasa berjudul minim kata. Dalam pilihan kata, Goenawan jarang tegas dan keras. Wawasan intelektualnya membuat Goenawan seperti mengajak para filsuf berdialog, dari Friedrich Nietzsche, Jean Paul Sartre sampai Jacques Derrida. Dia sodorkan pertanyaan, bukan doktrin. Membaca esai Goenawan adalah undangan untuk masuk dalam dunia keragu-raguan. Baginya tak ada kesan final dalam persoalan intelektual, yang perlu dikekalkan adalah kegelisahan.
Dalam hal lain, Goenawan memilih untuk berposisi tegas. Di tahun 60an dia menolak mengamini doktrin realisme sosialis yang dipaksakan oleh seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai sumbangan untuk revolusi. Dia dan penandatangan Manifes Kebudayaan tahun 1964 harus mengalami mengecap pemberangusan karya. Tapi tak lama Lekra dan PKI tersingkir, Orde Baru baru berdiri. Tapi rezim itu bukan kawan Goenawan. Pembreidelan majalah Tempo, Editor dan Detik tahun 1994 menjadi persemaian baru bagi gelombang antirezim. Goenawan ikut mendeklarasikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan semangat menolak totalitarianisme rezim atas kehidupan media massa.
Tahun 1996 bersama sejumlah aktivis dia mendeklarasikan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Gerakan ini dianggap tantangan untuk hajatan setahun kemudian, Pemilu, yang lagi-lagi akan mengangkat kembali Suharto. Dia ikut mendeklarasikan Majelis Amanat Rakyat (MARA), sebagai sarana perjuangan sejumlah kaum intelektual, beberapa hari sebelum Suharto tumbang. MARA menjadi cikal bakal pendirian Partai Amanat Nasional (PAN), yang didukung Goenawan sampai kini.
Dia tidak ragu-ragu berpartai politik, ketika banyak wartawan lain menabukannya agar berjarak dengan kepentingan. Ketika penghitungan suara pemilu 2004 mulai menunjukkan hasil akhir, tulisan Goenawan “Dari Buku Notes Seorang Yang Kalah,” beredar lewat email. Dia menyesalkan gejala kecurangan penghitungan suara, tapi tak mengumpatnya. Sebagai pendukung calon presiden yang kalah, dia sedih tapi mensyukuri ‘kemenangan’ bangsa Indonesia.
Goenawan membesarkan Komunitas Utan Kayu, dari sarang gerakan prodemokrasi yang berkamuflase menjadi sarana budaya seperti Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, dan Jaringan Islam Liberal. Darah juang tampaknya diwarisi pria kelahiran 29 Juli 1941 di Batang, pesisir Jawa Tengah ini dari ayahnya, Z Mohamad. seorang tokoh radikal dan pernah dibuang ke Digul, Irian Barat.
Dalam bukunya Di Bawah Lentera Merah, Soe Hok Gie menyebut Z Mohamad sebagai tokoh Marxis yang berpengaruh di Pekalongan. “Diskriminasi sosial juga merangsang Z Mohamad, seorang tokoh ISDV dan SI Pekalongan yang pada suatu malam telah ditangkap karena naik sepeda tanpa lampu, didenda 50 sen. Ia menolak membayar dan karena itu ia dipenjarakan. Mungkin Mohamad merasa geram bagaimana polisi mencari-cari kesalahan kecil rakyat, sedangkan "tuan-tuan Belanda" setiap hari melanggar aturan, tidak diapa-apakan," tulis Gie.
Kami mengirim Feature Editor Alfred Ginting untuk mewawancara Goenawan. Perbincangan dan wawancara dengan Goenawan dilakukan pertama kali di Ambon pada bulan Juli 2006, lalu di Ubud, Bali saat Ubud Writer Festival. Lalu di Jogjakarta, di sela latihan terakhir Teater Garasi untuk pementasan King’s Witch di Jakarta tanggal 2 dan 3 Desember 2006. Sebelum ke Jogjakarta, Goenawan dari Solo melihat latihan terakhir penari Mangkunegaran untuk pementasan Panji Sepuh yang dia sutradarai di National Museum of Singapore, pada 6 Desember. Wawancara terakhir di Jakarta, sebelum dan sesudah King’s Witch dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (TIM).
“Sulit menyesuaikan waktu pertemuan karena Goenawan sering ke luar negeri. Untuk orang seusia dia, semangat dan energi yang dia arahkan untuk menekuni hal-hal baru, seperti teater, luar biasa. Dia mudah tertidur untuk waktu sekejap, di mobil, di taksi, di cafĂ©,” kata Alfred. Goenawan seorang yang senang bergurau, tidak seserius esainya. “Ketika sedang makan di Jogjakarta, Goenawan mengeluarkan lembaran makalah dari tasnya. Sepintas saya lihat judulnya tentang relasi dunia Islam dan Barat. ‘Saya baru ikut seminar. Isinya nggak penting,’ kata Goenawan mencampakkan kertas itu jauh-jauh ke belakangnya,” kata Alfred.
Berikut wawancara dengan Goenawan Mohamad.
PLAYBOY: Apa bedanya penggarapan Panji Sepuh sekarang dengan yang 12 tahun lalu?
GOENAWAN: Kalau dulu di atas tanah rata. Sekarang ada panggung, saya ingin memberi tekanan pada masalah kekuasaan. Meski geraknya tetap meditatif tapi faktor fisik tampak seperti panggung, layar. Penarinya dulu empat sekarang tujuh.
Dalam Panji Sepuh sebenarnya tidak ada naskah, hanya tari. Saya diminta menulis tembang jawa dua stanzah lagu panggung. Lalu beberapa kata Jawa untuk koor, musik yang dibikin Tony Prabowo bagus sekali. Seperti koor Gregorian dalam bahasa Jawa. Musiknya tidak memakai gamelan, tapi gender yang digosok. Tidak ada alat pukul sama sekali.
Dulu sempat dipentaskan di Jakarta beberapa kali, di Melbourne, Bali, Solo, Seoul. Ide koreografinya dari Sulistyo Tirtosudarmo. Yang lain-lain menambahkan, mengolah. Saya waktu itu lihat prosesnya usul ini usul itu, Belajar saya.
PLAYBOY: Dari dulu Anda banyak menyumbangkan puisi dan prosa untuk seni pertunjukan. Kalau kali ini, Anda terlibat langsung dalam produksinya?
GOENAWAN: Saya terlibat penuh dalam Panji Sepuh dan Pastoral. Jadi akan ada dua dua nomor, Pastoral dan King’s Witch. Pastoral itu sajak saya dan saya jadi sutradara juga. Kalau King’s Witch saya hanya konsultan. Lebih banyak membantu persiapan di luar panggung, organisasi produksi. Kebetulan saya berpengalaman di Tempo ada gunanya. Jurnalistik, seperti juga teater, adalah kerjasama berbagai elemen. Ada desain, ada penulisan, logistik, ada budget, ada time table, teater juga begitu. Ada peran juga. Cuma kalau di teater apalagi setelah saya alami, tidak terus-menerus.
Lalu saya lihat (penggarapan) Kali, opera di Amerika. Saya yang membuat libretto-nya. Sebenarnya yang dibikin lebih dulu King’s Witch tapi yg dipentaskan duluan Kali. King’s Witch hanya dalam bentuk workshop. Di situ saya belajar bagaimana sutradara bekerja, bagaimana organisasi teater. Saya mulai banyak ide masuk. Kebetulan saya lihat La Galigo di New York. Menurut saya La Galigo itu gagal.
PLAYBOY: Kenapa gagal?
GOENAWAN: Menjadi datar, legendanya kurang mencekam. Hampir seperti gambar komik anak-anak. Flat.
PLAYBOY: Yang datar pada olah cerita atau pementasannya?
GOENAWAN: Cara mementaskannya. Kalau saya yang diserahi itu saya akan bikin lain. Semua seniman Indonesia yang menonton kecewa. Waktu saya nonton dengan Tony di New York saya bilang: “kita bikin saja Ton, Panji Sepuh. Siapa tahu ada yang mau mendanai.” Untuk menunjukkan kalau dari Indonesia ada yang lebih bagus dari La Galigo. Sebab musik Tony ini kan musik yang bukan barat, bukan timur, Panji Sepuh bisa menjembatani. Bisa kelihatan timur, menarik. Tapi juga ada orisinalitas Tony. Pada tarinya juga ada orisinalitas penari.
Jadi saya minta pada Sulistyo biar saya yang menyutradarai. Teman-teman percaya.
PLAYBOY: Tapi Anda tidak punya latar belakang koreografi atau tari?
GOENAWAN: Memang saya bukan penari. Saya hanya mengatur komposisi, mana yang berlebihan mana yang kurang. Teguh Ostenrik banyak membantu saya dalam memilih gerak, memperbaiki gerak. Karena dia pelukis, menguasai anatomi. Dia kasih ide-ide baru. Penari banyak memberi ide koreografi. Tugas saya hanya mengkoordinasi semua hal. Tapi saya senang, karena saya suka kerja dalam tim. Kalau olahraga saya senang sendiri.
PLAYBOY: Apa jalan cerita Panji Sepuh?
GOENAWAN: Sebetulnya tidak ada cerita. Dia imaji yang berangkai. Suasana keraton Jawa yang sedang dalam keadaan murung, pada suatu masa akhir kekuasaan. Bagaimana dalam suasana itu orang menghargai kematian, menghargai tubuh, dan dibebaskan oleh tubuh. Dalam wayang ada yang disebut suluk, puisi yang dinyayikan, yang tidak bercerita apa-apa tapi menggambarkan suatu suasana. Suasana murung, suasana perang. Panji Sepuh adalah suluk yang panjang. Dia puisi meditatif panjang yang ditarikan, mengenai kekuasaan dan tubuh manusia terutama yang diekspresikan oleh perempuan. Perempuan lah yang sebetulnya lebih lengkap dalam mewujudkan ekspresi tubuh, dia yang hamil, menstruasi, menyusui, Sedang laki-laki tidak.
Panji Sepuh yang baru saya beri tekanan pada peran perempuan. Sentrumnya tidak lagi raja, seperti yang dulu. Sekarang sentrumnya beberapa, laki-laki atau dalam hal ini raja hanya salah satunya. Panji Sepuh yang saya tafsirkan peran wanita menonjol. Tujuh penari itu menjadi pemenang dalam suatu pergulatan. Akhirnya ada semacam pembebasan, penolakan, pemberontakan, kepahitan, dan salah satu juga ekspresinya adalah yang erotik. Ada adegan senggama, homoerotik antarperempuan secara halus. Untuk menegaskan yang erotik itu menegaskan tubuh. Tubuh tidak bisa diabaikan. Manusia adalah tubuh, roh dalam tubuh. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kemudian moralitas yang kita kenal membenci tubuh dan akibatnya membenci perempuan.
PLAYBOY: Relasi antara kekuasaan dan tubuh dimana yang satu berdiri sebagai penindas?
GOENAWAN: Persis. Kekuasaan itu tidak harus kekuasaan politik, bisa kekuasaan wacana, agama, hukum. Banyak yang disumbangkan oleh pemikiran feminisme. Memang pemikiran feminisme di Indonesia ini hanya menerjemahkan dari barat, kecuali yang dijalankan oleh sebagian perempuan di kalangan pesantren. Tapi gerakan itu banyak menyadarkan kita untuk lebih appreciate pada masalah perempuan, tubuh dan manusia.
PLAYBOY: Apakah dunia gelap itu merefleksikan kekuasaan atau sebaliknya?
GOENAWAN: Iya bisa, dari dunia gelap yang tidak bisa ditaklukkan itu, kita bisa melihat kekuasaan dengan segala ambisinya tidak bisa menang sepenuhnya.
Di King’s Witch kamu akan lihat ada perlawanan dari Manjali dan Calon Arang terhadap penghukuman dari kekuasaan yang besar di luar bawah sadar manusia.
Ada satu bentuk statement yang mengukuhkan bahwa yang magis, yang gelap yang tidak diduga-duga, miskin, kecil di luar kerajaan itu tidak bisa dibasmi. Dan dia punya perannya sendiri.
Calon arang sering digambarkan sebagai wakil dari kegelapan. Dalam teksnya ada kata-kata raja yang menyukai lansekap yang rapi yang dikerjakan oleh tangan-tangan yang rajin. Itu kan industrialisasi. Tapi dunia tidak semuanya bisa dibegitukan. Termasuk dunia yang tidak jelas, yang gelap, yang tidak bisa dirasionalkan.
Perempuan seperti dalam Panji Sepuh, Manjali dan Calon Arang bukan hanya mengukuhkan perlawanan yang disebut-sebut oleh kaum feminis patriarki tapi mengukuhkan bahwa kekuasaan yang mau menindas dan membuat dunia dapat ditaklukkan dengan rasionalitas dan produktivitas itu selalu terbentur pada kenyataan bahwa yang gelap dan misterius, serta tubuh tidak bisa ditaklukkan.
PLAYBOY: Terdengar cukup trendi, dengan arus pemikiran feminisme?
GOENAWAN: Memang kelihatannya trendi. Tapi ternyata cocok dengan yang kita alami. Misalnya King’s Witch, kalau dalam cerita Calon Arang lazimnya, seperti yang diceritakan ulang oleh Pramoedya, dia itu nenek sihir atau dukun santet yang memberi celaka rakyat karena anak perempuannya tidak laku. Sangat memandang perempuan pada posisi yang buruk. Tidak pernah dipikirkan bagaimana Calon Arang melihat persoalan. Saya membaliknya.
PLAYBOY: Toety Heraty lewat bukunya juga menafsirkan lain, Calon Arang sebagai korban patriarki?
GOENAWAN: Tapi Toety lebih banyak melakukannya dengan esai daripada puisi. Menurut saya dengan esai kurang ada nuansa. Jadi doktrin yang dirumuskan saja, tidak dialami. Dalam King’s Witch memungkinkan kehadiran Calon Arang sebagai pribadi yang bersuara itu dialami. Karena itu bentuknya puisi bukan esai.
PLAYBOY: Apa peluang puisi dibandingkan esai?
GOENAWAN: Peluang pusi adalah dia memberi kesempatan pada hal-hal yang tidak diduga-duga, yang bertentangan sama sekali di dalam satu tubuh. Esai ada semacam garis lurus, puisi kan tidak. Dua-duanya perlu. Bahasa puitik adalah bahasa pembebasan. Esai kan sangat ketat, ada disipilin. Tidak semua pikiran bisa tertangkap. Puisi bisa menangkap yang diam, yang tersembunyi. Yang gelap.
PLAYBOY: Saya membandingkan tari lebih mirip puisi daripada esai karena lebih kaya interpretasi?
GOENAWAN: Betul. Seperti kamu lihat di King’s Witch ada orang loncat, banyak yang tidak jelas. Memang tidak perlu jelas. Sebagaimana puisi yang meditatif tidak bisa direduksi dalam satu tema, bermacam-macam tema bisa terjadi di situ.
PLAYBOY: Karena itu Anda suka pada pementasan seperti ini daripada teater lakon?
GOENAWAN: Ya. Ya. Ya. Bukan saya menolak itu. Saya sendiri sedang menulis satu naskah lakon namanya Visa. Itu adegan orang mencari visa di kedutaan besar Amerika. Agak lucu. Tapi ada banyak alusi terhadap masalah ketakutan pada yang asing, masalah identitas dan tanah air. Nadanya lucu. Masih belum selesai.
PLAYBOY: Bagaimana kondisi teater sekarang dibandingkan dulu?
GOENAWAN: Teater sudah mulai bangkit karena dasarnya tidak seperti tahun 70an ketika Rendra Putu dan Arifin dalam keadaan mekar, semangat dan bebas. Ketika TIM baru dibuka adalah zaman keemasan teater Indonesia. Ada dana dari Ali Sadikin. Ali sadikin itu orang yang luar biasa jasanya pada dunia performing art Indonesia. Selain jasanya di bidang lain.
Belum pernah dialami sehebat itu. Diberi dana, kebebasan dan tempat. Zaman itu bukan main performing art Indonesia. Dan mutunya juga bagus, mendatangkan karya-karya dari luar. Tapi begitu Tjokropranolo (pengganti Ali Sadikin.red), mati.
Pasca Ali Sadikin TIM kacau balau. Pada saat yang sama timbul industri sinteron, yang menyedot bakat-bakat yang ada. Karena tidak ada theatre company, Teater Mandiri itu cair. Karena nggak ada lalu orang-orang main sinetron, padahal bakatnya dashyat. Arifin meninggal, Rendra terlibat dalam banyak hal dan ditindas penguasa dan sebagainya.
Dulu Habibie pernah ingin membangun Kemayoran jadi pusat kesenian yang besar. Padahal sudah ada TIM. Menurut saya yang perlu, dana itu disimpan di bank dan bunganya untuk membiayai grup teater latihan. Mereka banting tulang begini apa yang mereka dapat, berapa rupiah yang mereka dapat. Pelukis sekarang bisa kaya. Kalau penari masih bisa cari obyekan dari pertunjukan. Tapi pada dasarnya yang diperlukan satu grup yang saling mendukung dalam hal intelektual dan artistik. Saya tidak begitu setuju dana untuk kesenian dihabiskan untuk mendirikan gedung saja.
PLAYBOY: Kalau di luar negeri?
GOENAWAN: Di barat sama saja. Dia New York teater yang serius begini hidupnya berat. Di sana kadang-kadang dapat grant. Tapi antrinya habis-habisan. Aktor-aktor jadi penunggu restoran, di Seattle saya lihat komponis teater jadi pelayan Starbucks. Di Jepang juga begitu. Saya lihat ada aktor kaya, kok bisa hidup. Ternyata dari orang tuanya. Jadi kalau sudah memilih hidup sebagai seniman, ditakdirkan harus hidup miskin. Ini kan suatu counter culture, perlawanan terhadap dunia mainstream yang menjanjikan, uang, kepastian.
PLAYBOY: Kalau kondisi kelompok teater belakangan ini?
GOENAWAN: Sekarang mulai bangkit lagi, seperti Teater Garasi, di Jakarta seperti Teater Kubur. Kalau ada komunitas latihan bisa konsisten. Teater itu tidak hanya pementasan. Teater juga ketika waktu tidak berpentas, bertukar ide pikiran, merumuskan cerita, mencari eksplorasi gerak. Teater terbentuk dari itu. Kalau dilihat kan mengerikan dunia teater ini, latihan berbulan-bulan untuk dua hari. Itu pun kalau ada duitnya. King’s Witch ini berapa bulan persiapan. Inilah nasib dunia pertunjukan. Itu juga yang membuat saya dekat dengan teman-teman di teater, karena mereka melakukan itu semua untuk cinta pada suatu yang tidak berguna. Dan masyarakat perlu hal-hal yang tidak berguna, teater, puisi. Kalau semua berguna celaka. Cinta tidak berguna. Bersiul nggak berguna, Bergurau tidak berguna. Anjing menggonggong tidak berguna. Banyak hal yang tidak berguna tapi dari sana hidup terbangun.
PLAYBOY: Sejak 1970an Anda sudah banyak melakukan kritik teater. Apa yang Anda lakukan ini juga bentuk kritik terhadap kebiasaan teater yang ada?
GOENAWAN: Tidak. Tapi saya pikir saya ingin menggalakkan dinamika, inovasi, yang baru dan berani dalam teater, dalam hal ini Garasi juga berkepentingan. Teater ternyata bisa lain. Beberapa bentuk teater seperti yang dibawakan Ratna Sarumpaet itu pidato, orasi. Tidak menarik. Bukan teater itu. Karena teater itu seni yang demokratis.
PLAYBOY: Demokratis?
GOENAWAN: Ya karena dalam teater tidak ada yang memonopoli kebenaran. Teater terbangun dari dialog. Teater bisa dicapai bukan dengan pidato, tapi dengan membuat teater sebagai sebuah peristiwa. Dari dulu saya menyebut teater itu peristiwa, bukan cerita, pesan dan akting saja. Totalitas dari apa yang terjadi di panggung dan di luar panggung sekeligus yang resonansinya kemana mana, dan punya dinamika sendiri. Selalu ada sesuatu yang tidak direncanakan sutradara.
PLAYBOY: Selama ini teater tidak menjadi bentuk kesenian yang bisa diapresisasi secara populis?
GOENAWAN: Bisa. Teater ketoprak bisa, ludruk dan lenong juga. Tapi ya itu karena teater dijalankan sebagai sebuah peristiwa. Selalu ada improvisasi.
PLAYBOY: Agak sulit mengkategorikan King’s Witch dalam bentuk seni pertunjukan, teater atau opera?
GOENAWAN: Dalam opera biasanya satu aktor satu karakter dia yg menyanyi mengucapkan dialog. Di sini satu aktor menjadi suatu peran dan suatu pencerita. Misalnya ada cerita mengenai ada raja berjalan, dia berjalan. Bercerita tentang raja, dia ikut jadi raja. Kedua, ini gerak tari ini dikombinasi dengan vokal, sementara yang vokal tidak bergerak, yg bergerak tidak bernyanyi. Tapi juga bukan penyanyi latar, karena membentuk dunia sendiri.
Yang lain dari King’s Witch ini pertama, dalam bahasa Inggris. Memang ditujukan bagi audiens Amerika waktu itu. Berhubung pesanan yang diterima Tony dari seorang konduktor Julliard School of Music, saya tulis untuk itu.
Seperti ini belum pernah saya lihat. Apakah ini masih disebut opera atau kita memang tidak perlu memakai nama.
PLAYBOY: Apa maksud mempertemukan legenda klasik dengan musik kontemporer dan modernitas seperti sistem mekanik dalam tata panggung?
GOENAWAN: Untuk membuat kontras. Kesenian itu paling bagus kalau unsur tidak terduga-duga menjadi penting. Di sini kan tidak terduga-duga, kok cerita Calon Arang ada perabot macam ini. Seperti pabrik ini.
PLAYBOY: Bagaimana metode penulisan libretto-nya, musik duluan atau sebaliknya?
Sebetulnya saya menulis puisi saja, kemudian Tony bikin musiknya. Nggak ada nyanyi dulu baru bikin liriknya.
PLAYBOY: Jadi musikalisasi puisi?
GOENAWAN: Iya. Musikalisasi puisi dalam artian yang sangat longgar. Kadang-kadang dinyanyikan kadang kadang ngomong.
PLAYBOY: Tentu saja Anda terlambat memasuki dunia teater?
GOENAWAN: Terlambat tapi senang. Saya hidup sebagai wartawan bertahun-tahun, senang tapi hati saya selalu pada kesenian. Cinta pertama saya kesenian. Jurnalisme juga karena penulisan. Kalau bukan karena penulisan nggak mau. Dan kedua, bisa mendatangkan uang banyak (tertawa). Kalau sekarang anak saya sudah besar, istri saya bekerja. Dia bilang biar sajalah dia jadi seniman. Jadi ditolerir. Menjadi gila yang ditolerir (tertawa).
PLAYBOY: Dalam King’s Witch kenapa tidak pakai musisi lokal?
GOENAWAN: Mereka yang ingin, ini karena usul mereka juga. Ini kan sudah dipentaskan di New York tahun 2000. Mereka merasa berutang pada Indonesia, sumber dari karya ini. Karena ini karya orang Indonesia. Mereka bilang kenapa tidak kita bawakan sebagai rasa terima kasih.
Sebenarnya rektor Julliard Schoof of Music tidak mengizinkan mereka pergi karena travel warning. Kalau atas nama Julliard mereka bertangung jawab. Mereka nekat membentuk orkes baru, Continuum Ansamble, khusus untuk ini. Tapi semuanya orang Julliard.
PLAYBOY: Anda yakin formula King’s Witch itu bisa diterima audiens?
GOENAWAN: Nggak tahu saya (tertawa). Itu tafsir Tony dan Yudi (Ahmad Tajudin, sutradara panggung.red). Saya kan cuma libretto-nya.
PLAYBOY: Teks libretto itu kan memainkan peran penting?
GOENAWAN: Iya. Saya kira tafsiran saya ingin memberi tempat pada Calon Arang dan Manjali yang selama ini tidak diberi tempat. Mungkin sudah waktunya orang diberi tahu. Kalaupun tidak menerima paling tidak orang tahu dalam setiap cerita itu ada yang hal yang dihilangkan, dan itu harus dibangkitkan lagi.
PLAYBOY: Seperti dulu Anda menafsirkan Malin Kundang?
Iya, saya menafsirkan kenapa Malin Kundang harus terikat. Jangan-jangan masalahnya bukan dia mengkhianati ibunya. Dia ingin melepaskan diri dari suatu masa lalu. Kenapa tidak boleh. Sejarah terbentuk dari pelepasan diri dari masa lalu. Kalau tidak, tidak ada revolusi.
PLAYBOY: Kenapa dalam legenda kita selalu ada yang jahat, dan harus ada yang dikorbankan?
GOENAWAN: Dimana-mana begitu. Di seluruh dunia legenda begitu. Tapi ketika didongengkan pada anak-anak menjadi cerita moral. Ajaran moral. Padahal harusnya lebih kaya dari itu.
PLAYBOY: Ajaran moral itu pasti mengabdi pada suatu kepentingan, dalam hal ini orang tua?
GOENAWAN: Betul. Betul begitu. Moralnya menjadi versi orang tua. Cerita Bawang Merah Bawang Putih, yang bagus bawang merahnya, karena baik sama orang tua. Jelas, karena maunya orang tua anak-anak patuh. Dalam setiap dongeng itu ada politik, dan kita harus membongkar itu. Selalu ada yang dilupakan. Seperti dalam Mahabarata. Saya menulis Kali di Seattle itu, dan nanti juga akan saya pakai dalam Bisma Bisma, kenapa orang tidak mendengarkan Kurawa? Kenapa kesedihan-kesedihan Kurawa tidak didengar. Mereka sudah kalah, dianggap jahat, dipikir tidak pantas didengar. Dalam Bisma Bisma nanti adegan pertama adalah Destarastra dan istrinya (Gandari.red). Dia kan buta, dan istrinya menutup matanya seumur hidup. Muncul bagaimana kengerian mereka, ketika saudara-saudaranya mati dan anak-anaknya hilang. Lihat dong orang-orang ini dikutuk beramai-ramai. Sama seperti waktu PKI dikutuk beramai-ramai.
PLAYBOY: Bagaimana rencana mementaskan Bisma Bisma dan Tan Malaka?
GOENAWAN: Bisma Bisma tahun depan, dari cerita Mahabarata, bentuknya tari setengah tradisi. Kalau umur saya panjang dan sehat, dan ada duit (tertawa). Dan ada teman-teman yang membantu. Tan Malaka cukup berat. Naskahnya belum selesai tapi desain sudah ada. Akan dibuat dalam koratorium acapella, komposisinya dari Tony.
PLAYBOY: Apa yang ingin diangkat dalam Tan Malaka?
GOENAWAN: Mungkin tentang usaha pembebasan dalam sejarah manusia. Indonesia ini begitu banyak yang dahsat, luhur, tapi banyak sekali yang tidak terpenuhi. Dalam sejarah kan selalu begitu. Dimulai dengan niat yang besar, berakhir dengan kekecewaan. Tapi bukan berarti niat yang besar itu salah. Jadi bukan riwayat hidup Tan Malaka. Saya tidak bisa bikin yang seperti itu. Mungkin beberapa passage tentang Malaka, surat-suratnya, komentar-komentarnya ada. Ini dalam bentuk koratorium. Tony yang bikin musiknya.
PLAYBOY: Anda punya rencana untuk membangun Teater Utan Kayu (TUK) yang baru di Pejaten. Sudah dimulai?
GOENAWAN: Baru minta izin, desainnya sudah selesai, dari Marco (Kusumawijaya) Cs. Mereka itu semua nggak dibayar, karena kita nggak punya duit. Mudah-mudahan bisa tahun 2008 dibuka, kalau disetujui teman-teman.
PLAYBOY: Karena Anda yang minta maka mereka tidak berani minta bayaran?
GOENAWAN: Nggak, mereka tahu saya nggak punya duit, dan ini kan bukan untuk perdagangan.
PLAYBOY: TUK lama tidak akan ditutup?
GOENAWAN: Saya akan berusaha tidak akan menutup. Yang penting ada duit untuk membikin program dan tenaganya. Kalau ada yang baru, Kita perlu kurator lain, atau yang lama dipindahkan dan TUK lama perlu kurator baru.
PLAYBOY: Karena nilai sejarahnya?
GOENAWAN: Ya TUK yang selama ini kan bersejarah. Harga sejarahnya begitu besar. Itu salah satu simpul gerakan pusat perlawanan terhadap Soeharto. Pada awalnya tempat pertemuan untuk gerakan pro demokrasi. Sebelumnya itu tempat penerbitan buku Tempo. Tempo dibredel nggak berfungsi karena dananya nggak ada. Lalu dipakai untuk ISAI (Institut Studi Arus Informasi). Lalu karena tempat itu banyak dicurigai, kita bikin teater, galeri, untuk sembunyi sebenarnya. Semacam kamuflase. Kemudian menjadi main kuat dengan sendirinya. Kamuflasenya kemudian ekfektif karena orang tahu saya juga seniman. Kalau saya aktif di politik saja, lalu tiba-tiba berkesenian kan mencurigakan.
PLAYBOY: Dana untuk membangun TUK yang baru dari uang sangat banyak yang Anda dapat dari Dan David Prize di Israel?
GOENAWAN: Yang perlu dana tidak hanya TUK. Tadinya kami berdebat. Apakah uang yang ada didepositokan lalu bunganya untuk membiayai program rutin TUK yang sekarang. Yang sekarang cukup berdarah-darah, minta dari kiri-kanan.
PLAYBOY: Apa proyeksi untuk TUK yang baru?
GOENAWAN: Sekarang ini di Jakarta dengan segala bangunan teater, tidak ada teater black box, teater rata, yang sederhana. (Posisi panggung) fleksibel, bisa penonton berkeliling atau penonton tapal kuda. Itu banyak di Amerika. Kapasitasnya cuma 200 orang. Teater yang besar itu akan menimbulkan program maintenance, dan harus mendatangkan yang laku banget. Dan yang laku banget belum tentu yang bagus. Kebetulan ada rezeki dan ada tanah, ya sudah. Teman-teman bilang kita bangun saja yang baru, juga karena ini akan mendekati pusat-pusat universitas, Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Universitas Pancasila. Dan menurut saya dunia universitas dan generasi muda akan lebih dinamis, dan berpikir bebas dari dogma dari fanatisme kalau bergulat dengan kesenian. Ide-ide yang slealu baru dan mempersoalkan doktrin-doktrin. Mudah-mudahan anak muda itu tidak hanya terlibat dalam kegiatan yang berkutat dalam dogma, doktrin dan ajaran sekolah. Dengan kesenian kita bisa menghargai ambiguitas, kontradiksi. Ketidakpastian, ketidakekalan.
PLAYBOY: Realitasnya, sistem pendidikan mengarahkan murid untuk berkacamata kuda, melupakan dunia luar?
GOENAWAN: Betul itu nggak bisa dihentikan. Tapi harus diimbangi. Saya bukan Ivan Illich yang meminta sekolah dibubarkan. Tidak mungkin. Dunia memerlukan sekolah. Tapi dunia tidak hanya memerlukan sekolah. Benar kalau dikatakan pendidikan kita terdiri dari tiga bagian, satu di sekolah, dua di rumah, dan ketiga di jalan, di antara rumah dan sekolah. Jadi 30 persen pelajaran ada di jalan. Teman saya, seorang profesor sosiologi di Singapura bercerita kalau dia mengajar, anak yang pintar banyak bertanya, kritis, mendebat. Sementara yang tidak pintar, diam saja, mencatat. Waktu ujian, yang bagus itu yang diam dan mencatat. Jadi, jangan-jangan sekolah itu bukan untuk anak-anak pintar (tertawa).
PLAYBOY: Karena itu dulu Anda meninggalkan kuliah?
GOENAWAN: Saya pilih Psikologi UI karena saya ingin belajar filsafat. Di Fakultas Sastra saya juga diterima, Sastra Perancis. Tapi tidak ada filsafat di sana. Kedua saya ingin belajar psikologi dan ketiga sosiologi. Itu semua ada di psikologi. Ketika psikotes, saya lulus. Sedikit sekali dulu yang masuk psikologi. Barangkali 17 orang.
Seleksinya pakai psikotes, fakultas lain tidak ada. Karena itu Prof Slamet Iman Santoso, dekannya, menganggap semua yang masuk psikolog jenius (tertawa). Jadi dipaksa belajar macam-macam. Bayangkan, tahun pertama belajar anatomi perbandingan, mengoperasi kodok. Itu di Kedokteran pelajaran tingkat dua. Statistik. Di ekonomi ada di tingkat dua. Filsafat, ilmu sel, ilmu jaringan. Waktu itu (Psikologi UI) baru pisah dari kedokteran, begitu banyak pelajarannya. Lalu dosennya mengajar banyak yang tidak menarik.
PLAYBOY: Terlalu eksak?
GOENAWAN: Bukan. Mendikte. Saya belajar ilmu jaringan, di laboratorium kedokteran, itu dosennya membaca terus, kita disuruh mencatat. Waktu di SMP saya dilarang begitu oleh guru saya: jangan menghafal. Harus paham. Saya disuruh menghafal, ketika membaca nggak paham saya. Kebetulan kakak saya, Kartono kan di kedokteran, bukunya banyak dari Amerika. Saya baca itu, saya paham. Buku Amerika kan mudah. Waktu ujian saya jawab sesuai buku itu, eh salah karena tidak sesuai dengan teks yang dibaca dosen. Kecewa saya. Lalu yang mengajar sosiologi seorang Belanda yang bukan sosiolog. Karena tidak ada tenaga waktu itu. Masa’ kita diberi buku, terus disuruh baca keras-keras giliran, kayak di SD. Ngibulin banget.
Ada dosen lagi mengajar ilmu gestalt, psikologi. Nggak paham saya. Padahal dia lulusan jerman. Kalau baca sendiri lebih paham. Ada asisten dosen, Anugerah Pekerti, dia menjelaskan terang sekali. Jadi gurunya menurut saya yang tidak benar.
Kemudian saya menulis juga. Banyak godaan. Mulai diterbitkan di majalah sastra. Jadi mulai besar kepala.
PLAYBOY: Fuad Hasan kan ada di sana?
GOENAWAN: Kalau Fuad Hasan mengajar baru bagus, luar biasa terang. Tapi kebanyakan dosen lain tidak. Jadinya, psikolog menjadi tukang tes. Maaf saja. Saya tidak tertarik. Saya tertarik untuk mendapat ilmunya, karena saya ingin jadi penulis. Kata HB Jassin dalam bukunya “Tifa Penyair dan Daerahnya,” kalau mau jadi penulis, harus tahu psikologi, sosiologi, harus tahu Freud, eksistensialisme. Kalau disuruh belajar yang lain-lain saya tidak tertarik.
PLAYBOY: Dari Batang ke Jakarta, memang untuk jadi penulis?
GOENAWAN: Ya. Sekolah paling baik waktu itu ya di UI karena ada psikologi dan saya mau mempelajari ilmunya. Tapi saya tidak ingin menjadi psikolog. Seperti juga, mungkin Putu Wijaya tidak tertarik untuk menjadi sarjana hukum. Dia lulus Fakultas Hukum, tapi kalau ditanya sekarang, nggak tahu apa-apa dia.
PLAYBOY: Kenapa tidak pernah menulis novel?
GOENAWAN: Saya juga penasaran. Saya kira karena saya belum bisa. Saya bikin cerita pendek saja belum bisa. Sesekali ada, untuk main-main.
PLAYBOY: Kenapa tidak bisa?
GOENAWAN: Tidak tahu. Mungkin cerita pendek bisa saja tapi novel itu butuh energi yang luar biasa.
PLAYBOY: Tapi menulis esai juga perlu energi?
GOENAWAN: Aaa ya tapi itu lebih banyak energi intelektual. Kalau novel itu energi fisik, intelektual, perasaan, dan terutama imajinasi. Saya belum berhasil menemukan tekniknya yang agak lain daripada yang lain. Bukan saya nggak mau tapi karena saya belum bisa pada umur begini. Siapa tahu pada umur 70 nanti saya bisa (tertawa). Saya harap bisa.
PLAYBOY: Pencapaian terbesar dalam dunia novel kita?
GOENAWAN: Yang terakhir ini menurut saya Ayu Utami. Pertama, karena Ayu membawakan bahasa yang sangat hidup dan konkret, tidak hanya statement-statement, tidak hanya perumusan filsafat. Tapi bahasa sehari-hari, dan juga pada saat yang sama juga bisa puitis. Kedua, eksplorasi bahasanya luar biasa. Seperti dalam Saman kita lihat nama-nama ular, nama-nama hantu itu kan jarang dipakai, dan dipermainkan begitu rupa. Kemudian deskripsi dalam novel itu, mungkin karena Ayu biasa reportase sebagai wartawan, hidup sekali. Sehingga misalnya, menggambarkan oil rig di laut begitu hidup. Karena Ayu juga melakukan riset. Keempat, ceritanya, dari empat tokoh dari cerita yang berbeda-beda dan perempuan. Kelima persoalan-persoalannya bukan hanya individu tapi juga politis. Itu terangkum semua. Dan yang terang, enak dibaca.
Mungkin dalam waktu-waktu mendatang akan banyak novelis lain yang melahirkan karya sangat baik. Nukila Amal termasuk yang akan hebat. Cala Ibi itu dari segi petualangan bahasa lebih dashyat daripada Saman. Ekperimen bentuknya juga berani.
PLAYBOY: Kalau dalam puisi?
GOENAWAN: Puisi banyak. Joko Pinurbo termasuk yang bagus sekali. Banyak nama yang tidak bisa saya sebutkan. Mardi Luhung atau dari Iswadi dari Lampung, Ari Batubara juga bagus. Kata Nirwan puisi banyak yang jelek. Tapi dari yang saya baca akhir-akhir ini di Kompas bagus-bagus.
PLAYBOY: Bagaimana kritik Saut Situmorang tentang TUK yang mendominasi festival sastra internasional?
GOENAWAN: Kalau disangka kami menguasai semuanya tidak betul juga. Misalnya festival sastra internasional kan tidak hanya yang diselenggerakan TUK tapi juga DKJ dan Rendra. Kedua, pilihan luar negeri itu tidak ditentukan oleh TUK. Dunia internasional dekat dengan TUK tapi mereka memilih sendiri. Yang kadang-kadang kami ragukan, tapi mereka memilih apa boleh buat. Ketiga, pengaruhnya apa sih. Penguasaan itu berupa apa?
PLAYBOY: Akses bagi sastrawan lain?
GOENAWAN: Kan ada banyak media di dunia, bahkan di Jakarta ini. Memang orang TUK punya peranan di Kompas maupun Koran Tempo, tapi kan tidak berarti diisi oleh orang-orang itu itu saja. Jangan lupa kalau dalam kode etik Utan Kayu itu, kalau karya anggota komunitas sendiri tidak bisa dipentaskan. Anggota komunitas tidak bisa menjadi peserta festival sastra yang diselenggarakan Utan Kayu. Seperti karya saya atau Sitok, tidak bisa diikutkan.
PLAYBOY: Bila melihat konflik seniman Lekra dengan Manifes Kebudayaan (Manikebu) tahun 60an sebagai sebuah dialektika, apa tesis baru dari sana?
GOENAWAN: Mungkin berlangsung tesis baru tapi belum dirumuskan. Apa yang bisa ditarik dari sana bahwa ide itu penting, prinsip-prinsip penting dalam berkesenian dan politik. Terutama mengenai kebebasan kreatif. Perdebatan mengenai itu dari pandangan yang berbeda sangat vital bagi kehidupan seni. Sayangnya polemik itu tidak berlangsung cukup baik dan ditutup dengan pemberangusan terhadap karya-karya Manikebu. Pemberangusan yang terjadi atas karya-karya Lekra dan pemikiran-pemikiran Marxisme sama jeleknya dengan pemberangusan terhadap karya-karya dan pemikiran Manifes. Kedua-duanya menghentikan proses pencarian pemikiran alternatif.
Manikebu itu sebetulnya suatu tesis baru yang timbul antara mereka yang berbendapat bahwa seni adalah alat untuk perjuangan politik dan di sisi lain yang ekstrim adalah seni yang tidak ada urusannya dengan politik. Manikebu mencoba memberi alternatif, memang kesenian tidak bisa diperalat, tapi bukan berarti tidak ada kesadaran proses politik selalu terjadi. Tapi (seni) harus bebas dari diperalat. Seni ekspresi perjuangan juga, tapi tidak diperalat oleh sesuatu kekuatan di luar dirinya.
PLAYBOY: Kesenian yang tidak pretensius?
GOENAWAN: Bukan soal pretensi. Yang dilawan Manikebu adalah semboyan politk sebagai panglima. Dalam arti partai politik sebagai panglima. Khususnya partai yang berkuasa. Kesusasteraan dan kesenian tidak bisa didikte oleh kekuasaan politik atau partai. Tapi tidak berarti di dalam usaha pembebasan manusia, sastra dan kesenian tidak terlibat. Sebagaimana perjuangan politik adalah usaha pembebasan, perjuangan kesusateraan juga adalah perjuangan pembebasan. Tapi tidak berarti perjuangan politik menjadi majikan perjuangan kesusasteraan. Kenapa tidak sejajar.
Dulu ada kata-kata Sitor Situmorang: revolusi mengabdi pada manusia, sastra yang mengbadi pada manusa harus mengabdi pada revolusi. Arief Budiman membantah, dia katakan kucing mengabdi pada manusia, anjing mengabdi pada manusia juga. Tapi tidak berarti kucing mengabdi pada anjing. Kenapa tidak sama-sama mengabdi. Jadi bukan masalah sasatra yang tidak mau terlibat dalam perjuangan, tapi keterlibatan itu harus bebas. Tidak didikte yang lain tapi oleh dinamika sastra itu sendiri, kebebasan pikiran dan kreatif sastrawan sendiri. Dan akhirnya terbukti sosialisme macet dan menimbulkan penindasan. Di Soviet, Cina, hasilnya setelah diterapkan rumus realisme sosialis, dunia kreatif mereka mati total. Tapi harus dicatat pemikiran realisme sosialis di Indonesia itu belum matang.
PLAYBOY: Belum matang?
GOENAWAN: Yang tertarik berteori itu cuma Pram. Itupun baru.
PLAYBOY: Tapi ada kelompok-kelompok muda seperti Taring Padi yang juga bergerak di wilayah realisme sosialis?
GOENAWAN: Saya setuju dengan prinsip Taring Padi. Dan kelihatan Taring Padi kan tidak mengbadi pada apapun, tidak ada partai yang mengontrol. Realisme sosialis yang diambil Pram dari Andrei Zhdanov itu mengabdi pada partai. Taring Padi sama dengan Manikebu sebetulnya. Berjuang tanpa komando partai. Saya menulis puisi, ya saya menulis puisi. Kalau saya berjuang politik, saya tidak akan memperalat puisi saya untuk perjuangan politik. Jadi saya tidak akan menulis puisi memaki-maki Soeharto. Tapi saya akan menulis makian pada Soeharto di tempat lain.
Saya pernah membaca sajak Ho Cho Minh itu tidak ada: “Perang, maju, ganyang.” Puisinya mengenai bulan dan hal-hal yang sederhana, dan indah. Tapi dia pemimpin revolusi sejati. (Pablo) Neruda puisinya cinta. Dia anggota partai komunis yang patuh. Picasso anggota partai komunis. Nah seandainya hidup di bawah Stalin, Neruda, Picasso itu habis.
PLAYBOY: Anda termasuk paling muda di Manikebu, tapi peran Anda sangat penting?
GOENAWAN: Iya saya paling muda. Saya dan Arief sudah menulis. Arief lebih tua setahun dari saya. Lalau majalah sastra tempat kami menulis diserang habis. Lalu dipaksa untuk mengimposisi doktrin-doktrin realisme sosialis. Saya tidak suka. Lalu kami mendorong yang tua-tua. Sebetulnya yang tua-tua itu saling berantem. HB Jassin dengan Wiratmo (Soekito) itu tidak ramah tamah. Ego masing-masing. Yang mendorong mereka berkumpul kami yang muda-muda, saya, Arief. Salim Said juga, meski waktu itu dia belum menulis. Slamet Sukiranto juga.
Gerakan itu repson dari tekanan kreatif yang menurut saya mengganggu betul. Kami kan tidak berpartai, tidak antusias dengan partai. Tapi oleh Pram, semuanya harus berpartai. Kalau tidak berarti gelandangan politik. Masa’ semua perjuangan harus lewat partai. Memang sikap antipartai bisa berhaya, saya sadari itu kemudian. Tapi kalau sastrawan menulis tanpa komando partai, itu tidak salah. Karena itu sikap saya sekarang mendukung PAN, kalau ada teman mendukung PDI-P saya anjurkan. Partai harus diperkuat. Tapi kalau menulis saya tidak mau didikte oleh partai, meski itu partai yang saya pimpin sendiri. Puisi saya tidak mau dikomando oleh perjuangan politik saya. Dalam hidup selalu perlu ada ruang yang cukup untuk hal-hal yang privat, sederhana, kecil, romantik, tidak berguna. Harus selalu ada. Tidak selamanya harus menjadi total untuk perjuangan. Itu bisa membinasakan kemungkinan-kemungkinan manusia, membinasakan yang berbeda dalam diri manusia.
Kita kan sebetulnya terdiri dari kemungkinan-kemungkinan yang berbeda. Kalau semua ditarik untuk mencapai satu hal, kepentingan partai atau dapat duit, atau dapat istri itu namanya hidup dijajah oleh tujuan. Ada seorang penyair mistik dari Jerman yang mengatakan bunga mawar ada tanpa kenapa. Kenapa harus kenapa, kenapa harus untuk apa. Kita tidak tahu untuk apa itu. Tidak semua hal bisa ditanya untuk apa. Kapitalisme maupun komunisme penuh penunggangan oleh tujuan. Saya tidak mau.
PLAYBOY: Karena itu Anda tidak ikut ketika beberapa tokoh Manikebu lain menentang Pram menerima hadiah Magsayasay, Anda juga membawa Amarzan Loebis ke Tempo?
GOENAWAN: Karena menurut saya suara mereka layak didengar, dan tulisan mereka layak dibaca. Siapa bilang tulisan Amarzan jelek? Tulisan Pram layak dihidupkan dalam khasanah sastra Indonesia. Kalau suasana represi ini diteruskan, mula-mula yang antikomunis represif, lalu yang komunis represif, akan sama saja. Kalau kita menentang represi, bukan hanya represi untuk diri sendiri. Sebab sikap antirepresi adalah merayakan perbedaan-perbedaan. Memang tidak mudah dipahami termasuk oleh teman-teman saya sendiri.
PLAYBOY: Seiring lahirnya Orde Baru, Manikebu juga keluar sebagai pemenang. Anda ingin jauh dari suara seorang pemenang?
GOENAWAN: Bukan begitu. Saya lihat orang–orang komunis sama patriotiknya dengan yang bukan komunis, sama-sama ingin membikin Indonesia lebih baik. Saya selalu teringat kata-kata Soe Hok Gie di halaman depan skripsinya: “Untuk mereka yang berjuang untuk Indonesia, di kiri maupun di kanan.”
PLAYBOY: Ayah Anda juga seorang kiri, tidak mempengaruhi Anda menjadi pelaku doktrin kiri?
GOENAWAN: Iya, Bapak saya seorang kiri. Saya terlalu kecil waktu itu untuk mengerti. Kakak saya, Kartono, cerita dalam perpustakaan bapak saya itu Karl Marx isinya. Dia aktivis politik, pelopor kemerdekaan. Dia dibuang ke Digul bersama ibu saya. Pulang, tahun 1945, Belanda datang dia ditangkap, ditembak mati. Saya umur lima tahun ketika itu.
Kalau ibu saya meninggal cukup tua. Setelah bapak saya meninggal ibu harus berjuang karena kami harus sekolah. Bagi orang tua kami, apapun dikorbankan untuk sekolah.
PLAYBOY: Apa yang berbeda dari dinamika pelaku kesenian sekarang dibandingkan saat Anda masih muda?
GOENAWAN: Anak sekarang lebih pintar-pintar. Banyak eksplorasi, kontak ke luar negeri. Saya lihat seni rupa kita maju pesat. Beberapa prosa dari anak-anak muda yang saya baca di Koran Tempo, pengenalannya pada dunia sastra luas sekali. Tidak ada di zaman saya. Generasi sekarang bahasa asingnya lebih bagus dan rajin membaca. Zaman saya, yang mungkin serious membaca hanya Arif Budiman dan saya. Kalau Sapardi dan Rendra itu di atas saya, mereka juga pembaca serius. Generasi 45 bahasa asingnya bagus, generasi setelah itu bahasa asingnya agak berantakan. Memang ada pengecualian seperti Rendra.
Saya kagum pada Rendra. Sebagai penyair, kekuatan inovatifnya pada tahun-tahun itu belum tertandingi, mungkin sampai sekarang. Tapi sekarang, ada Sutardji (Colzum Bahri) yang juga inovatif. Pada generasinya, Rendra tidak ada yang mengalahkan. Beberapa puisinya sampai sekarang kekal, seperti Nyanyian Angsa, Khotbah.
PLAYBOY: Dia juga banyak menulis jargon?
GOENAWAN: Iya memang kemudian dia banyak menulis pamflet, jargon. Dan kadang-kadang seperti khotbah. Capek dengarnya. Tapi saya pernah mendengarkan dia membaca puisi yang belum pernah dipublikasi di Magelang. Rekaman perasaan sewaktu dia sakit. Bagus sekali, dan cara dia membacakan puisi… wah. Ajaib kalau Rendra membaca puisi.
Kalau anak-anak sekarang, luar biasa. Lebih mengagumkan, lebih asyik. Saya senang bergaul dengan yang muda-muda. Karena dari mereka saya belajar banyak.
PLAYBOY: Anda pasti sedang merendah?
GOENAWAN: Ini bukan sok merendah hati. Betul. Omong kosong kalau saya tidak belajar dari mereka. Saya belajar soal posmodernisme, dari Nirwan (Dewanto), (Ahmad) Sahal, lalu saya pelajari sendiri. Sebelumnya saya cuma tahunya eksistenasialisme, marxisme tok.
PLAYBOY: Kalau wacana poststrukturalisme?
GOENAWAN: Iya itu juga baru saya pelajari. Bahwa saya cepat mempelajarinya karena saya terlatih dalam filsafat. Dan untungnya bahasa asing saya lumayan. Tanpa anak-anak muda, saya akan seperti orang-orang seusia saya, tidak bunyi. Berbahagia sekali saya banyak bertemu anak-anak muda cemerlang.
PLAYBOY: Filsafat apa yang mencerahkan Anda pada awalnya?
GOENAWAN: Mungkin pertama kali itu, Freud. Saya baca waktu SMP, dari bahasa Inggris. Kalau Kartono sudah banyak baca dari SD, dia banyak diajari kakek saya. Saya nggak terlalu kecipratan. Freud membuat banyak hal yang kaku dan beku menjadi terguncang dengan idenya tentang alam bawah sadar, tubuh sebagai sebuah ungkapan besar. Orang selalu salah, Freud hanya bicara tentang seks. Tidak. Marx juga. Zaman 60an itu semua orang harus belajar Marxisme. Saya juga membaca dari Lenin, Marx, Engels, Mao Tse Tung. Dan dulu buku-buku yang mudah didapat kan dari Soviet. Saya juga punya teman yang baik seperti Wiratmo Soekito yang buku-bukunya tentang Marxisme bagus bagus. Aneh ya.
PLAYBOY: Setelah Marxisme?
GOENAWAN: Kemudian eksistensialisme, yang sempat menjadi mode, dibaca orang. Albert Camus memang menarik. Setelah tahun 80an saya semakin banyak mengerti yang baru dan cocok. Saya banyak cocok dengan (Jacques) Derrida. Kemudian sekarang Ernesto Laclau. Dia pemikir politik dari Argentina, bekas aktivis gerakan buruh.
PLAYBOY: Karena Laclau juga tidak jauh dari tradisi Marxis?
GOENAWAN: Dia punya teori sejarah dan politik yang menurut saya cocok. Laclau ini dengan seorang perempuan Chantal Mouffe meneruskan tradisi (Antonio) Gramsci. Jadi kembali-kembalinya masih pengaruh Marx dan Freud masih kuat dalam pikiran saya.
PLAYBOY: Anda juga banyak memperbincangkan Jacques Lacan, karena benang merahnya masih dari Freud?
GOENAWAN: Ya, kesukaan saya pada Freud dilanjutkan dengan keterpikatan saya pada Jacque Lacan. Di luar itu semua ada masalah agama, mistik, Iqbal, pemikiran-pemikiran baru agama dan sufisme.
PLAYBOY: Untuk melihat kesenian, jalan filsafat mana yang Anda suka?
GOENAWAN: Heidegger. Dia banyak pengaruh dari Derrida. Untuk memahami puisi, saya suka dengan Heidegger.
PLAYBOY: Kenapa?
GOENAWAN: Heidegger punya filsafat yang meletakkan, saya, Anda, sebagai bagian dari dunia kefanaan, bagian dari alam, tidak manusia sebagai pusat. Manusia sebagai pusat itu akhirnya menjadi penakluk alam, juga penakluk orang lain. Sejarah yang kita pelajari menunjukkan pada akhirnya mereka terbentur pada kegagalan.
PLAYBOY: Kalau kita semua filsuf, apa proyek filsafat Anda?
GOENAWAN: Pembebasan mungkin.
PLAYBOY: Saya masing ingat ketika di Ubud ada seorang penulis dari Austria yang mempertanyakan keheranannya ternyata orang Indonesia seperti Anda yang bisa membicarakan filsafat seperti Heidegger, Lacan dengan lancar. Sebagai yang sering terlibat dalam forum intelektual di luar negeri, Anda sering mengalami itu?
GOENAWAN: Iya (tertawa). Mereka heran kenapa kita biasa membicarakan Heidegger, Gramsci, Derrida sambil ketawa-tawa. Fun. Jangan anggap enteng Indonesia lah. Saya ini kesel kalau Indonesia dianggap enteng. Tapi kalau orang menguji Indonesia kita pura-pura kalem saja.
PLAYBOY: Mereka menganggap kita masih rimba belantara yang perlu ditaklukkan?
GOENAWAN: Betul. Kalau tidak, (kita) harus cocok dengan pandangan mereka tentang kita. Lihat saja musik Tony Prabowo. Banyak orang barat tanya, kok bukan gamelan. Saya pernah ceramah di luar negeri, mengutip Heidegger. Ada yang tanya, kenapa tidak mengutip puisi Indonesia? Dijawab oleh dosennya: “Lah, dia senang kok.” Mereka senang mematok kita, bahwa orang Jawa harus mewakili kejawaan.
PLAYBOY: Pram dengan lantang menolak kejawaannya.
GOENAWAN: Itu bagus. Saya suka Pram bilang itu. Tidak boleh dipatokkan orang dalam satu suku. Suku itu apa sih?
PLAYBOY: Konstruksi sosial ya?
GOENAWAN: Itulah bagusnya kita belajar poststrukturalisme. Semua itu konstruksi sosial politik. Dan memang betul kan.
PLAYBOY: Anda ikut menyusun platform PAN. Partai itu ingin menggabungkan potensi intelektual Islam modern dengan kaum liberal. Itu bisa terjadi?
GOENAWAN: Akhirnya memang tidak berhasil. Dari awal sudah banyak kompromi dan kemudian semakin banyak kompromi di dalamnya. Apa boleh buat, PAN memang begitu. Saya sabar aja.
PLAYBOY: Bagi Anda mengombinasikan dua kekuatan itu proyek yang menarik?
GOENAWAN: Penting. Bukan harus menarik. Karena partai saya sebenarnya saya tidak tertarik. Tapi terpaksa, karena memang harus lewat saluran itu. Kalau tidak salah, (Jimmy) Carter, dia orang Kristen yang baik, mengatakan politik itu tugas sedih. Dan memang sedih.
PLAYBOY: Bagaimana metode anda menulis Catatan Pinggir, sejak dari penemuan tema sampai eksplorasinya?
Kadang-kadang dipicu persitiwa yang terakhir. Lalu saya memikirkan lebih lanjut, dan sedapat mungkin saya menyajikan sesuatu yang belum dilihat. Tapi kalau nggak ada peristiwa, saya harus cari ide sendiri. Lebih banyak tergantung pada suasana hati saya, kesibukan pikiran dan kecapekan, semangat atau kemarahan saya. Tidak pasti, meskipun rutin.
PLAYBOY: Kalau sedang di luar negeri, tapi Anda ingin mengutip dari suatu buku yang pernah Anda baca. Anda memang mengingatnya?
GOENAWAN: Kalau perlu bukunya, ya beli. Tiap minggu (menulis Catatan Pingir) itu sebenarnya perjuangan berat (tertawa). Saya melakukannya kadang-kadang dengan kebanggaan, dengan kesombongan, kadang karena dorongan kesal pada keadaan, sedih. Kadang-kadang saya mengutuk, kenapa ini saya lakukan terus-menerus.
PLAYBOY: Kutukan?
GOENAWAN: (tertawa) Semacam karma. Tapi ya kalau tulisannya bagus saya senang. Kalau tidak bagus saya mencoba melupakannya.
PLAYBOY: Kenapa Anda berpikir esai yang baru Anda kerjakan tidak bagus?
GOENAWAN: Tergesa-gesa. Saya membutuhkan lima jam untuk menulis.
PLAYBOY: Lima jam?
GOENAWAN: Lima jam nonstop. Saya tidak tidur, tidak makan. Itu kan menyiksa.
PLAYBOY: Tidak pernah dalam satu jam?
GOENAWAN: Tidak bisa. Paling cepat tiga jam. Saya mengalami masalah kalau meninggalkan tulisan yang belum jadi untuk tidur atau makan. Tidak tentram. Ada teman yang pernah tinggal dengan saya di Amerika bilang, sebenarnya saya tidak bisa menjadi penulis, masa’ tiga hari tiga malam tidak tidur. Tidur saya jadi kacau. Karena itu orang susah tidur dengan saya, termasuk istri saya. Karena jam tiga pagi saya bisa bangun untuk menulis. Sampai jam 8.
PLAYBOY: Apa judul catatan Pinggir menurut Anda yang terbaik?
GOENAWAN: Belum ada. Kadang setelah menulis saya menganggapnya sangat baik, tapi minggu berikutnya rasanya kok jelek ya. Sekarang karena ada Tempo versi Inggris dan online saya lebih bisa memperbaiki. Lalu saya kirim lagi. Kadang berulang-ulang saya tulis, sehingga redaktur bahasa sering kesal, “mana nih yang mau dipakai?” Setelah saya kirim saya bilang versi terakhir: “Final!” Tapi setelah dimuat, celaka ada yang salah. Untuk versi online dan Inggris sering saya perbaiki. Mungkin ada satu penyakit saya, dalam soal ini, saya obsesif. Untuk perfect. Dan itu menyiksa sebenarnya. Harusnya rileks saja ya. Habis itu kan dilupakan orang juga.
PLAYBOY: Catatan Pinggir tentang Sukardal, masih banyak yang membicarakannya karena menghidupkan kisah bunuh diri tukang becak. Dia bukan siapa-siapa dan kejadian itu sudah sangat lama.
GOENAWAN: Begitu ya? Saya tidak menyangka akan begitu. Kalau kamu tertarik, kamu harus menuliskan ulang tentang Sukardal. Bagus kalau cerita itu masih hidup.
PLAYBOY: Kalau menulis puisi?
GOENAWAN: Juga begitu. Makanya puisi saya sedikit. Tidak produktif seperti teman-teman lain. Mungkin karena itu saya tidak berani menulis novel, seperti perjalanan bunuh diri ya. Baru satu chapter, bisa saya ulangi berkali-kali. Nggak bakal jadi-jadi.
PLAYBOY: Dari karya esai Anda terlihat Anda seorang yang ragu-ragu?
GOENAWAN: Mungkin betul, dalam arti saya tidak mudah untuk memberikan penilaian tentang hidup dan manusia lain. Karena memang kompleks. Saya tidak punya sikap yang cepat menghakimi. Karena saya selalu terbentur pada kenyataan bahwa saya terbatas juga. Dan tugas tulisan bukan memberikan kepastian tapi justru menggugat kepastian. Mempersoalkan kepastian sehingga orang selalu menjelajah untuk menemukan kemungkinna-kemungkinan baru dari segi-segi yang tidak terlihat. Apa yang saya pelajaran dari dekonstruksi, misalnya, adalah bahwa yang lain yang tidak terlihat, yang terepresi itu selalu penting. Mungkin saya terlihat ragu-ragu karena saya selalu memberikan kemungkinan bahawa yang tak terlihat itu ada dan luput oleh kita.
PLAYBOY: Anda ingin menghindari kepastian karena tak ingin menjadi dogma?
GOENAWAN: Betul. Suatu kepastian bisa menjadi dogma, apalagi yang diutarakan oleh pengarang. Karena pengarang sering dianggap sebagai pujangga, pemberita terakhir kearifan. Pelajaran dari Freud penting karena ternyata dalam diri pengarang ada hal-hal yang dia tidak sadari.
PLAYBOY: Mungkin karena itu Anda masuk ke wilayah puisi, bukan novel?
GOENAWAN: Betul. Kalau menulis filsafat, filsafat saya juga diganggu oleh puisi saya. Ignas Kleden pernah menulis Catatan Pinggir banyak diberi bumbu puitik. Bagi saya bukan bumbu, bukan hiasan. Puisi adalah keniscayaan dari bahasa yang mencoba menangkap kehidupan dengan segala kegelapannya. Bahkan banyak gema-gema yang tidak selamanya cerah yang hidup di dalam puisi. Tidak berarti memperindah-indah. Hanya mengganggu yang lurus dan konsep-konsep yang sudah beku. Saya kira ada baiknya pemikiran yang konseptual itu terganggu oleh puisi.
PLAYBOY: Anda dikabarkan dekat dengan banyak perempuan?
GOENAWAN: Apa yang kamu dengar gosip tentang saya dan perempuan-perempuan muda itu?
PLAYBOY: Cukup banyak, untuk pria yang usianya lebih tua dari republik ini.
GOENAWAN: Saya dilahirkan di keluarga yang lebih banyak perempuan. Mudah bagi saya dekat ke perempuan. Tentang saya banyak gosip. Saya anggap gosip setengah menyenangkan dan setengah menjengkelkan.
PLAYBOY: Apa bagian yang menyenangkan dan apa yang menjengkelkan?
GOENAWAN: Digosipkan kan keren. Kayaknya saya jagoan. Menjengkelkannya, kadang-kadang berlebihan dan destruktif bagi orang lain. Tapi pada dasarnya saya memang suka flirt.
PLAYBOY: Kenapa?
GOENAWAN: Karena menurut saya itu asyik aja. Seperti berdebat, seperti main pingpong. Tapi bayangkan sesibuk saya ini masa’ digosipkan pacaran dengan begitu banyak orang. Mana ada waktu saya. Selalu kan, orang sedikit terkenal ada gosip mengenai seks. Selalu. Pak Harto begitu. Menurut saya kebanyakan (gosip) tak masuk akal, tapi orang senang. Gosip itu bumbu percakapan, meski kadang kebanyakan. Saya juga suka bergosip. Jadi saya mengerti bagaimana gosip bekerja atas saya. (tertawa) Biar sajalah. Apalagi pekerjaan yang sekarang, itu tujuh penari cantik-cantik.
PLAYBOY: Goenawan Mohamad mungkin figur yang menarik bagi banyak wanita?
GOENAWAN: Saya? 65 tahun? Yang benar saja. Sudah tua. Kamu yang banyak orang tertarik, saya nggak. Saya harap begitu, tapi nyatanya nggak (tertawa).
Menurut kamu begitu? Senang saya mendengarnya (tertawa).
Thursday, July 06, 2006
Bangsa Penenggak Arak (1)
(diterbitkan di majalah Playboy edisi Juni 2006 dengan judul "Generasi Penenggak Arak." ini versi asli sebelum disunting.)
Bangsa Penenggak Arak
Dari Kapten James Cook sampai Shaggy Dog memuji tradisi minuman memabukkan di Nusantara.
17 September 1770. Awak kapal “Endeavour” girang sumringah. Di ujung pandangan menyembul sosok pulau kecil permai. Sudah lama mereka menanam harap bersua pulau semacam Tahiti, daratan indah dan subur yang mereka tinggalkan setahun sebelumnya.
Letnan Satu James Cook, sang kapten, jauh lebih girang. Tak tercantum Pulau Sawu dalam peta pelayaran kapal Endeavour. Kalau benar itu pulau baru, akan menambah panjang daftar daratan temuan Cook. Sejak melepas sauh dari Pantai Britania 27 Mei 1768, mereka telah menemukan Tahiti serta Selandia Baru. Temuan terbesarnya adalah Australia pada April 1970.
Raja George III yang mengirim Endeavour. Misinya sampai di Tahiti sebelum bulan Juni 1969 untuk meneliti fenomena astronomi Transit of Venus. Mencari ukuran tata surya adalah kepingan puzzle yang paling membuat penasaran dunia pengetahuan abad ke-18. Ketika itu baru diketahui ada enam planet yang mengitari matahari -Uranus, Neptunus dan Pluto belum ditemukan.
Ekspedisi Cook seolah misi luar angkasa. Tak hanya itu. Di kapal itu membonceng sejumlah orang sipil yang dipimpin Joseph Banks. Pria 25 tahun ini kaya raya, kegemarannya menyelidiki alam. Dengan antusiasme Abad Pencerahan, Banks dan anak buahnya mengumpulkan dan mendokumentasi temuan tumbuhan baru serta binatang selama pelayaran. Mereka juga mencatat situasi antropologis dan budaya yang mereka temui.
Setelah mengitari Australia, Endeavour melanjutkan muhibah ke arah barat. Di bulan Juni, Endeavour sempat mengurangi 50 ton muatan untuk menambal bocor lambung kapal yang mencium karang. Papua Nugini sudah mereka singgahi, tapi mereka belum mendapat cadangan makanan baru.
Awak kapal mulai terserang penyakit. Tubuh manusia hanya mampu menyimpan kebutuhan vitamin C selama enam minggu. Awak Endeavour menjadi kelinci percobaan Angkatan Laut Inggris dalam melawan momok hidup lama di laut: kudis, sariawan dan pendarahan – yang membuat kapal-kapal di abad ke-18 kehilangan separuh awaknya. Cook membawa sejumlah makanan percobaan seperti acar kubis dan rendaman kecambah gandum. Bila ada awak kapal yang menolak, dicambuk.
Selama empat bulan di laut, awak Endeavour merindu makanan segar. Savu, begitu Cook menyebut gugusan di Nusa Tenggara Timur itu terlihat dipenuhi pohon lontar dan kelapa. Endeavour melempar sauh di pantai utara Pulau Sawu. Tak lama kapal itu disergap perahu berisi sekitar 20 lelaki bersenjata parang. Cook diajak menghadap Ama Doko Lomi Djara, penguasa Seba, salah satu dari lima kerajaan di Sawu.
Bukan perlakukan kasar yang mereka terima di daratan. Cook dan sejumlah awak penting Endeavour justru dijamu makan Ama Doko. Sajiannya daging kambing bakar dan minuman keras berasa manis yang mengalir tiada henti. Minuman itu dideres dari pohon jangkung yang memenuhi daratan awu. Cook mulai doyan rasa tuak lontar.
“Air itu manis, segar dan rasanya aneh,” tulis Cook dalam catatan perjalanannya.
Ternyata kerajaan di Sawu sudah mengikat perdagangan dengan VOC. Ada Christian Joseph Lange, wakil perdagangan VOC yang sudah tinggal di Sawu sejak tahun 1956. Keberadaan Lange akan menghambat usaha Cook untuk membeli kebutuhan kapalnya di Sawu.
Cook seorang petualang sekaligus diplomat ulung. Dia paham membalas penyambutan yang meriah itu dengan elegan, sekaligus mengurangi intervensi Lange dalam urusan jual beli dengan orang Sawu. Cook menghadiahkan Raja Ama seekor biri-biri Inggris, satu-satunya sisa cadangan hewan potong di Endeavour. Awak Endeavour pun bisa membeli sejumlah kambing, babi, kerbau dan unggas dari penduduk. Cook memimpin pembelian ini dengan gaya diplomat dan amat mengesankan penduduk setempat.
Dimana-mana, awak Endavour mendapat suguhan tuak. Minuman nikmat yang mudah diambil dari alam Pulau Sawu. “Dengan memotong ujung dahan berbunga, lalu menempatkan wadah daun lontar kecil untuk menampung tetesan yang akan dikumpulkan oleh pemanjat setiap pagi dan sore,” tulis Cook tentang cara orang Sawu mengambil tuak.
Hari berikutnya lagi-lagi Cook dijamu masyarakat Sawu. Rombongan duduk bersila di atas tikar, menghadap 36 sajian lezat yang sampai-sampai tak sanggup mereka habiskan.
Selama tiga hari berinteraksi, Cook menyadari peran penting pohon lontar dalam kehidupan masyarakat Sawu. Sydney Parkinson merasakan hal sama. Dia pelukis yang mendokumentasikan muhibah Cook dari tahun 1768-1771. Selama di Sawu, Parkinson menggoreskan sketsa sebuah rumah kepala desa. Di belakang rumah, seorang pria bertelanjang dada memanjat pohon lontar, menyandang dua wadah bundar untuk menampung hasil deresan nira.
Di bawah sketsanya, Parkinson menulis: “A chief house in Savu, near Timor”.
Diplomasi yang diwarnai nikmatnya menenggak tuak membuat Cook berhasil membeli bahan pangan dan ternak yang dibutuhkannya. Meski tidak bisa mengklaim diri sebagai penemu pulau Sawu, Endeavour sukses bermuhibah ke arah barat, menepi di Batavia pada 11 Oktober. Untung saja di Sawu Cook mampir minum.
***
“Urip mung mampir ngombe, karena itu kita suka minum,” kata Heru.
Heru anak Jogjakarta. Bisa banyak interpretasi dari idiom yang diucapkan vokalis band Shaggy Dog itu. Idiom itu menggambarkan kesederhanaan cara pandang orang Jawa terhadap hidup yang laksana singgah di warung minum. Karenanya persinggahan itu harus dijalani dengan kepasrahan, sebelum melanjut ke perjalanan berikut.
Shaggy Dog memainkan musik ska yang berfusi dengan reggae, rock and roll, dan jazz. Sempat banyak band ska yang mencuat sejak aliran ini trend di tahun 1997. Tapi tak banyak yang ‘mampir’ di blantika musik nasional selama Shaggy Dog. Mereka sudah menelurkan tiga album, dan beberapa kali masuk dalam album kompilasi. Hampir selalu Shaggy Dog menjadi band di penghujung gig ska atau reggae. Itu menandakan peringkat daya tarik mereka. Belum lama, anak-anak Shaggy Dog menggelar tur ke Belanda untuk kedua kalinya.
Bila hidup adalah mampir minum, lewat lagu Di Sayidan, Shaggy Dog mengajak mampir ke sebuah kawasan di Jogjakarta.
Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan
Teman-teman riang menunggu di Sayidan
Begitu petunjuk Shaggy Dog dalam Di Sayidan, lagu pamungkas mereka dari album “Shaggy Dog” yang dirilis tahun 2000. Lagu itu telah menjadi anthem, yang wajib mereka mainkan di panggung. “Dari Aceh sampai Papua tahu lagu itu,” kata Heru.
Relasi awal mereka adalah “teman minum”, bersama mereka banyak membunuh waktu di Sayidan. Tak ada yang istimewa dengan kampung di bantaran Kali Code itu. Gangnya sempit, mayoritas penghuninya bekerja di sektor informal. Sayidan jadi tersohor berkat Shaggy Dog. Kampung itu pun sering kebanjiran musafir dari lain kota. Kalau tidak bisa bertemu dengan anak-anak Shaggy Dog, para pendatang cukup puas bisa mencicipi air kedamaian yang disebut dalam Di Sayidan.
Mari... Sini... berkumpul kawan
Dansa... Dansa... sambil tertawa
Di Sayidan, di jalanan
Angkat sekali lagi gelasmu kawan
Di Sayidan, di jalanan
Tuangkan air perdamaian
Air perdamaian yang mereka maksud adalah lapen, minuman beralkohol khas Jogja. Lirik awal Di Sayidan yang ditulis Bandizt, sang pembetot bass, sebenarnya menceritakan kandungan lapen. “Lirik awalnya itu, ‘Diramu dari buah-buahan, dijadikan minuman, untuk mabuk-mabukan.’ Hardcore banget,” kata Heru tertawa.
“Kenapa diubah?” tanya saya.
“Aku edit, diperhalus untuk tujuan yang sama, supaya bisa menembus mainstream,” balas Heru.
Bagi saya Di Sayidan punya semangat yang sama dengan Gaudeaumus, lagu civitas academica atau Lisoi milik masyarakat Batak Toba. Gaudeaumus adalah drinking song, mengajak menikmati hidup, selagi muda.
Jangan kau takut pada gelap malam
Bulan dan bintang semuanya teman
Tembok tua tikus-tikus liar
Iringi langkah kita menembus malam
Shaggy Dog punya peran membuat lapen tersohor sampai ke luar Jogja. Di kalangan tertentu, lapen jadi oleh-oleh yang wajib dibawa dari kota gudeg, bukan bakpia pathok.
Tak sulit mencari lapen, penjualnya menyebar di penjuru Jogja. Rasanya beragam, ada strawberry, mocca dan mint. Di daerah terban ada angkringan lapen “melon chaos.” Dari namanya sudah jelas rasanya. Di Sosrowijayan ada lapen rasa kopi, persis kahlua. Kahlua brand ternama untuk likor yang dibuat dari kopi Meksiko terbaik, alkohol tebu dan vanila. Ada juga lapen yang dicampur telur dan jamu penambah tenaga.
“Bisa bikin ereksi sampai pagi.” Heru tertawa.
Karena berasa buah, lapen mudah dinikmati. “Rasanya nggak begitu keras, sesuai dengan makanan Jogja yang manis, pas buat sambil ngobrol,” kata Heru.
“Dan murah,” timpal saya.
“Ya murah. Tapi ngantem dari belakang,” kata Heru.
‘Belakang’ maksud Heru adalah tengkuk, bagian tubuh yang akan terasa terjotos kalau tak mawas diri menenggak lapen.
Efek lapen memang menjotos. Tapi jotosan itu menjadi berkah bagi Sakti Darwinto, penjual lapen di Sayidan yang menjadi tongkrongan anak-anak Shaggy Dog. “Sekarang Pak Seti jadi lebih kaya dari kita,” canda Heru.
Seti panggilan akrab Sakti. Dia mulai menjaja lapen sejak tahun 2000. “Awalnya saya cuma ikut-ikutan, diajak teman. Tapi setelah pikir-pikir, saya ingin buka sendiri,” terang Seti.
Lokasi warung Seti di Jl. Brigjen Katamso, di depan SMP Maria Immaculata. Lalu lintas Brigjen Katamso cukup padat, arah selatan menuju pantai Parangtritis, ke utara pusat kota.
Awalnya Seti menjual paling banter 10-20 liter per malam. “Dalam waktu setahun lagu Shaggy Dog terkenal, teman-teman mereka pindah nongkrong ke tempat saya. Dari luar kota juga banyak yang datang,” kata Seti.
“Sejak lagu Di Sayidan ngetop, sehari berapa liter terjual?” tanya saya.
“Bisa 30 liter, kalau malam minggu 60 liter,” jawab Seti.
Seti menjual lapen Rp 10.000 per liter. “Kalau teman lama Rp 8.000,” kata dia.
Seti menganggap semua pelanggannya sebagai teman, bedanya pada teman lama atau teman baru. Usianya 47 tahun, tapi lancar bersenda gurau dengan pengunjung yang rata-rata bersebaya dengan anaknya. Tubuhnya tegap, rambutnya cepak. Di siang hari Seti berprofesi sebagai petugas keamanan di pertokoan.
“Lapen dibuat sendiri? Apa bahannya?”
“Alkohol 96 persen dengan CMC. Semuanya yang kualitas nomor satu,” kata pria 47 tahun itu.
“CMC?” Saya menimpali.
“Itu bahan untuk bikin roti, untuk mengentalkan adonan. Semua bahan direbus sampai mendidih, dibiarkan dingin sampai seharian, terus dicampur dengan esens,” terang Sakti.
Dulu Seti memakai beragam esens, rasa mocca, melon, strawberry dan menthol. Dia juga menjual lapen jamu yang menurut Heru bisa membuat ereksi sampai pagi. “Saya pakai jamu produksi Cilacap, namanya serbuk super. Tapi sekarang cuma jual yang rasa mocca,” kata Seti.
“Kenapa cuma mocca?” tanya saya.
“Tahu suasana lah, istilahnya sekarang ini sedang gerobyok. Tempat saya bisa digaruk, kadang-kadang yang minum kena juga. Sekarang nggak ada yang nongkrong, saya larang.”
“Kalau mau beli lapen?”
“Beli di rumah saya, tapi nggak minum di warung,” kata Seti.
Sejak awal tahun 2005, Pemerintah Kota Jogjakarta memberlakukan Perda anti penyakit masyarakat (pekat). Akibat perda itu warung lapen kerap dirazia. Kini di warungnya Seti menjajakan menu tongseng, ayam bakar, pecel lele dan mie goreng.
Penjual lapen lain berdagang sembunyi-sembunyi. Tapi warung lapen di Pajeksan, jalan yang bersiku dengan Jl Malioboro, seperti tak terpengaruh. Sebuah plang tripleks menerangkan jam operasinya: “Buka 18.00-23.00.” Saya datang sekira pukul 23.00, masih ramai anak muda nongkrong di sana.
Sesekali membuncah tawa meriah. Mereka duduk berkelompok, sebagian di atas tikar yang digelar di emperan toko. Sebagian lagi di kursi kayu panjang yang disusun di mulut sebuah gang. Di mulut gang itu ada sebuah meja kecil untuk kasir, lebih ke dalam lagi ada dua lemari. Tak terlalu besar ukurannya, di raknya tersusun sejumlah sloki, ceret dan bungkusan plastik menampung cairan berwarna coklat serupa teh dan merah jambu. Masing-masing bervolume 1 liter. Untuk pembeli yang tak ingin minum di tempat. Inilah warung lapen paling legendaris di Jogja.
Dasmadi yang biasa disapa Jas memulai sejarah lapen 12 tahun silam. Pada masa itu, dia termasuk punggawa Komunitas Pemusik Jalanan Malioboro (KPJM). Menjelang dini hari, para pengamen Malioboro biasa nongkrong di emperan toko.
“Dulu Malioboro nggak tidur, Mas. Sekarang padat karena mobil. Pengamen yang menjaga Malioboro tetap aman, jalan kaki jam tiga pagi juga aman,” kata Jas.
Sembari ngobrol, para penjaga Malioboro menenggak aneka minuman, dari jamu pelepas lelah sampai yang beralkohol.
“Lama-lama kepikiran gawe ndiri wae. Coba-coba nyampur minuman, dan teman-teman bilang enak. Coba didol wae,” kata Jas.
Menurut Jas, pada prinsipnya lapen adalah jamu. Bahan-bahan seperti daun ketela, adas kulowaras (sejenis akar-akaran), dan beberapa rempah-rempah lain ditumbuk dan dicampur. Lalu difermentasi dengan rasa. “Jadi sebenarnya ini jamu anak muda, tapi ada penghangatnya,” kata Jas.
“Alkoholnya jadi berapa persen?”
“Di sini alkoholnya biasa-biasa saja, 12-15 persen. Tapi kalau diminum lebih dari target pasti mabuk,” kata dia.
Jas berkongsi dengan lima kawannya. Tujuan awalnya untuk membiayai komunitas, kalau ada untung sedikit baru dibagi. Air kedamaian itu dijual dari tangan ke tangan. Permintaan semakin banyak, Jas dan teman-temannya perlu tempat tetap. Sebuah mulut gang di Pajeksan dipilih. Pelan tapi pasti, warung lapen Jas kian tersohor. Warung-warung lapen lain bermunculan di Jogja.
“Tapi massanya beda-beda,” kata Jas. “Kalau di sini kebanyakan anak muda, terutama yang bergerak di kesenian.”
Kata Jas, kalau pun tak minum, banyak yang datang ke Pajeksan untuk bertemu komunitas seni di Jogja. Tidak hanya para pemusik, tapi juga penari, pelukis dan pemain teater. “Biasanya kalau mau ada acara, menyebarkan undangan dari sini. Kalau mau lihat akan ada apa acara kesenian di Jogja, poster dan pamflet selalu penuh di sini. Banyak seniman dari luar kota selalu mampir ke sini kalau ke Jogja,” kata Jas.
“Siapa saja?” tanya saya.
“Sawung Jabo, Oppie Andaresta. Mereka kalau ke Jogja pasti main ke sini, silaturami. Sudah ada empat generasi seniman yang suka nongkrong di sini,” kata Jas.
“Empat generasi?”
“Yang pertama itu generasinya Umbu. Lalu Jabo, Sapto Raharjo, Djaduk (Ferianto) dan Butet (Kertaredjasa), lalu generasi Oppie. Berikutnya generasi Duta (Sheila on 7) dan Heru (Shaggy Dog),” kata Jas.
Umbu Landu Paranggi dijuluki “Presiden Malioboro.” Lewat Persada Studi Klub (PSK) yang dia dirikan tahun 1969, penyair yang kini ‘menyepi’ di Bali ini menjadi pengasah bakat sejumlah penyair Jogja seperti Emha Ainun Najib dan Linus Suryadi AG. Di Bali, Umbu menjadi guru bagi Oka Rusmini, Raudal Tanjung Banua, dan Tan Lioe Ie. Djaduk Ferianto dan Butet Kertaredjasa adalah anak maestro tari Bagong Kussudiardjo. Yang pertama menggeluti teater, sementara yang kedua bergerak di musik alternatif. Sapto dikenal sebagai pemusik kontemporer yang memadukan gamelan dengan elektronika. Pengasuh radio Geronimo Jogja ini penggagas proyek Yogayakarta Gamelan Festival yang mempertemukan seniman gamelan sedunia.
“Sekarang di Jogja penjual lapen sembunyi-sembunyi karena banyak razia,” kata saya. “Tapi kenapa di sini aman-aman saja?”“Saya bisa menjamin jangan sampai menimbulkan keresahan di lokasi. Kami bisa bertahan di sini karena bisa menjaga tidak pernah ada keributan,” kata Jas.
(bersambung)
Bangsa Penenggak Arak
Dari Kapten James Cook sampai Shaggy Dog memuji tradisi minuman memabukkan di Nusantara.
17 September 1770. Awak kapal “Endeavour” girang sumringah. Di ujung pandangan menyembul sosok pulau kecil permai. Sudah lama mereka menanam harap bersua pulau semacam Tahiti, daratan indah dan subur yang mereka tinggalkan setahun sebelumnya.
Letnan Satu James Cook, sang kapten, jauh lebih girang. Tak tercantum Pulau Sawu dalam peta pelayaran kapal Endeavour. Kalau benar itu pulau baru, akan menambah panjang daftar daratan temuan Cook. Sejak melepas sauh dari Pantai Britania 27 Mei 1768, mereka telah menemukan Tahiti serta Selandia Baru. Temuan terbesarnya adalah Australia pada April 1970.
Raja George III yang mengirim Endeavour. Misinya sampai di Tahiti sebelum bulan Juni 1969 untuk meneliti fenomena astronomi Transit of Venus. Mencari ukuran tata surya adalah kepingan puzzle yang paling membuat penasaran dunia pengetahuan abad ke-18. Ketika itu baru diketahui ada enam planet yang mengitari matahari -Uranus, Neptunus dan Pluto belum ditemukan.
Ekspedisi Cook seolah misi luar angkasa. Tak hanya itu. Di kapal itu membonceng sejumlah orang sipil yang dipimpin Joseph Banks. Pria 25 tahun ini kaya raya, kegemarannya menyelidiki alam. Dengan antusiasme Abad Pencerahan, Banks dan anak buahnya mengumpulkan dan mendokumentasi temuan tumbuhan baru serta binatang selama pelayaran. Mereka juga mencatat situasi antropologis dan budaya yang mereka temui.
Setelah mengitari Australia, Endeavour melanjutkan muhibah ke arah barat. Di bulan Juni, Endeavour sempat mengurangi 50 ton muatan untuk menambal bocor lambung kapal yang mencium karang. Papua Nugini sudah mereka singgahi, tapi mereka belum mendapat cadangan makanan baru.
Awak kapal mulai terserang penyakit. Tubuh manusia hanya mampu menyimpan kebutuhan vitamin C selama enam minggu. Awak Endeavour menjadi kelinci percobaan Angkatan Laut Inggris dalam melawan momok hidup lama di laut: kudis, sariawan dan pendarahan – yang membuat kapal-kapal di abad ke-18 kehilangan separuh awaknya. Cook membawa sejumlah makanan percobaan seperti acar kubis dan rendaman kecambah gandum. Bila ada awak kapal yang menolak, dicambuk.
Selama empat bulan di laut, awak Endeavour merindu makanan segar. Savu, begitu Cook menyebut gugusan di Nusa Tenggara Timur itu terlihat dipenuhi pohon lontar dan kelapa. Endeavour melempar sauh di pantai utara Pulau Sawu. Tak lama kapal itu disergap perahu berisi sekitar 20 lelaki bersenjata parang. Cook diajak menghadap Ama Doko Lomi Djara, penguasa Seba, salah satu dari lima kerajaan di Sawu.
Bukan perlakukan kasar yang mereka terima di daratan. Cook dan sejumlah awak penting Endeavour justru dijamu makan Ama Doko. Sajiannya daging kambing bakar dan minuman keras berasa manis yang mengalir tiada henti. Minuman itu dideres dari pohon jangkung yang memenuhi daratan awu. Cook mulai doyan rasa tuak lontar.
“Air itu manis, segar dan rasanya aneh,” tulis Cook dalam catatan perjalanannya.
Ternyata kerajaan di Sawu sudah mengikat perdagangan dengan VOC. Ada Christian Joseph Lange, wakil perdagangan VOC yang sudah tinggal di Sawu sejak tahun 1956. Keberadaan Lange akan menghambat usaha Cook untuk membeli kebutuhan kapalnya di Sawu.
Cook seorang petualang sekaligus diplomat ulung. Dia paham membalas penyambutan yang meriah itu dengan elegan, sekaligus mengurangi intervensi Lange dalam urusan jual beli dengan orang Sawu. Cook menghadiahkan Raja Ama seekor biri-biri Inggris, satu-satunya sisa cadangan hewan potong di Endeavour. Awak Endeavour pun bisa membeli sejumlah kambing, babi, kerbau dan unggas dari penduduk. Cook memimpin pembelian ini dengan gaya diplomat dan amat mengesankan penduduk setempat.
Dimana-mana, awak Endavour mendapat suguhan tuak. Minuman nikmat yang mudah diambil dari alam Pulau Sawu. “Dengan memotong ujung dahan berbunga, lalu menempatkan wadah daun lontar kecil untuk menampung tetesan yang akan dikumpulkan oleh pemanjat setiap pagi dan sore,” tulis Cook tentang cara orang Sawu mengambil tuak.
Hari berikutnya lagi-lagi Cook dijamu masyarakat Sawu. Rombongan duduk bersila di atas tikar, menghadap 36 sajian lezat yang sampai-sampai tak sanggup mereka habiskan.
Selama tiga hari berinteraksi, Cook menyadari peran penting pohon lontar dalam kehidupan masyarakat Sawu. Sydney Parkinson merasakan hal sama. Dia pelukis yang mendokumentasikan muhibah Cook dari tahun 1768-1771. Selama di Sawu, Parkinson menggoreskan sketsa sebuah rumah kepala desa. Di belakang rumah, seorang pria bertelanjang dada memanjat pohon lontar, menyandang dua wadah bundar untuk menampung hasil deresan nira.
Di bawah sketsanya, Parkinson menulis: “A chief house in Savu, near Timor”.
Diplomasi yang diwarnai nikmatnya menenggak tuak membuat Cook berhasil membeli bahan pangan dan ternak yang dibutuhkannya. Meski tidak bisa mengklaim diri sebagai penemu pulau Sawu, Endeavour sukses bermuhibah ke arah barat, menepi di Batavia pada 11 Oktober. Untung saja di Sawu Cook mampir minum.
***
“Urip mung mampir ngombe, karena itu kita suka minum,” kata Heru.
Heru anak Jogjakarta. Bisa banyak interpretasi dari idiom yang diucapkan vokalis band Shaggy Dog itu. Idiom itu menggambarkan kesederhanaan cara pandang orang Jawa terhadap hidup yang laksana singgah di warung minum. Karenanya persinggahan itu harus dijalani dengan kepasrahan, sebelum melanjut ke perjalanan berikut.
Shaggy Dog memainkan musik ska yang berfusi dengan reggae, rock and roll, dan jazz. Sempat banyak band ska yang mencuat sejak aliran ini trend di tahun 1997. Tapi tak banyak yang ‘mampir’ di blantika musik nasional selama Shaggy Dog. Mereka sudah menelurkan tiga album, dan beberapa kali masuk dalam album kompilasi. Hampir selalu Shaggy Dog menjadi band di penghujung gig ska atau reggae. Itu menandakan peringkat daya tarik mereka. Belum lama, anak-anak Shaggy Dog menggelar tur ke Belanda untuk kedua kalinya.
Bila hidup adalah mampir minum, lewat lagu Di Sayidan, Shaggy Dog mengajak mampir ke sebuah kawasan di Jogjakarta.
Bila kau datang dari selatan
Langsung saja menuju Gondomanan
Belok kanan sebelum perempatan
Teman-teman riang menunggu di Sayidan
Begitu petunjuk Shaggy Dog dalam Di Sayidan, lagu pamungkas mereka dari album “Shaggy Dog” yang dirilis tahun 2000. Lagu itu telah menjadi anthem, yang wajib mereka mainkan di panggung. “Dari Aceh sampai Papua tahu lagu itu,” kata Heru.
Relasi awal mereka adalah “teman minum”, bersama mereka banyak membunuh waktu di Sayidan. Tak ada yang istimewa dengan kampung di bantaran Kali Code itu. Gangnya sempit, mayoritas penghuninya bekerja di sektor informal. Sayidan jadi tersohor berkat Shaggy Dog. Kampung itu pun sering kebanjiran musafir dari lain kota. Kalau tidak bisa bertemu dengan anak-anak Shaggy Dog, para pendatang cukup puas bisa mencicipi air kedamaian yang disebut dalam Di Sayidan.
Mari... Sini... berkumpul kawan
Dansa... Dansa... sambil tertawa
Di Sayidan, di jalanan
Angkat sekali lagi gelasmu kawan
Di Sayidan, di jalanan
Tuangkan air perdamaian
Air perdamaian yang mereka maksud adalah lapen, minuman beralkohol khas Jogja. Lirik awal Di Sayidan yang ditulis Bandizt, sang pembetot bass, sebenarnya menceritakan kandungan lapen. “Lirik awalnya itu, ‘Diramu dari buah-buahan, dijadikan minuman, untuk mabuk-mabukan.’ Hardcore banget,” kata Heru tertawa.
“Kenapa diubah?” tanya saya.
“Aku edit, diperhalus untuk tujuan yang sama, supaya bisa menembus mainstream,” balas Heru.
Bagi saya Di Sayidan punya semangat yang sama dengan Gaudeaumus, lagu civitas academica atau Lisoi milik masyarakat Batak Toba. Gaudeaumus adalah drinking song, mengajak menikmati hidup, selagi muda.
Jangan kau takut pada gelap malam
Bulan dan bintang semuanya teman
Tembok tua tikus-tikus liar
Iringi langkah kita menembus malam
Shaggy Dog punya peran membuat lapen tersohor sampai ke luar Jogja. Di kalangan tertentu, lapen jadi oleh-oleh yang wajib dibawa dari kota gudeg, bukan bakpia pathok.
Tak sulit mencari lapen, penjualnya menyebar di penjuru Jogja. Rasanya beragam, ada strawberry, mocca dan mint. Di daerah terban ada angkringan lapen “melon chaos.” Dari namanya sudah jelas rasanya. Di Sosrowijayan ada lapen rasa kopi, persis kahlua. Kahlua brand ternama untuk likor yang dibuat dari kopi Meksiko terbaik, alkohol tebu dan vanila. Ada juga lapen yang dicampur telur dan jamu penambah tenaga.
“Bisa bikin ereksi sampai pagi.” Heru tertawa.
Karena berasa buah, lapen mudah dinikmati. “Rasanya nggak begitu keras, sesuai dengan makanan Jogja yang manis, pas buat sambil ngobrol,” kata Heru.
“Dan murah,” timpal saya.
“Ya murah. Tapi ngantem dari belakang,” kata Heru.
‘Belakang’ maksud Heru adalah tengkuk, bagian tubuh yang akan terasa terjotos kalau tak mawas diri menenggak lapen.
Efek lapen memang menjotos. Tapi jotosan itu menjadi berkah bagi Sakti Darwinto, penjual lapen di Sayidan yang menjadi tongkrongan anak-anak Shaggy Dog. “Sekarang Pak Seti jadi lebih kaya dari kita,” canda Heru.
Seti panggilan akrab Sakti. Dia mulai menjaja lapen sejak tahun 2000. “Awalnya saya cuma ikut-ikutan, diajak teman. Tapi setelah pikir-pikir, saya ingin buka sendiri,” terang Seti.
Lokasi warung Seti di Jl. Brigjen Katamso, di depan SMP Maria Immaculata. Lalu lintas Brigjen Katamso cukup padat, arah selatan menuju pantai Parangtritis, ke utara pusat kota.
Awalnya Seti menjual paling banter 10-20 liter per malam. “Dalam waktu setahun lagu Shaggy Dog terkenal, teman-teman mereka pindah nongkrong ke tempat saya. Dari luar kota juga banyak yang datang,” kata Seti.
“Sejak lagu Di Sayidan ngetop, sehari berapa liter terjual?” tanya saya.
“Bisa 30 liter, kalau malam minggu 60 liter,” jawab Seti.
Seti menjual lapen Rp 10.000 per liter. “Kalau teman lama Rp 8.000,” kata dia.
Seti menganggap semua pelanggannya sebagai teman, bedanya pada teman lama atau teman baru. Usianya 47 tahun, tapi lancar bersenda gurau dengan pengunjung yang rata-rata bersebaya dengan anaknya. Tubuhnya tegap, rambutnya cepak. Di siang hari Seti berprofesi sebagai petugas keamanan di pertokoan.
“Lapen dibuat sendiri? Apa bahannya?”
“Alkohol 96 persen dengan CMC. Semuanya yang kualitas nomor satu,” kata pria 47 tahun itu.
“CMC?” Saya menimpali.
“Itu bahan untuk bikin roti, untuk mengentalkan adonan. Semua bahan direbus sampai mendidih, dibiarkan dingin sampai seharian, terus dicampur dengan esens,” terang Sakti.
Dulu Seti memakai beragam esens, rasa mocca, melon, strawberry dan menthol. Dia juga menjual lapen jamu yang menurut Heru bisa membuat ereksi sampai pagi. “Saya pakai jamu produksi Cilacap, namanya serbuk super. Tapi sekarang cuma jual yang rasa mocca,” kata Seti.
“Kenapa cuma mocca?” tanya saya.
“Tahu suasana lah, istilahnya sekarang ini sedang gerobyok. Tempat saya bisa digaruk, kadang-kadang yang minum kena juga. Sekarang nggak ada yang nongkrong, saya larang.”
“Kalau mau beli lapen?”
“Beli di rumah saya, tapi nggak minum di warung,” kata Seti.
Sejak awal tahun 2005, Pemerintah Kota Jogjakarta memberlakukan Perda anti penyakit masyarakat (pekat). Akibat perda itu warung lapen kerap dirazia. Kini di warungnya Seti menjajakan menu tongseng, ayam bakar, pecel lele dan mie goreng.
Penjual lapen lain berdagang sembunyi-sembunyi. Tapi warung lapen di Pajeksan, jalan yang bersiku dengan Jl Malioboro, seperti tak terpengaruh. Sebuah plang tripleks menerangkan jam operasinya: “Buka 18.00-23.00.” Saya datang sekira pukul 23.00, masih ramai anak muda nongkrong di sana.
Sesekali membuncah tawa meriah. Mereka duduk berkelompok, sebagian di atas tikar yang digelar di emperan toko. Sebagian lagi di kursi kayu panjang yang disusun di mulut sebuah gang. Di mulut gang itu ada sebuah meja kecil untuk kasir, lebih ke dalam lagi ada dua lemari. Tak terlalu besar ukurannya, di raknya tersusun sejumlah sloki, ceret dan bungkusan plastik menampung cairan berwarna coklat serupa teh dan merah jambu. Masing-masing bervolume 1 liter. Untuk pembeli yang tak ingin minum di tempat. Inilah warung lapen paling legendaris di Jogja.
Dasmadi yang biasa disapa Jas memulai sejarah lapen 12 tahun silam. Pada masa itu, dia termasuk punggawa Komunitas Pemusik Jalanan Malioboro (KPJM). Menjelang dini hari, para pengamen Malioboro biasa nongkrong di emperan toko.
“Dulu Malioboro nggak tidur, Mas. Sekarang padat karena mobil. Pengamen yang menjaga Malioboro tetap aman, jalan kaki jam tiga pagi juga aman,” kata Jas.
Sembari ngobrol, para penjaga Malioboro menenggak aneka minuman, dari jamu pelepas lelah sampai yang beralkohol.
“Lama-lama kepikiran gawe ndiri wae. Coba-coba nyampur minuman, dan teman-teman bilang enak. Coba didol wae,” kata Jas.
Menurut Jas, pada prinsipnya lapen adalah jamu. Bahan-bahan seperti daun ketela, adas kulowaras (sejenis akar-akaran), dan beberapa rempah-rempah lain ditumbuk dan dicampur. Lalu difermentasi dengan rasa. “Jadi sebenarnya ini jamu anak muda, tapi ada penghangatnya,” kata Jas.
“Alkoholnya jadi berapa persen?”
“Di sini alkoholnya biasa-biasa saja, 12-15 persen. Tapi kalau diminum lebih dari target pasti mabuk,” kata dia.
Jas berkongsi dengan lima kawannya. Tujuan awalnya untuk membiayai komunitas, kalau ada untung sedikit baru dibagi. Air kedamaian itu dijual dari tangan ke tangan. Permintaan semakin banyak, Jas dan teman-temannya perlu tempat tetap. Sebuah mulut gang di Pajeksan dipilih. Pelan tapi pasti, warung lapen Jas kian tersohor. Warung-warung lapen lain bermunculan di Jogja.
“Tapi massanya beda-beda,” kata Jas. “Kalau di sini kebanyakan anak muda, terutama yang bergerak di kesenian.”
Kata Jas, kalau pun tak minum, banyak yang datang ke Pajeksan untuk bertemu komunitas seni di Jogja. Tidak hanya para pemusik, tapi juga penari, pelukis dan pemain teater. “Biasanya kalau mau ada acara, menyebarkan undangan dari sini. Kalau mau lihat akan ada apa acara kesenian di Jogja, poster dan pamflet selalu penuh di sini. Banyak seniman dari luar kota selalu mampir ke sini kalau ke Jogja,” kata Jas.
“Siapa saja?” tanya saya.
“Sawung Jabo, Oppie Andaresta. Mereka kalau ke Jogja pasti main ke sini, silaturami. Sudah ada empat generasi seniman yang suka nongkrong di sini,” kata Jas.
“Empat generasi?”
“Yang pertama itu generasinya Umbu. Lalu Jabo, Sapto Raharjo, Djaduk (Ferianto) dan Butet (Kertaredjasa), lalu generasi Oppie. Berikutnya generasi Duta (Sheila on 7) dan Heru (Shaggy Dog),” kata Jas.
Umbu Landu Paranggi dijuluki “Presiden Malioboro.” Lewat Persada Studi Klub (PSK) yang dia dirikan tahun 1969, penyair yang kini ‘menyepi’ di Bali ini menjadi pengasah bakat sejumlah penyair Jogja seperti Emha Ainun Najib dan Linus Suryadi AG. Di Bali, Umbu menjadi guru bagi Oka Rusmini, Raudal Tanjung Banua, dan Tan Lioe Ie. Djaduk Ferianto dan Butet Kertaredjasa adalah anak maestro tari Bagong Kussudiardjo. Yang pertama menggeluti teater, sementara yang kedua bergerak di musik alternatif. Sapto dikenal sebagai pemusik kontemporer yang memadukan gamelan dengan elektronika. Pengasuh radio Geronimo Jogja ini penggagas proyek Yogayakarta Gamelan Festival yang mempertemukan seniman gamelan sedunia.
“Sekarang di Jogja penjual lapen sembunyi-sembunyi karena banyak razia,” kata saya. “Tapi kenapa di sini aman-aman saja?”“Saya bisa menjamin jangan sampai menimbulkan keresahan di lokasi. Kami bisa bertahan di sini karena bisa menjaga tidak pernah ada keributan,” kata Jas.
(bersambung)
Bangsa Penenggak Arak (2)
(sambungan)
Pak Bejo membentak bininya
"hari ini sepi!
Mbok Bejo tak mau kalah
"anak-anak minta baju seragam!
Pak bejo juga:
"aku sudah keliling kota
aku sudah kerja keras
tapi kalah dengan bis kota
hari ini aku cuma dapat uang setoran
Mbok Bejo tak mau mendengar
Mbok Bejo tetap marah
Mbok Bejo terus ngomel!
Pak Bejo kesal
nyaut sarung kabur ke warung
nenggak ciu bekonang
minum segelas
malu segelas lagi
kemudian hanyut bersama gending sarung jagung
bersama Pak Kromo
bersama Pak Wiryo
bersama Pak Kerto
njoget tertawa mabuk
benak yang sumpek dikibaskan
lepas bebas
lupa anak
lupa utang
lupa sewa rumah
lupa bayaran sekolah
lepas bebas
lenggak-lenggok gumpalan awan
bersama bintang-bintang
ketika bulan miring
Pak Bejo mendengkur di depan pintu
sampai terang pagi
lalu istrinya melotot lagi
Wiji menulis puisi “Balada Pak Bejo” 10 tahun sebelum dia raib tak tentu rimbanya. Pada kaki puisi itu, Wiji menulis: Solo, Juli 1988. Hilangnya Wiji berkaitan dengan meningkatnya operasi pembersihan politik aktivis antirezim orde baru pada tahun 1998.
Puisi Wiji tentang kemelut hidup Pak Bejo, yang perolehan rezekinya dari menarik becak tak memuaskan istrinya. Pak Bejo lari dari lara, melupakan penat hidup dengan bergelas-gelas ciu. Sejenak Pak Bejo ria. Tapi begitu hari terang, kenyataan hidup kembali membangunkannya.
Jauh sebelum lapen dikenal, masyarakat Jawa Tengah punya ciu sebagai tradisi minuman memabukkan. Wiji mengandengkan kata ciu dengan “Bekonang,” yang merupakan sentra penghasil ciu di Kabupaten Sukoharjo.
Desa Bekonang tak jauh dari kota Solo. Jalanannya aspal mulus, sawah masih menghampar luas. Di mulut sebuah jalan ada plang kayu. Pada baris pertamanya tertulis: “Sentra Perusahaan Alkohol Desa Bekonang”. Hampir semua pekarangan rumah di jalan itu dijemur tumpukan kayu kering.
Saya berhenti di sebuah bangunan berdinding bata tak berlapis semen. Dari dalam bangunan yang penuh tong plastik setinggi satu meter, Andi Sujadi menghampiri saya. Benar dugaan saya, bangunan itu pabrik ciu. Di Minggu siang itu Andi tetap bekerja. Pemilik pabrik itu Sunaryo, tinggal di bangunan berlantai dua di mulut jalan.
Andi mengajak saya masuk ke bagian terdalam pabrik, menunjukkan tungku penyulingan yang diatasnya diletakkan dua tong penampung bahan dasar ciu. Tong itu dihubungkan dengan tong lain dengan dua bambu sepanjang tiga meter yang dilengkungkan. Bambu berdiameter 4 centimeter itu menyalurkan ciu yang merupakan uap hasil pemanasan bahan dasar.
Ciu disuling dari tetes tebu ditambah badek dan air. Komposisinya, kata Andi, untuk satu gentong bervolume 200 liter adalah tetes tebu 5 ember, badek 6 ember dan sisanya air.
Tetes atau ampas tebu adalah cairan kental sisa kristalisasi dari pabrik gula. Badek adalah bibit fermentasi ciu yang diambil dari sisa penyulingan ciu sebelumnya. Setelah diaduk, pada permukaan campuran bahan dasar ciu akan keluar buih. “Campuran bahan dibiarkan sampai tujuh hari sampai buih menghilang, baru siap dimasak,” kata Andi.
Buih ditimbulkan oleh badek. Bagi pembuat ciu, kalau badek habis atau tak sanggup menghasilkan buih pada campuran bahan ciu, berarti produksi mandek.
“Kalau habis?”
”Harus minta ke tetangga,” kata Andi.
Hasil sulingan tetes tebu biasanya mengandung alkohol 30-45 persen. Produsen ciu di Bekonang umumnya juga memproduksi alkohol 90 persen. “Alkohol itu campuran tetes tebu yang disuling dua kali. Setelah jadi ciu, dimasak lagi, ditambah zat kimia kostik. Jadinya alkohol 90 persen,” kata Andi.
Dari 200 liter campuran bahan akan menghasilkan 30 liter ciu setelah melewati tiga jam penyulingan. “Kalau tetesnya bagus uapnya keluar cepat. Kalau jelek bisa empat jam baru selesai,” kata Andi.
Ciu paling jelek kandungan alkoholnya berkisar 25 persen. Hasil sulingan ciu berwarna agak keruh. Setelah melewati saringan berlapis pasir, kain, dan kapas, ciu menjadi bening. Setiap hari pabrik milik Sunaryo menghasilkan rata-rata lima jerigen, sekitar 150 liter ciu.
Tradisi membuat ciu telah berlangsung ratusan tahun di Bekonang. “Usaha ciu di sini turun temurun. Caranya masih sama, bedanya sekarang tungku lebih besar dan pakai pompa untuk menyedot bahan dari tong ke tungku. Jadi hasilnya bisa lebih banyak,” kata Andi.
“Tidak pernah dirazia polisi?” tanya saya.
“Polisi nggak berani ke sini. Pernah ada ciu yang diambil polisi. Tapi orang-orang sini marah. Kalau mau ngambil jangan satu, tapi semua.”
***
Hampir dua setengah abad sejak persinggahan Cook, tuak masih menjadi bagian penting dalam hidup sebagian penghuni Nusantara. Tak jauh dari pulau Sawu, masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, punya tradisi cepung, seni membaca syair pantun yang didahului dengan minum tuak.
Dr Tilman Saebas dalam buku “The Music of Lombok” menyebut cepung bentuk seni yang kompleks sebagai suatu ansamble musik atau nyanyian. Cepung diperkirakan sublimasi dari upacara magis masyarakat Lombok sebelum masuknya unsur kebudayaan Islam seperti India, Arab dan Persia.
Ada dugaan, cepung berakar dari Wayang Gemblung di Jawa Tengah yang telah menyesuaikan diri dengan situasi setempat. Akulturasi terhadap cepung sama seperti yang dialami tari Kecak dan Janger di Bali.
Cepung dimainkan enam orang. Ada pemakaian instrumen pengiring. Tapi terbatas seperti redep (rebab) dan suling. Pemain menggunakan mulut untuk menirutkan bunyi gong, gendang, kenceng dan rencik.
Pemain juga bertindak sebagai pembawa syair secara bersahutan yang terdiri dari tiga orang. Dua orang memainkan alat musik, dan seorang lagi melafalkan cerita monyen. Pemain musik vokal juga membaca syair yang tidak terdapat dalam cerita monyen dengan gaya kocak dan mengundang tawa penonton.
Monyen adalah cerita klasik berisi filsafat Islam, dikarang oleh Jero Mehram pada 1859 untuk tujuan missi. Melalui cerita, Jero merasa ajaran Islam lebih mudah merasuk ke hati masyarakat. Cepung dianggap sebagai perkembangan dari pepaosan, pembacaan cerita lontar Monyen tapi hanya dengan tembang.
Cepung pernah berkembang begitu pesat, tapi kini tidak banyak desa yang masih menjalankan tradisi cepung. Pelaku setia cepung di antaranya orang Desa Jagaraga, Kecamatan Kediri, Lombok Barat.
Sebagian besar pendukung seni cepung adalah mereka yang menganut paham waktu telu. Paham ini berseberangan dengan golongan Islam yang bertekad mendirikan perintah Islam yang murni yakni sholat lima waktu. Paham waktu telu diperkirakan muncul sebagai bentuk kompromi para pembawa Islam awal ke Lombok dengan budaya asli.
Kini gencar usaha melestarikan cepung tanpa mengaitkan seni itu dengan minuman tuak. Argumentasinya, tuak tidak selalu menimbulkan inspirasi atau perangsang penampilan seni karena seni bisa dibangun dengan keterampilan teknis individu. Tanpa minum tuak pelaku tetap bisa menampilkan cepung. Meskipun kini unsur minum tuak sudah berkurang, tapi citra lama cepung sulit dihapuskan.
***
Putri si boru Sorbajati gundah gulana. Orang tuanya bersikeras mengawinkan dia dengan dengan seorang lelaki cacat yang tidak dia sukai. Sia-sia usaha si boru Sorbajati menolak. Dia meminta agar dibunyikan gendang di mana dia menari dan akan menentukan sikap.
Sewaktu menari di rumah, tiba-tiba dia melompat ke halaman sehingga terbenam ke dalam tanah. Si boru Sorbajati menjelma tumbuh sebagai pohon bagot atau pohon aren. Mitologi itu yang menjelaskan tuak dalam bahasa Batak Toba disebut aek (air) Sorbajati.
Bunuh diri dianggap sebagai perbuatan terlarang, maka tuak tidak dimasukkan pada sajian untuk Dewata. Tuak hanya menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang atau orang yang sudah meninggal. Pada masyarakat Batak Toba, tuak menjadi minuman adat pada upacara manuan ompu dan manulangi.
Ketika orang yang sudah bercucu meninggal, ditanam beberapa jenis tumbuhan di atas tambak atau kuburan. Menurut aturan adat, air dan tuak harus dituangkan pada tanaman di atas tambak. Inilah upacara manuan ompu. Kebiasaan ini sudah tidak terlalu dijalankan saat ini, biasanya yang dituangkan ke tambak hanya air.
Dalam upacara manulangi, para cucu memberikan makanan kepada neneknya. Para penerus meminta restu, nasehat dan petunjuk pembagian harta, disaksikan oleh pengetua adat. Makanan disajikan dengan air minum serta tuak.
Tuak yang digunakan untuk adat adalah tuak manis atau tangkasan. Dalam bahasa Batak Toba disebut tuak na tonggi. Dibandingkan dengan penggunaan dalam adat, tuak lebih banyak menjadi minuman sehari-hari kaum pria di pakter atau lapo tuak. Di Tanah Toba, biasanya kaum pria mendatangi pakter selepas bekerja di ladang. Sambil menikmati tuak mereka membaca koran, bermain catur atau menyanyi.
Tuak di pakter biasanya sudah dibenamkan raru, sejenis kulit kayu yang mengakibatkan peragian. Raru akan meningkatkan kadar alkohol dan mengurangi rasa manis tuak.
Penderes tuak disebut paragat yang berasal dari kata agat, pisau khusus untuk menyadap tuak. Resep membuat tuak berbeda-beda pada setiap paragat, dan bisa dikatakan ‘rahasia perusahaan’ yang diwariskan dari orang tua. Maka tidak siapa sembarang bisa menjadi paragat.
***
Di Indonesia, tanaman aren (Arenga pinnata) dapat berproduksi baik di daerah yang tanahnya subur pada ketinggian 500-800 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang ketinggiannya kurang dari 500 m dan lebih dari 800 m, tanaman aren tetap dapat tumbuh namun produksi buahnya kurang memuaskan.
Dengan karakter itu, sangat wajar tuak menjadi minuman sehari-hari orang dataran tinggi, seperti di tanah Minahasa. Mereka menyebut hasil sadapan pohon enau sebagai saguer. Sigar Mandey, seorang petani di desa Tinoor, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Tomohon sejak remaja hidup dari pohon saguer. Kini usianya 54 tahun. Sigar menjual saguer di warung istrinya di pinggir jalan raya Pineleng. Warung-warung makan Minahasa pada umumnya menjual saguer. Banyak yang percaya minum saguer sebelum makan, dapat mendongkrak selera.
Tapi di Minahasa, lima persen kandungan alkohol pada saguer tidak cukup. Cairan ini disuling lagi menjadi cap tikus. Sejak lima tahun lalu Sigar mengolah saguer menjadi cap tikus.
Satu seloki cap tikus tambah darah.
Minum dua seloki masuk penjara.
Tiga seloki bakal ke neraka.
Kalimat itu kerap diucapkan petani di Minahasa. Petani biasa meminum satu seloki cap tikus sebelum berangkat ke ladang untuk memompa semangat kerja. Bertambahnya seloki cap tikus yang ditenggak berarti bertambahnya tanda bahaya. Mereka tidak bercanda. Kadar alkohol cap tikus berkisar 40 sampai 75 persen. Makin bagus sistem penyulingannya, serta semakin lama disimpan, kadar alkohol cap tikus semakin tinggi. "Cap tikus yang bagus kalau dibakar (nyala) apinya biru,” kata Sigar.
Sigar membuat cap tikus di sebuah kebun aren milik kerabatnya. Kebun itu di sebuah lembah terjal, karakter kontur tanah yang mendukung pertumbuhan pohon aren. Sigar juga punya beberapa pohon aren di kebunnya. Tapi dia harus mencari pohon lain untuk dideres. Karena pohon aren tidak mengeluarkan saguer sepanjang tahun, tapi hanya yang sedang membuahkan mayang muda.
Untuk menders saguer, Sigar memanjat pohon enau dengan bantuan tangga. Secara hati hati dia kupas seludang pembungkus tongkol mayang. Bagian tongkol itu selanjutnya dia pukul-pukul dan elus dengan penuh perasaan. “Pohon ini harus disayang, kalau tidak saguer tidak lancar keluar,” kata Sigar.
Ketika buah mayang mulai matang dalam proses penyadapan, ujung tongkol bagian bawah ditakik atau dilubangi sedikit dengan pisau dan kemudian dibungkus daun. Bila setelah 3-4 hari kemudian terlihat rembesan cairan putih dari takikan tersebut, berarti proses penyadapan berhasil. Sebaliknya, berarti gagal kalau lubang takikan terus mengering.
Saguer sejak keluar dari mayang pohon enau sudah mengandung alkohol. Kadar alkohol yang dikandung saguer tergantung pada cara menuai dan penggunaan penampung saguer saat menetes keluar dari mayang pohon enau. Semakin asam saguer, kata dia, berarti kadar alkoholnya makin tinggi. Di sejumlah daerah di Minahasa, petani tidak hanya mengambil saguer yang asam, tapi juga yang manis untuk dimasak menjadi gula aren.
Setiap hari dua kali Sigar memanjat pohon aren yang sama. Di pagi hari antara pukul 08.00 hingga 10.00, dia memanjat untuk mengambil nira yang tertampung. Panjatan di sore hari untuk melubangi tongkol mayang agar nira tetap menetes.
Sebelum melakukan penyulingan, Sigar menyaring saguer yang berwarna putih seperti susu hingga benar-benar bersih. Saguer dia masukkan ke tong yang diletakkan ke di atas lubang kayu api. Sepotong bambu sepanjang empat meter dipasang tegak lurus, ujungnya dimasukkan ke lubang di tengah tong. Ujung atas bambu berdiameter 10 centimeter ini dihubungkan dengan bambu lain yang mengarah menjauhi tong. Panjangnya sekitar 8 meter. Ujung bambu kedua pun disambung lagi dengan bambu lain yang mengarah mendekati tong. Total, Sigar menggunakan 25 meter bambu untuk membentuk pipa penyulingan yang membentuk segitiga. Ujung bambu terakhir didekatkan dengan jerigen, sebagai muara uap hasil penyulingan.
“Kenapa sangat panjang bambu yang dipakai?” tanya saya.
“Makin panjang bambunya, alkohol makin tinggi. Lima meter saja sudah bisa, tapi alkholnya bisa hanya 35 persen,” kata Sigar.
Untuk memasak saguer 50 liter saguer yang akan menghasilkan 15 liter saguer, Sigar membutuhkan waktu tiga jam. “Kayu harus terus terbakar,” kata dia.
Sigar menjual cap tikus Rp 6.000 per liter. Sementara saguer hanya Rp 2.000 per liter. Selain untuk langsung dikonsumsi, cap tikus menjadi bahan baku untuk produk minuman kemasan dalam botol yang banyak beredar di Minahasa. Merek yang terkenal adalah Anggur Kesegaran dan CO.
Diperkirakan produksi cap tikus Minahasa per bulan mencapai sekitar 800.000 liter. Sudah lama ada usulan agar pemerintah daerah menarik retribusi dari cap tikus. Ini usulan dilematis. Sebab mengundang-undangkan retribusi produksi ataupun pemasaran cap tikus berarti melegalisasi produksinya. Sementara itu, aparat kepolisian kerap menuding cap tikus menyumbang tingginya angka kriminalitas di Minahasa.
Di Minahasa saguer dan cap tikus digunakan dalam upacara kampetan atau memanggil ruh dotu-dotu atau nenek moyang. Upacara ini biasanya digelar saat bulan baru atau bulan purnama. Lokasinya di tempat khusus yang dihormati penduduk desa karena biasa dipakai generasi silam untuk berdoa atau bersemadi.
Kampetan digelar untuk mencari tahu adanya ketidakwajaran di sebuah desa. “Dotu akan kasih tahu kalau ada hal yang salah, atau sesuatu yang akan terjadi. Misalnya akan ada gempa, orang yang rumah tangga berantakan, atau ada anak muda yang hamil di luar nikah,” kata Turambih Moningka.
Turambih seorang petani saguer dan pembuat gula aren di Desa Kayawu, Kecamatan Tomohon Utara, Kabupaten Tomohon. Persis di depan rumahnya terdapat tempat berdoa yang dipakai orang Kayawu menggelar upacara kampetan. Sepintas, tempat itu seperti kompleks pemakaman, berpagar, dan dari luar terlihat dapat menampung orang cukup banyak.
Untuk upacara kampetan disiapkan sejumlah sesaji, yakni nasi beserta lauk pauk 9 bungkus, telur ayam 9 butir dan satu mentah, pinang 9 biji dibelah, tabaku (rokok linting), sirih tiga lembar, dan cap tikus atau saguer. “Cap tikus dimasukkan di kower atau seloki dari bambu. Semua diletakkan di atas daun pisang. Kalau perlu dibakar dupa,” kata Turambih.
Pemimpin upacara harus seorang tonaas, gelar yang diemban seseorang sebagai penunjukan arwah nenek moyang. Seorang tonaas tidak harus sepuh, bisa juga berusia muda, asalkan dia dianggap ‘berbakat’.
Ketika semerbak bau dupa menyergap udara, doa-doa dipanjatkan. Dotu akan datang merasuk ke tubuh salah satu peserta upacara. “Dotu yang datang bisa dari mana saja, bisa dari Minahasa, dari Sangihe atau yang dari pulau Jawa. Kalau yang datang lebih dari satu dotu, mereka akan saling baku tamang (saling bicara dan bertanya) dalam bahasa lama,” kata Turambih.
Selama singgah di tubuh orang lain, arwah dotu menyantap sajian yang telah disiapkan. “Kadang ada dotu yang minum cap tikus sampai enam botol. Tapi setelah sadar, orang yang kerasukan tidak mabuk,” kata dia.
Kampetan juga bisa digelar untuk tujuan khusus, atas permintaan orang yang ingin kepentingan bisnisnya dilindungi atau ingin mendapat perlindungan supranatural sebelum ke tempat berbahaya. Menurut Turambih pernah beberapa pengusaha dan anggota DPR jauh-jauh datang ke Kayawu untuk tujuan khusus tadi. “Pernah ada 11 orang datang dari Jawa minta ‘pegangan’ karena mau ke Aceh,” kata Turambih.
“Tentara?” tanya saya.
“Mungkin. Mereka datang malam-malam minta dibikin itu upacara,” kata dia.
“Jadi upacara itu juga bisa untuk orang luar?”
“Siapa saja bisa, orang dari luar Minahasa juga boleh,” kata Turambih.
“Dari mana mereka tahu di tempat ini bisa mendapat ‘pegangan’?” tanya saya.
“Mungkin ada yang beri tahu mereka supaya ke sini,” kata dia.
Dalam upacara untuk memperoleh ‘pegangan’ tidak perlu mengundang ruh dotu datang. “Kita tunggu ada burung munguni datang. Kalau datang berbunyi tiga kali, dia direstui,” kata Turambih.
Munguni sejenis burung jalak.
“Waktu itu burung munguni datang?” tanya saya.
“Datang, bunyi tiga kali.”
***
Selain Minahasa, orang Bali juga dekat hidupnya dengan arak. Namun penghasil arak sudah tak banyak di Pulau Dewata. Tak banyak desa di Balui seperti Merita, yang mata pencaharian utama masyarakatnya menyuling arak. Arak Bali nomor satu biasanya berasal dari desa di Kecamatan Budakeling, Kabupaten Karangasem ini.
Hanya sekitar 50 dari total 350 kepala keluarga di Merita yang tidak memproduksi arak. Tidak hanya kaum pria, banyak ibu di Merita lihai membuat arak. Ni Made Catri salah satunya. Catri belajar menyuling arak dari ayahnya, semasa dia masih remaja. Dia tidak tahu berapa usia persisnya. Dia hanya ingat ketika Gunung Agung meletus untuk kedua kalinya di tahun 1963, usianya sekitar 8 tahun.
Catri menyuling arak di dapur yang terpisah dengan banguna utama rumahnya, seperti rumah desa di Bali umumnya. Catri hanya memakai tiga peralatan sederhana, kaleng bekas minyak goreng untuk memasak tuak yang disebut belek, jerigen penampung uap arak, dan pengantang yakni bamboo sepanjang 1,5 meter untuk menyalurkan uap arak.
Biasanya satu kali penyulingan, Catri memasak sekitar 10 liter tuak dalam belek.
Pada jerigen penampung uap, Catri memberi tanda batas untuk hasil penyulingan terbaik. Volume arak yang mencapai batas itu hanya sekitar 1,5 botol bir atau sekitar 1,5 liter. “Semakin lama, air yang menetes dari bambu semakin banyak. Tapi arak yang bagus hanya sampai 1,5 liter pertama,” kata Catri.
Kalau 1,5 liter pertama tercapai, Catri membuang isi belek dan mengisinya kembali dengan tuak baru untuk disuling lagi. Kalau musim sedang baik, dalam sehari Catri bisa membuat 5 botol arak nomor satu dan 10 botol arak nomor dua. Di musim penghujan hasil semakin sedikit karena kualitas air nira kurang baik. Kalau musim tuak sedang baik, menyuling arak bisa dilakukan 24 jam. Di rumah desa di Bali, lumrah ada anggota keluarga yang menunggui dapur, tidur dan makan di sana.
Dengan metode tradisional, tentu saja kapasitas produksi arak Desa Merita sangat kecil. Karena itu sejak lima tahun terakhir marak peredaran arak methanol asal daerah Sediman yang pembuatannya dengan bahan kimia dan alkohol. Bila dikonsumsi sedikit berlebih, arak methanol bisa mengakibatkan kebutaan. Karena itu aparat keamanan kerap merazia perdagangan arak methanol. Arak methanol biasanya dijual cuma sekitar Rp 4.000 per liter, sementara arak tradisional nomor satu dan nomor dua masing-masing Rp 8.000 dan Rp 5.000 per liter.
Meski terkadang takut-takut berdagang arak, orang Merita masih menggantungkan hidupnya pada produksi arak. Pasalnya orang Bali tetap akan membutuhkan arak sebagai elemen penting dalam acara pesta minum atau genjek.
Genjek hampir serupa cepung, dimainkan enam lelaki duduk yang duduk melingkar. Sebagian melantuknkan tembang, sbagian lagi menirukan bebunyian alat musik. Dan yang pasti selama genjek, aliran arak tak boleh berhenti. Genjek biasanya menjadi bagian dalam upacara adat seperti pernikahan, kelahiran anak, dan pelebon atau ngaben.
Masyarakat Bali dilingkupi banyak ritual dalam menjalani keseharian hidup. Pembuat arak juga melakoni ritual untuk menyeimbangkan kosmologi setelah mengambil sesuatu dari alam. Pada hari tertentu dalam sebulan, mereka harus membuat sesaji tipat kelan. Dalam satu kelan ada enam ketupat sebutir telur rebus. Hari untuk menyampaikan sesaji ditentukan dalam anggar kasih, penanggalan hari-hari baik ritual agama. “Setelah melakukan sesaji, kelan harus dimakan oleh keluarga. Tidak boleh dibuang,” kata Catri.
Meski melakoni sederet proses menyuling arak, Catri merasa dirinya tidak punya kuasa membuat arak yang bagus. Orang Merita percaya dalam proses menyuling yang bekerja adalah Ida Batara Arak Api, dewa pembuat arak. Sebagai manusia mereka hanya medium. Kalau Batara Arak Api berkenan, kata Catri, bikin arak sebotol saja pasti akan bagus hasilnya.
“Kalau Dewa tidak merestui, masak tuak sebanyak apapun tidak akan jadi arak bagus.
Pak Bejo membentak bininya
"hari ini sepi!
Mbok Bejo tak mau kalah
"anak-anak minta baju seragam!
Pak bejo juga:
"aku sudah keliling kota
aku sudah kerja keras
tapi kalah dengan bis kota
hari ini aku cuma dapat uang setoran
Mbok Bejo tak mau mendengar
Mbok Bejo tetap marah
Mbok Bejo terus ngomel!
Pak Bejo kesal
nyaut sarung kabur ke warung
nenggak ciu bekonang
minum segelas
malu segelas lagi
kemudian hanyut bersama gending sarung jagung
bersama Pak Kromo
bersama Pak Wiryo
bersama Pak Kerto
njoget tertawa mabuk
benak yang sumpek dikibaskan
lepas bebas
lupa anak
lupa utang
lupa sewa rumah
lupa bayaran sekolah
lepas bebas
lenggak-lenggok gumpalan awan
bersama bintang-bintang
ketika bulan miring
Pak Bejo mendengkur di depan pintu
sampai terang pagi
lalu istrinya melotot lagi
Wiji menulis puisi “Balada Pak Bejo” 10 tahun sebelum dia raib tak tentu rimbanya. Pada kaki puisi itu, Wiji menulis: Solo, Juli 1988. Hilangnya Wiji berkaitan dengan meningkatnya operasi pembersihan politik aktivis antirezim orde baru pada tahun 1998.
Puisi Wiji tentang kemelut hidup Pak Bejo, yang perolehan rezekinya dari menarik becak tak memuaskan istrinya. Pak Bejo lari dari lara, melupakan penat hidup dengan bergelas-gelas ciu. Sejenak Pak Bejo ria. Tapi begitu hari terang, kenyataan hidup kembali membangunkannya.
Jauh sebelum lapen dikenal, masyarakat Jawa Tengah punya ciu sebagai tradisi minuman memabukkan. Wiji mengandengkan kata ciu dengan “Bekonang,” yang merupakan sentra penghasil ciu di Kabupaten Sukoharjo.
Desa Bekonang tak jauh dari kota Solo. Jalanannya aspal mulus, sawah masih menghampar luas. Di mulut sebuah jalan ada plang kayu. Pada baris pertamanya tertulis: “Sentra Perusahaan Alkohol Desa Bekonang”. Hampir semua pekarangan rumah di jalan itu dijemur tumpukan kayu kering.
Saya berhenti di sebuah bangunan berdinding bata tak berlapis semen. Dari dalam bangunan yang penuh tong plastik setinggi satu meter, Andi Sujadi menghampiri saya. Benar dugaan saya, bangunan itu pabrik ciu. Di Minggu siang itu Andi tetap bekerja. Pemilik pabrik itu Sunaryo, tinggal di bangunan berlantai dua di mulut jalan.
Andi mengajak saya masuk ke bagian terdalam pabrik, menunjukkan tungku penyulingan yang diatasnya diletakkan dua tong penampung bahan dasar ciu. Tong itu dihubungkan dengan tong lain dengan dua bambu sepanjang tiga meter yang dilengkungkan. Bambu berdiameter 4 centimeter itu menyalurkan ciu yang merupakan uap hasil pemanasan bahan dasar.
Ciu disuling dari tetes tebu ditambah badek dan air. Komposisinya, kata Andi, untuk satu gentong bervolume 200 liter adalah tetes tebu 5 ember, badek 6 ember dan sisanya air.
Tetes atau ampas tebu adalah cairan kental sisa kristalisasi dari pabrik gula. Badek adalah bibit fermentasi ciu yang diambil dari sisa penyulingan ciu sebelumnya. Setelah diaduk, pada permukaan campuran bahan dasar ciu akan keluar buih. “Campuran bahan dibiarkan sampai tujuh hari sampai buih menghilang, baru siap dimasak,” kata Andi.
Buih ditimbulkan oleh badek. Bagi pembuat ciu, kalau badek habis atau tak sanggup menghasilkan buih pada campuran bahan ciu, berarti produksi mandek.
“Kalau habis?”
”Harus minta ke tetangga,” kata Andi.
Hasil sulingan tetes tebu biasanya mengandung alkohol 30-45 persen. Produsen ciu di Bekonang umumnya juga memproduksi alkohol 90 persen. “Alkohol itu campuran tetes tebu yang disuling dua kali. Setelah jadi ciu, dimasak lagi, ditambah zat kimia kostik. Jadinya alkohol 90 persen,” kata Andi.
Dari 200 liter campuran bahan akan menghasilkan 30 liter ciu setelah melewati tiga jam penyulingan. “Kalau tetesnya bagus uapnya keluar cepat. Kalau jelek bisa empat jam baru selesai,” kata Andi.
Ciu paling jelek kandungan alkoholnya berkisar 25 persen. Hasil sulingan ciu berwarna agak keruh. Setelah melewati saringan berlapis pasir, kain, dan kapas, ciu menjadi bening. Setiap hari pabrik milik Sunaryo menghasilkan rata-rata lima jerigen, sekitar 150 liter ciu.
Tradisi membuat ciu telah berlangsung ratusan tahun di Bekonang. “Usaha ciu di sini turun temurun. Caranya masih sama, bedanya sekarang tungku lebih besar dan pakai pompa untuk menyedot bahan dari tong ke tungku. Jadi hasilnya bisa lebih banyak,” kata Andi.
“Tidak pernah dirazia polisi?” tanya saya.
“Polisi nggak berani ke sini. Pernah ada ciu yang diambil polisi. Tapi orang-orang sini marah. Kalau mau ngambil jangan satu, tapi semua.”
***
Hampir dua setengah abad sejak persinggahan Cook, tuak masih menjadi bagian penting dalam hidup sebagian penghuni Nusantara. Tak jauh dari pulau Sawu, masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat, punya tradisi cepung, seni membaca syair pantun yang didahului dengan minum tuak.
Dr Tilman Saebas dalam buku “The Music of Lombok” menyebut cepung bentuk seni yang kompleks sebagai suatu ansamble musik atau nyanyian. Cepung diperkirakan sublimasi dari upacara magis masyarakat Lombok sebelum masuknya unsur kebudayaan Islam seperti India, Arab dan Persia.
Ada dugaan, cepung berakar dari Wayang Gemblung di Jawa Tengah yang telah menyesuaikan diri dengan situasi setempat. Akulturasi terhadap cepung sama seperti yang dialami tari Kecak dan Janger di Bali.
Cepung dimainkan enam orang. Ada pemakaian instrumen pengiring. Tapi terbatas seperti redep (rebab) dan suling. Pemain menggunakan mulut untuk menirutkan bunyi gong, gendang, kenceng dan rencik.
Pemain juga bertindak sebagai pembawa syair secara bersahutan yang terdiri dari tiga orang. Dua orang memainkan alat musik, dan seorang lagi melafalkan cerita monyen. Pemain musik vokal juga membaca syair yang tidak terdapat dalam cerita monyen dengan gaya kocak dan mengundang tawa penonton.
Monyen adalah cerita klasik berisi filsafat Islam, dikarang oleh Jero Mehram pada 1859 untuk tujuan missi. Melalui cerita, Jero merasa ajaran Islam lebih mudah merasuk ke hati masyarakat. Cepung dianggap sebagai perkembangan dari pepaosan, pembacaan cerita lontar Monyen tapi hanya dengan tembang.
Cepung pernah berkembang begitu pesat, tapi kini tidak banyak desa yang masih menjalankan tradisi cepung. Pelaku setia cepung di antaranya orang Desa Jagaraga, Kecamatan Kediri, Lombok Barat.
Sebagian besar pendukung seni cepung adalah mereka yang menganut paham waktu telu. Paham ini berseberangan dengan golongan Islam yang bertekad mendirikan perintah Islam yang murni yakni sholat lima waktu. Paham waktu telu diperkirakan muncul sebagai bentuk kompromi para pembawa Islam awal ke Lombok dengan budaya asli.
Kini gencar usaha melestarikan cepung tanpa mengaitkan seni itu dengan minuman tuak. Argumentasinya, tuak tidak selalu menimbulkan inspirasi atau perangsang penampilan seni karena seni bisa dibangun dengan keterampilan teknis individu. Tanpa minum tuak pelaku tetap bisa menampilkan cepung. Meskipun kini unsur minum tuak sudah berkurang, tapi citra lama cepung sulit dihapuskan.
***
Putri si boru Sorbajati gundah gulana. Orang tuanya bersikeras mengawinkan dia dengan dengan seorang lelaki cacat yang tidak dia sukai. Sia-sia usaha si boru Sorbajati menolak. Dia meminta agar dibunyikan gendang di mana dia menari dan akan menentukan sikap.
Sewaktu menari di rumah, tiba-tiba dia melompat ke halaman sehingga terbenam ke dalam tanah. Si boru Sorbajati menjelma tumbuh sebagai pohon bagot atau pohon aren. Mitologi itu yang menjelaskan tuak dalam bahasa Batak Toba disebut aek (air) Sorbajati.
Bunuh diri dianggap sebagai perbuatan terlarang, maka tuak tidak dimasukkan pada sajian untuk Dewata. Tuak hanya menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang atau orang yang sudah meninggal. Pada masyarakat Batak Toba, tuak menjadi minuman adat pada upacara manuan ompu dan manulangi.
Ketika orang yang sudah bercucu meninggal, ditanam beberapa jenis tumbuhan di atas tambak atau kuburan. Menurut aturan adat, air dan tuak harus dituangkan pada tanaman di atas tambak. Inilah upacara manuan ompu. Kebiasaan ini sudah tidak terlalu dijalankan saat ini, biasanya yang dituangkan ke tambak hanya air.
Dalam upacara manulangi, para cucu memberikan makanan kepada neneknya. Para penerus meminta restu, nasehat dan petunjuk pembagian harta, disaksikan oleh pengetua adat. Makanan disajikan dengan air minum serta tuak.
Tuak yang digunakan untuk adat adalah tuak manis atau tangkasan. Dalam bahasa Batak Toba disebut tuak na tonggi. Dibandingkan dengan penggunaan dalam adat, tuak lebih banyak menjadi minuman sehari-hari kaum pria di pakter atau lapo tuak. Di Tanah Toba, biasanya kaum pria mendatangi pakter selepas bekerja di ladang. Sambil menikmati tuak mereka membaca koran, bermain catur atau menyanyi.
Tuak di pakter biasanya sudah dibenamkan raru, sejenis kulit kayu yang mengakibatkan peragian. Raru akan meningkatkan kadar alkohol dan mengurangi rasa manis tuak.
Penderes tuak disebut paragat yang berasal dari kata agat, pisau khusus untuk menyadap tuak. Resep membuat tuak berbeda-beda pada setiap paragat, dan bisa dikatakan ‘rahasia perusahaan’ yang diwariskan dari orang tua. Maka tidak siapa sembarang bisa menjadi paragat.
***
Di Indonesia, tanaman aren (Arenga pinnata) dapat berproduksi baik di daerah yang tanahnya subur pada ketinggian 500-800 meter di atas permukaan laut. Pada daerah yang ketinggiannya kurang dari 500 m dan lebih dari 800 m, tanaman aren tetap dapat tumbuh namun produksi buahnya kurang memuaskan.
Dengan karakter itu, sangat wajar tuak menjadi minuman sehari-hari orang dataran tinggi, seperti di tanah Minahasa. Mereka menyebut hasil sadapan pohon enau sebagai saguer. Sigar Mandey, seorang petani di desa Tinoor, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Tomohon sejak remaja hidup dari pohon saguer. Kini usianya 54 tahun. Sigar menjual saguer di warung istrinya di pinggir jalan raya Pineleng. Warung-warung makan Minahasa pada umumnya menjual saguer. Banyak yang percaya minum saguer sebelum makan, dapat mendongkrak selera.
Tapi di Minahasa, lima persen kandungan alkohol pada saguer tidak cukup. Cairan ini disuling lagi menjadi cap tikus. Sejak lima tahun lalu Sigar mengolah saguer menjadi cap tikus.
Satu seloki cap tikus tambah darah.
Minum dua seloki masuk penjara.
Tiga seloki bakal ke neraka.
Kalimat itu kerap diucapkan petani di Minahasa. Petani biasa meminum satu seloki cap tikus sebelum berangkat ke ladang untuk memompa semangat kerja. Bertambahnya seloki cap tikus yang ditenggak berarti bertambahnya tanda bahaya. Mereka tidak bercanda. Kadar alkohol cap tikus berkisar 40 sampai 75 persen. Makin bagus sistem penyulingannya, serta semakin lama disimpan, kadar alkohol cap tikus semakin tinggi. "Cap tikus yang bagus kalau dibakar (nyala) apinya biru,” kata Sigar.
Sigar membuat cap tikus di sebuah kebun aren milik kerabatnya. Kebun itu di sebuah lembah terjal, karakter kontur tanah yang mendukung pertumbuhan pohon aren. Sigar juga punya beberapa pohon aren di kebunnya. Tapi dia harus mencari pohon lain untuk dideres. Karena pohon aren tidak mengeluarkan saguer sepanjang tahun, tapi hanya yang sedang membuahkan mayang muda.
Untuk menders saguer, Sigar memanjat pohon enau dengan bantuan tangga. Secara hati hati dia kupas seludang pembungkus tongkol mayang. Bagian tongkol itu selanjutnya dia pukul-pukul dan elus dengan penuh perasaan. “Pohon ini harus disayang, kalau tidak saguer tidak lancar keluar,” kata Sigar.
Ketika buah mayang mulai matang dalam proses penyadapan, ujung tongkol bagian bawah ditakik atau dilubangi sedikit dengan pisau dan kemudian dibungkus daun. Bila setelah 3-4 hari kemudian terlihat rembesan cairan putih dari takikan tersebut, berarti proses penyadapan berhasil. Sebaliknya, berarti gagal kalau lubang takikan terus mengering.
Saguer sejak keluar dari mayang pohon enau sudah mengandung alkohol. Kadar alkohol yang dikandung saguer tergantung pada cara menuai dan penggunaan penampung saguer saat menetes keluar dari mayang pohon enau. Semakin asam saguer, kata dia, berarti kadar alkoholnya makin tinggi. Di sejumlah daerah di Minahasa, petani tidak hanya mengambil saguer yang asam, tapi juga yang manis untuk dimasak menjadi gula aren.
Setiap hari dua kali Sigar memanjat pohon aren yang sama. Di pagi hari antara pukul 08.00 hingga 10.00, dia memanjat untuk mengambil nira yang tertampung. Panjatan di sore hari untuk melubangi tongkol mayang agar nira tetap menetes.
Sebelum melakukan penyulingan, Sigar menyaring saguer yang berwarna putih seperti susu hingga benar-benar bersih. Saguer dia masukkan ke tong yang diletakkan ke di atas lubang kayu api. Sepotong bambu sepanjang empat meter dipasang tegak lurus, ujungnya dimasukkan ke lubang di tengah tong. Ujung atas bambu berdiameter 10 centimeter ini dihubungkan dengan bambu lain yang mengarah menjauhi tong. Panjangnya sekitar 8 meter. Ujung bambu kedua pun disambung lagi dengan bambu lain yang mengarah mendekati tong. Total, Sigar menggunakan 25 meter bambu untuk membentuk pipa penyulingan yang membentuk segitiga. Ujung bambu terakhir didekatkan dengan jerigen, sebagai muara uap hasil penyulingan.
“Kenapa sangat panjang bambu yang dipakai?” tanya saya.
“Makin panjang bambunya, alkohol makin tinggi. Lima meter saja sudah bisa, tapi alkholnya bisa hanya 35 persen,” kata Sigar.
Untuk memasak saguer 50 liter saguer yang akan menghasilkan 15 liter saguer, Sigar membutuhkan waktu tiga jam. “Kayu harus terus terbakar,” kata dia.
Sigar menjual cap tikus Rp 6.000 per liter. Sementara saguer hanya Rp 2.000 per liter. Selain untuk langsung dikonsumsi, cap tikus menjadi bahan baku untuk produk minuman kemasan dalam botol yang banyak beredar di Minahasa. Merek yang terkenal adalah Anggur Kesegaran dan CO.
Diperkirakan produksi cap tikus Minahasa per bulan mencapai sekitar 800.000 liter. Sudah lama ada usulan agar pemerintah daerah menarik retribusi dari cap tikus. Ini usulan dilematis. Sebab mengundang-undangkan retribusi produksi ataupun pemasaran cap tikus berarti melegalisasi produksinya. Sementara itu, aparat kepolisian kerap menuding cap tikus menyumbang tingginya angka kriminalitas di Minahasa.
Di Minahasa saguer dan cap tikus digunakan dalam upacara kampetan atau memanggil ruh dotu-dotu atau nenek moyang. Upacara ini biasanya digelar saat bulan baru atau bulan purnama. Lokasinya di tempat khusus yang dihormati penduduk desa karena biasa dipakai generasi silam untuk berdoa atau bersemadi.
Kampetan digelar untuk mencari tahu adanya ketidakwajaran di sebuah desa. “Dotu akan kasih tahu kalau ada hal yang salah, atau sesuatu yang akan terjadi. Misalnya akan ada gempa, orang yang rumah tangga berantakan, atau ada anak muda yang hamil di luar nikah,” kata Turambih Moningka.
Turambih seorang petani saguer dan pembuat gula aren di Desa Kayawu, Kecamatan Tomohon Utara, Kabupaten Tomohon. Persis di depan rumahnya terdapat tempat berdoa yang dipakai orang Kayawu menggelar upacara kampetan. Sepintas, tempat itu seperti kompleks pemakaman, berpagar, dan dari luar terlihat dapat menampung orang cukup banyak.
Untuk upacara kampetan disiapkan sejumlah sesaji, yakni nasi beserta lauk pauk 9 bungkus, telur ayam 9 butir dan satu mentah, pinang 9 biji dibelah, tabaku (rokok linting), sirih tiga lembar, dan cap tikus atau saguer. “Cap tikus dimasukkan di kower atau seloki dari bambu. Semua diletakkan di atas daun pisang. Kalau perlu dibakar dupa,” kata Turambih.
Pemimpin upacara harus seorang tonaas, gelar yang diemban seseorang sebagai penunjukan arwah nenek moyang. Seorang tonaas tidak harus sepuh, bisa juga berusia muda, asalkan dia dianggap ‘berbakat’.
Ketika semerbak bau dupa menyergap udara, doa-doa dipanjatkan. Dotu akan datang merasuk ke tubuh salah satu peserta upacara. “Dotu yang datang bisa dari mana saja, bisa dari Minahasa, dari Sangihe atau yang dari pulau Jawa. Kalau yang datang lebih dari satu dotu, mereka akan saling baku tamang (saling bicara dan bertanya) dalam bahasa lama,” kata Turambih.
Selama singgah di tubuh orang lain, arwah dotu menyantap sajian yang telah disiapkan. “Kadang ada dotu yang minum cap tikus sampai enam botol. Tapi setelah sadar, orang yang kerasukan tidak mabuk,” kata dia.
Kampetan juga bisa digelar untuk tujuan khusus, atas permintaan orang yang ingin kepentingan bisnisnya dilindungi atau ingin mendapat perlindungan supranatural sebelum ke tempat berbahaya. Menurut Turambih pernah beberapa pengusaha dan anggota DPR jauh-jauh datang ke Kayawu untuk tujuan khusus tadi. “Pernah ada 11 orang datang dari Jawa minta ‘pegangan’ karena mau ke Aceh,” kata Turambih.
“Tentara?” tanya saya.
“Mungkin. Mereka datang malam-malam minta dibikin itu upacara,” kata dia.
“Jadi upacara itu juga bisa untuk orang luar?”
“Siapa saja bisa, orang dari luar Minahasa juga boleh,” kata Turambih.
“Dari mana mereka tahu di tempat ini bisa mendapat ‘pegangan’?” tanya saya.
“Mungkin ada yang beri tahu mereka supaya ke sini,” kata dia.
Dalam upacara untuk memperoleh ‘pegangan’ tidak perlu mengundang ruh dotu datang. “Kita tunggu ada burung munguni datang. Kalau datang berbunyi tiga kali, dia direstui,” kata Turambih.
Munguni sejenis burung jalak.
“Waktu itu burung munguni datang?” tanya saya.
“Datang, bunyi tiga kali.”
***
Selain Minahasa, orang Bali juga dekat hidupnya dengan arak. Namun penghasil arak sudah tak banyak di Pulau Dewata. Tak banyak desa di Balui seperti Merita, yang mata pencaharian utama masyarakatnya menyuling arak. Arak Bali nomor satu biasanya berasal dari desa di Kecamatan Budakeling, Kabupaten Karangasem ini.
Hanya sekitar 50 dari total 350 kepala keluarga di Merita yang tidak memproduksi arak. Tidak hanya kaum pria, banyak ibu di Merita lihai membuat arak. Ni Made Catri salah satunya. Catri belajar menyuling arak dari ayahnya, semasa dia masih remaja. Dia tidak tahu berapa usia persisnya. Dia hanya ingat ketika Gunung Agung meletus untuk kedua kalinya di tahun 1963, usianya sekitar 8 tahun.
Catri menyuling arak di dapur yang terpisah dengan banguna utama rumahnya, seperti rumah desa di Bali umumnya. Catri hanya memakai tiga peralatan sederhana, kaleng bekas minyak goreng untuk memasak tuak yang disebut belek, jerigen penampung uap arak, dan pengantang yakni bamboo sepanjang 1,5 meter untuk menyalurkan uap arak.
Biasanya satu kali penyulingan, Catri memasak sekitar 10 liter tuak dalam belek.
Pada jerigen penampung uap, Catri memberi tanda batas untuk hasil penyulingan terbaik. Volume arak yang mencapai batas itu hanya sekitar 1,5 botol bir atau sekitar 1,5 liter. “Semakin lama, air yang menetes dari bambu semakin banyak. Tapi arak yang bagus hanya sampai 1,5 liter pertama,” kata Catri.
Kalau 1,5 liter pertama tercapai, Catri membuang isi belek dan mengisinya kembali dengan tuak baru untuk disuling lagi. Kalau musim sedang baik, dalam sehari Catri bisa membuat 5 botol arak nomor satu dan 10 botol arak nomor dua. Di musim penghujan hasil semakin sedikit karena kualitas air nira kurang baik. Kalau musim tuak sedang baik, menyuling arak bisa dilakukan 24 jam. Di rumah desa di Bali, lumrah ada anggota keluarga yang menunggui dapur, tidur dan makan di sana.
Dengan metode tradisional, tentu saja kapasitas produksi arak Desa Merita sangat kecil. Karena itu sejak lima tahun terakhir marak peredaran arak methanol asal daerah Sediman yang pembuatannya dengan bahan kimia dan alkohol. Bila dikonsumsi sedikit berlebih, arak methanol bisa mengakibatkan kebutaan. Karena itu aparat keamanan kerap merazia perdagangan arak methanol. Arak methanol biasanya dijual cuma sekitar Rp 4.000 per liter, sementara arak tradisional nomor satu dan nomor dua masing-masing Rp 8.000 dan Rp 5.000 per liter.
Meski terkadang takut-takut berdagang arak, orang Merita masih menggantungkan hidupnya pada produksi arak. Pasalnya orang Bali tetap akan membutuhkan arak sebagai elemen penting dalam acara pesta minum atau genjek.
Genjek hampir serupa cepung, dimainkan enam lelaki duduk yang duduk melingkar. Sebagian melantuknkan tembang, sbagian lagi menirukan bebunyian alat musik. Dan yang pasti selama genjek, aliran arak tak boleh berhenti. Genjek biasanya menjadi bagian dalam upacara adat seperti pernikahan, kelahiran anak, dan pelebon atau ngaben.
Masyarakat Bali dilingkupi banyak ritual dalam menjalani keseharian hidup. Pembuat arak juga melakoni ritual untuk menyeimbangkan kosmologi setelah mengambil sesuatu dari alam. Pada hari tertentu dalam sebulan, mereka harus membuat sesaji tipat kelan. Dalam satu kelan ada enam ketupat sebutir telur rebus. Hari untuk menyampaikan sesaji ditentukan dalam anggar kasih, penanggalan hari-hari baik ritual agama. “Setelah melakukan sesaji, kelan harus dimakan oleh keluarga. Tidak boleh dibuang,” kata Catri.
Meski melakoni sederet proses menyuling arak, Catri merasa dirinya tidak punya kuasa membuat arak yang bagus. Orang Merita percaya dalam proses menyuling yang bekerja adalah Ida Batara Arak Api, dewa pembuat arak. Sebagai manusia mereka hanya medium. Kalau Batara Arak Api berkenan, kata Catri, bikin arak sebotol saja pasti akan bagus hasilnya.
“Kalau Dewa tidak merestui, masak tuak sebanyak apapun tidak akan jadi arak bagus.
Melupakan Indonesia
(diterbitkan oleh majalah PLAYBOY Indonesia edisi April 2006)
Melupakan Indonesia
Alfred Ginting
Maafkan bukan lupakan. Demi masa depan rekonsiliasi timor Leste dan Indonesia, permintaan maaf adalah kata kunci.
Mestre Manuel duduk di teras rumahnya yang menghadap ke laut. Pantai cuma lima kilometer jauhnya. Dari situ jelas tampak kebiruan Pulau Weter, bagian provinsi Maluku.
Rumah itu bercat biru, dindingnya 30 sentimeter. Tebal. Karena di dalamnya tersusun potongan karang. Orang Baucau lebih suka memakai koral daripada bata untuk bangunan. Karang melimpah di kota yang berjarak 180 kilometer dari Dili, ibukota Timor Leste, itu.
Baucau berdiri di atas lempeng karang berbentuk tempurung, makanya disebut kota karang. Pantaslah kalau orang seperti Manuel disebut penggenap ajaran perumpamaan dalam Injil tentang membangun rumah di atas batu. Bukan rumah di atas pasir yang mudah tergusur banjir dan tergerus badai.
Sudah 68 tahun usia Manuel. Rambut keritingnya memutih seluruh. Kalau hari itu bukan Minggu, Manuel pasti tidak bisa bersantai. Sudah hampir empat tahun, sejak kemerdekaan Timor Leste 2002, Manuel tidak bisa menikmati pensiunnya.
Dalam konstitusi, pemerintah Timor Leste menetapkan bahasa Porto dan Tetun sebagai bahasa resmi negara. Sekolah menggunakan bahasa Porto sebagai bahasa pengantar karena bahasa Tetun sangat miskin. Kata “terima kasih” saja tidak ada dalam bahasa Tetun. Orang Timor Leste menggunakan “obrigado” dari bahasa Porto.
Sejak masih dijajah Portugal Manuel telah mengajar bahasa Porto di Externato St Antonio Baucau. Dia pun sempat menjadi kepala di sekolah itu yang namanya berubah menjadi SMP Katolik Missi Baucau sejak aneksasi Timor Timur menjadi provinsi ke-27 Indonesia. Jarang ada guru yang fasih menguasai bahasa Portugis seperti Manuel. Ayah lima anak ini pun dipanggil kembali mengajar di sekolah yang kini namanya menjadi Eskola Pre Secundarya Baucau itu.
Sebagai bahasa resmi dalam pendidikan, maka buku pelajaran dan guru harus memakai bahasa Porto. Portugal memang pernah menduduki Timor Timur selama 450 tahun, tapi tidak mudah melaksanakan kebijakan bahasa ini. Bahasa Porto dikenal rumit. “Dalam bahasa Porto kata ‘makan’ untuk kemarin, pagi ini, siang, malam, besok, lusa, berbeda. Memang paling gampang bahasa Indonesia, ‘makan’ ya makan,” kata Manuel.
Guru harus belajar bahasa Porto. “Padahal mereka besar dari sistem pendidikan berbahasa Indonesia. Di sekolah anak-anak harus memakai bahasa Porto, sementara di rumah orang tua tidak bisa berbahasa Porto. Mau ngomong sama siapa? Batu?” kata Manuel.
Bagi Manuel, bahasa akan lebih mudah hidup bila menjadi bahasa pergaulan. “Bahasa Porto belum menjadi bahasa pergaulan,” kata dia.
Manuel sering didatangi guru lain di tengah pelajaran. “Tiba-tiba guru datang tanya satu kata yang dia tidak tahu bahasa Portonya, atau tidak tahu menjawab pertanyaan siswa,” kata Manuel. “Ini keputusan politik para pemimpin. Pasti tidak mudah melaksanakannya,” kata dia.
Sejak merdeka 20 Mei 2002, Timor Leste menjadi anggota Community of Portuguese Speaking Countries (CPLP). Di sana juga ada Portugal, Angola, Brazil, Cape Verde, Guinea Bissau, Mozambik, Sao Tome dan Principe. Komunitas ini memandang dirinya sebagai proyek politik yang dasar utamanya adalah bahasa, kaitan sejarah, dan warisan yang sama antara anggotanya.
Tidak seperti komunitas bekas koloni Inggris (Commonwealth) dan Prancis (Francophone) yang lebih mementingkan kerja sama ekonomi, promosi bahasa Porto adalah satu dari tiga tujuan utama CPLP.
Akibat kebijakan bahasa ini, meski sudah tua, tenaga Manuel masih berharga. Lain hal dengan putri bungsunya lulusan universitas swasta di kota Malang, sarjana pertanian. “SP, sarjana pengangguran,” kata Manuel sambil terkekeh. “Kalau mau jadi pegawai negeri ya harus kursus dulu karena ujian masuknya dalam bahasa Porto.”
***
Manuel mendapat gaji 150 dolar AS sebulan. Cukup besar bila dibandingkan dengan gaji guru di Indonesia. Tapi di Timor Leste ongkos hidup tinggi, disebut sebagai yang kedua tertinggi di Asia setelah Jepang. Sementara di regional yang sama negeri termuda di dunia ini masih yang termiskin. Besar upah minimum di Dili sekitar 130 dolar AS per bulan. Sementara pendapatan perkapita sekitar 300 dolar AS per tahun.
Tapi sungguh sulit menyebut biaya hidup di Timor Leste mahal. Karena negara ini belum memiliki indeks harga barang, jadi tidak bisa menghitung pergerakan inflasi. Dasar yang dipakai untuk menyebut mahal adalah harga sama di negara terdekat. Misalnya untuk makan nasi dengan daging ayam dan sayur di rumah makan Padang sekitar 1,5-2 dolar AS. Harga satu liter bensin premium di Timor Leste 0.80 sen dolar AS, hampir dua kali lipat harga premium di Indonesia.
Pemerintah Leste jelas tidak mensubsidi bahan bakar minyak. Dengan hanya mengandalkan pemasukan negara dari pendapatan pajak dan hibah negara donor, pemerintah Timor Leste menerapkan disiplin fiskal yang ketat.
Disiplin fiskal ini diharapkan tidak saja menyumbang penerimaan yang nyata bagi kas pembangunan negara, tapi juga memperkokoh fundamental ekonomi Timor Leste sejak dini. Di sisi yang lain, globalisasi ekonomi menemukan bentuk sejatinya di sana dalam wujud pajak impor mobil yang rendah. Besarnya hanya 1 dolar AS per cc kapasitas mesin. Karena itu untuk kota sekecil Dili, jumlah mobil mewah yang berseliweran sangat banyak. Di sana, Toyota Land Cruiser Prado varian menengah (3.000 cc) bisa dibeli seharga Rp 400 juta. Kalau mau lebih murah, banyak dealer menyediakan mobil bekas impor Singapura dan Jepang.
Akibat biaya hidup tinggi, masih banyak orang tua menyekolahkan anaknya di Indonesia. Seperti yang dilakukan Jovevina Maria, ibu dari tiga anak. Anak pertamanya telah menikah dan menetap di Inggris, yang kedua bekerja di Australia dan yang ketiga kuliah di Institut Teknologi Surabaya (ITS). “Kalau di Surabaya saya kirim 150 dolar tiap bulan dia sudah bisa menabung. Kalau di Dili mana cukup,” kata Vina.
Suami Vina mantan bupati sebelum kemerdekaan, kini menjadi penasehat Presiden Xanana Gusmao untuk masalah civil society. Untuk mencukupi ongkos rumah tangganya Vina membuka restoran Sol & Mar di daerah Pasir Putih. Letaknya di pinggir jalan dari pusat kota Dili menuju bukit Fatucama yang di puncaknya berdiri patung Kristus Raja (Christo Rei) yang terkenal.
Bangunan Sol & Mar sederhana dan terbuka menghadap pantai. Bahan utamanya papan dan tiangnya batang kelapa. Di ujung petang, banyak orang asing mencari keringat di sekitar patung Christo Rei. Ada yang bersepeda. Ada yang jogging menuju tanjung Fatucama, meniti anak tangga bukit, melalui gua-gua buatan berisi ornamen yang melukiskan kisah sengsara penyaliban Yesus di Bukit Golgota.
Sejak dulu Pasir Putih telah menjadi daya tarik wisata, seiring dengan usaha rezim Orde Baru menjadikan patung Kristus Raja sebagai landmark Timor Timur. Hampir setiap publikasi mengenai Timor Timur disertai foto Christo Rei dan pantai yang mengitarinya. Pantainya bersih. Pasirnya putih. Ombaknya cukup tenang, aman untuk berenang.
Christo Rei memang kalah tinggi dengan patung Christo Redentor di puncak Gunung Corcovado, Rio de Janeiro, Brazil, yang 38 meter. Sebenarnya Orde Baru bukan tidak sanggup membangun lebih tinggi. Tapi tinggi 17 meter Christo Rei merepresentasi angka tanggal kemerdekaan RI 17 Agustus.
Di Christo Redentor, Yesus dalam gestur tangan sedang membentang ke arah kota Rio de Janeiro sebagai simbol pemberkatan. Sementara di Christo Rei Yesus menadahkan tangan. Tak biasanya Kristus digambarkan dalam gestur seperti meminta sesuatu. Arah menghadapnya pun ke barat, ke arah Pulau Jawa. Karena itu patung perunggu ini dianggap sebagai simbol yang dipakai Orde Baru untuk menaklukkan hati masyarakat Timor Timur yang mayoritas Katolik.
Pelanggan Vina kebanyakan para pendatang yang bersantai di pinggir pantai. Kalau tidak bekerja untuk misi PBB atau lembaga nirlaba internasional, mereka adalah anak muda asal Portugal atau Brazil. Di Timor Leste, anak muda itu menjalani estagio -kira kira serupa Kuliah Kerja Nyata- sebagai pengajar bahasa Porto untuk guru.
Vina menikmati berkah dari banyaknya orang asing yang berurusan di Timor Timor. Tapi kalau dibandingkan dengan masa referendum 1999 sampai kemerdekaan 2002, orang asing di Timor Leste terus berkurang. “Pengunjung ke sini semakin sepi. Dan akan terus berkurang. Bulan Mei tugas PPB akan habis, mereka keluar dari sini. Kalaupun ada yang tersisa, paling tidak banyak. Turis yang benar-benar berwisata ke sini masih jarang,” kata Vina.
Timor Leste sempat mengalami laju ekonomi luar biasa di masa Administrasi Peralihan PBB di Timor Leste (UNTAET). Pertumbuhan ekonominya sempat mencapai 15 persen pada tahun 2000 dan 18 persen pada 2001. Namun, setelah kemerdekaan 20 Mei 2002, pertumbuhan ekonomi tiba-tiba menukik tajam menembus angka nol persen.
Geliat ekonomi menakjubkan itu tak lain adalah efek rembesan dari aktivitas belanja organisasi internasional dan lembaga nirlaba di sana. Bukan hasil nyata pemulihan dan perbaikan fundamental ekonomi. Sekitar tiga miliar dolar AS mengalir ke semua barang dan jasa kebutuhan PBB, termasuk personelnya.
Ketika populasi malai (istilah setempat untuk orang asing) terus berkurang, maka hotel, restoran, dan bar di sana pun semakin sepi konsumen. Gejala itu terlihat jelas dari telah tutupnya Hotel Central Maritime, hotel terapung berbintang lima dari bekas kapal laut milik pengusaha Thailand.
Hotel berkapasitas 130 kamar itu sempat menjadi tempat favorit orang asing yang singgah dan menjadi ikon baru Timor Leste setelah patung Christo Rei. Sudah hampir setahun kapal berbobot lebih dari 200 ton itu hanya tertambat hening tanpa penghuni sekitar 100 meter dari bibir pantai Nitiau.
***
Vina pernah tinggal di Bandung mengikuti suaminya sekolah di Akademi Pendidikan Dalam Negeri (APDN, kini STPDN). Ketika Gunung Galunggung meletus untuk kedua kalinya di tahun 1982, Vina sudah dua tahun di Bandung.
Vina memutus pembicaraan. Dia menekan tombol-tombol telepon genggamnya.
“Halo… Udang sudah ada? Oke sebentar lagi saya ambil ke sana.” Pembicaraan diputus. “Akhirnya udang datang juga. Belakangan ini saya tidak menjual udang. Mungkin truk yang masuk dari Atambua sudah bisa masuk dengan lancar,” kata Vina yang menjual sekilogram olahan udang windu seharga 18 dolar.
Vina mengatakan Timor Leste sangat bergantung kepada Indonesia dalam perdagangan. Kebutuhan beras saja, kata dia, sebagian besar dipasok dari Kupang. “Sewaktu integrasi orang jadi malas menanam padi. Pegawai negeri dapat beras, pemerintah juga sering menjual beras murah. Karena keenakan jarang orang ke sawah. Sekarang orang mulai menanam padi lagi,” kata dia.
Saya berbicara dengan Vina sebulan lewat setelah insiden penembakan terhadap tiga warga Nusa Tenggara Timur di perbatasan Timor Leste, 6 Januari lalu. Ketiganya ditembak ketika sedang mencari ikan di Sungai Malibaka, Turiskain, yang menurut petugas Border Patrol Unit (BPU) Timor Leste telah memasuki wilayah mereka sejauh 50 meter.
Insiden ini sempat memicu panasnya pernyataan dari pejabat kedua negara. Pejabat Indonesia menyebut penembakan itu sebagai aksi berlebihan aparat BPU menghadapi warga tak bersenjata. Sementara pihak Departemen Luar Negeri Timor Leste menyebut ketiga korban adalah bekas milisi penyokong integrasi. Jadi alasan mereka mencari ikan sampai melanggar perbatasan, sangat sangat diragukan.
Laksana bola biliar, insiden ini menyodok kemana-mana. Dua mahasiswa Timor Leste di Yogyakarta dianiaya oleh orang keturunan Timtim anti-kemerdekaan. Bahkan sekitar 1.500 eks pengungsi dan bekas milisi di Atambua melakukan aksi bakar bendera Timor Leste dan poster Xanana Gusmao. Aksi itu ditanggapi dengan panas di Timor, meski tidak ditimpali aksi serupa.
“Biar saja mereka bakar bendera kita. Kalau kita mau balas, mau membakar bendera siapa? Indonesia? Tidak. Mereka itu kan tidak punya bendera,” kata Fernando Alves, seorang pemuda bersemangat yang bekerja sebagai ajudan untuk seorang menteri.
Ucapan Fernando membuat saya membenarkan anggapan tentang permusuhan di antara saudara kerap melebihi permusuhan terhadap orang lain. Masih tersisanya sekitar 25.000 jiwa masyarakat keturunan Timtim di wilayah Indonesia memang masih menyimpan masalah. Upaya repatriasi eks pengungsi kembali ke tanah kelahirannya memang menunjukkan hasil sangat baik dari jumlah pengungsi pascajajak pendapat mencapai 250.000 jiwa. Asas ius sanguinis tetap menggariskan mereka sebagai warga negara Timor Leste. Namun pilihan yang sekonyong-konyong telah ideologis menahan mereka untuk kembali ke tanah kelahiran yang telah merdeka.
“Sebenarnya orang Timor tidak pernah membenci orang Indonesia. Pemerintah Indonesia sudah banyak melakukan kemajuan di Timor Timur. Cuma memang susah melupakan apa yang dilakukan tentara (TNI) di sini. Semua yang dilakukan tentara, membuat apa yang dilakukan pemerintah (Indonesia) gagal memenangkan hati rakyat,” tutur Vina.
***
Suatu pagi di tahun 1986, sekolah yang dipimpin Manuel geger. Pemicunya sebuah surat kaleng yang diduga dikirim oleh seorang siswa. “Akan terjadi sesuatu kepada guru IPS kalau tidak mau mengajar, juga kepada kepala sekolah,” tutur Manuel mengulangi isi surat bernada ancaman itu.
Seharusnya masalah itu tidak menggegerkan kalau saja sang guru IPS, Subowo namanya, asal Solo, panik dan langsung mengadu ke markas Korem setempat. Manuel dipanggil ke markas Korem. Jawabannya dianggap tidak memuaskan. Satuan Kopassus yang bertugas di wilayah itu menanggapi surat kaleng itu dengan serius dan mengambil alih pengusutan. Seorang perwira operasi Kopassus di Baucau, Kapten Zacky Anwar meminta Manuel untuk mengusut pengirim surat misterius.
Esok sorenya Manuel dipanggil lagi. Dalam kesempatan itulah Manuel mengenal atasan Zacky, Prabowo yang ketika itu berpangkat Mayor. Jawaban Manuel belum memuaskan juga. “Jadi di sekolah Bapak sekarang ada clandestine ya,” tutur Manuel menirukan ucapan Prabowo ketika itu. “Baru itu saya mendengar istilah clandestine,” ucap Manuel sembari terkekeh.
Mayor Prabowo mendesak Manuel untuk memeriksa silang semua tulisan tangan siswa untuk menemukan penulis surat kaleng. Besoknya Manuel pun mengumpulkan seluruh buku catatan siswa laki-laki. “Dari 90 buku siswa yang diperiksa ada lima buku yang tulisannya mirip dengan di surat kaleng.”
Tapi Manuel tidak segera melaporkan hasil pengusutannya ke perwira Kopassus. “Waktu itu Pastor ketua yayasan mau keluar kota dan dia meminta saya untuk tidak ke markas Korem selama dia tidak ada. Dia juga melarang ada pemeriksaan sebelum dia kembali,” kata Manuel.
Karena ditunggu tidak datang, Zacky mendatangi Manuel ke sekolah. Manuel mengajukan alasannya sesuai perintah ketua yayasan. “Pak Zacky meminta saya untuk menyebut nama siswa yang dicurigai. Tapi saya bilang tunggu Pastor datang,” kata Manuel dengan nada tenang.
Zacky tetap memaksa. Kekukuhan Manuel membuahkan tamparan.
***
“Tapi saya tidak pernah mendendam. Mungkin anak saya yang lebih sakit hati,” kata Manuel tentang kejadian dua dasawarsa lalu itu.
Ada ribuan atau bahkan jutaan kisah yang derajatnya berlipat dari yang dialami Manuel di bumi Timor Lorosae selama pendudukan Indonesia tahun 1974-1999. Kisah-kisah itulah yang diantaranya terekam dalam laporan CAVR (Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi) yang diserahkan Xanana Gusmao kepada Sekjen PBB Koffi Annan, Januari lalu.
Laporan itu setebal 2.500 halaman bertajuk Chega! (Cukup!) itu memerahkan kuping petinggi republik saudara tua. Di dalamnya disebutkan terjadi 102.000 –setara delapan persen dari populasi Timor Leste saat ini- hingga 180.000 kematian semasa 24 tahun. Jiwa yang melayang itu tak hanya akibat senjata dan kekerasan tapi juga, kelaparan dan penyakit akibat lemahnya kebijakan pemerintah Indonesia di provinsi bungsunya. Xanana menekankan jumlah itu juga termasuk pembunuhan yang dilakukan oleh warga Timtim sendiri atas saudaranya.
TNI dan milisi penyokong integrasi disebut menumpaskan sekitar 1.500 nyawa pascajajak pendapat Agustus 1999. Salah satu hal paling dibantah pemerintah Indonesia adalah laporan itu menyebutkan TNI menggunakan bom napalm melawan penduduk sipil. “Ini adalah perang angka dan data tentang sesuatu yang tidak pernah terjadi. Bagaimana mungkin TNI menggunakan napalm dimana ketika itu Indonesia tidak mampu mengimpor atau membuat sendiri bom napalm,” bantah Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.
Tahun 1980 PBB telah melarang penggunaan bom napalm untuk melawan masyarakat sipil. Bom yang juga disebut jellied gasoline ini sering digunakan tentara Amerika pada Perang Vietnam.
CAVR yang dibentuk tahun 2001 diberi mandat mencari kebenaran melalui antara lain kegiatan audiensi publik dengan delapan kelompok korban (antara lain dengan tahanan politik, korban kelaparan, perempuan, dan anak). Selama tiga tahun, CAVR mendengarkan pengakuan sekitar 8.000 korban.
Xanana menekankan tujuan penyampaian laporan itu adalah untuk memantapkan posisi kebenaran tentang apa yang terjadi dan agar kejadian serupa tak terulang. "Kami menerima hasil laporan itu sebagai jalan untuk mengobati luka,” kata Xanana. “Jumlah (korban) bisa diperdebatkan. Tapi tidak terlalu penting melihat pada angkanya. Yang penting adalah melihatnya sebagai sebuah pelajaran. Kami tidak menuntut keadilan hukuman tapi keadilan untuk memperbaiki.”
Xanana menekankan model pengalaman Afrika Selatan dimana Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi mengekspose ulah brutal kebijakan apartheid dan memberi ruang bersuara bagi korban berkulit hitam. Dengan alasan itu Xanana menolak rekomendasi CAVR agar PBB menggelar mahkamah internasional untuk pelaku pelanggaran HAM di Timor Leste.
Di dalam negeri, ada kalangan yang menganggap laporan itu sebagai kemajuan besar dalam cita-cita rekonsiliasi. Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara bahkan merasa pemerintah perlu lebih rendah hati menanyikapi laporan itu.
“Indonesia harus mengakui keputusan Presiden Soeharto untuk menginvasi Timor Timur adalah salah dan menyadari kemudian, keputusan itu tidak memiliki manfaat secara politik maupun ekonomi,” kata Abdul Hakim. Pemerintah Indonesia, menurut Abdul Hakim, harus mempelajari laporan itu, dan mengajukan versinya sendiri kepada pemerintah Timor Leste dan masyarakat internasional, mengklarifikasi bagian mana dari laporan itu yang salah. “Seperti yang dilakukan negara lain, seperti Jepang, Korea dan Afrika Selatan, Indonesia harus mengakui telah melakukan kesalahan dan harus meminta maaf,” kata Abdul Hakim.
Abdul Hakim mengajukan prinsip mengobati sakit hati yang sangat sederhana. Timor Leste pun tidak perlu melupakan Indonesia, forgive but not forget. Memang terlalu jauh bila setelahnya mengharapkan masyarakat Timor Leste mengingat Indonesia pernah menjadi sinterklas dengan segalah hadiah semasa integrasi. Tetapi yang pasti, permintaan maaf itu adalah suplemen bagi harga diri Indonesia. Desculpa Indonesia. Boa Sorte, Timor Leste.
Melupakan Indonesia
Alfred Ginting
Maafkan bukan lupakan. Demi masa depan rekonsiliasi timor Leste dan Indonesia, permintaan maaf adalah kata kunci.
Mestre Manuel duduk di teras rumahnya yang menghadap ke laut. Pantai cuma lima kilometer jauhnya. Dari situ jelas tampak kebiruan Pulau Weter, bagian provinsi Maluku.
Rumah itu bercat biru, dindingnya 30 sentimeter. Tebal. Karena di dalamnya tersusun potongan karang. Orang Baucau lebih suka memakai koral daripada bata untuk bangunan. Karang melimpah di kota yang berjarak 180 kilometer dari Dili, ibukota Timor Leste, itu.
Baucau berdiri di atas lempeng karang berbentuk tempurung, makanya disebut kota karang. Pantaslah kalau orang seperti Manuel disebut penggenap ajaran perumpamaan dalam Injil tentang membangun rumah di atas batu. Bukan rumah di atas pasir yang mudah tergusur banjir dan tergerus badai.
Sudah 68 tahun usia Manuel. Rambut keritingnya memutih seluruh. Kalau hari itu bukan Minggu, Manuel pasti tidak bisa bersantai. Sudah hampir empat tahun, sejak kemerdekaan Timor Leste 2002, Manuel tidak bisa menikmati pensiunnya.
Dalam konstitusi, pemerintah Timor Leste menetapkan bahasa Porto dan Tetun sebagai bahasa resmi negara. Sekolah menggunakan bahasa Porto sebagai bahasa pengantar karena bahasa Tetun sangat miskin. Kata “terima kasih” saja tidak ada dalam bahasa Tetun. Orang Timor Leste menggunakan “obrigado” dari bahasa Porto.
Sejak masih dijajah Portugal Manuel telah mengajar bahasa Porto di Externato St Antonio Baucau. Dia pun sempat menjadi kepala di sekolah itu yang namanya berubah menjadi SMP Katolik Missi Baucau sejak aneksasi Timor Timur menjadi provinsi ke-27 Indonesia. Jarang ada guru yang fasih menguasai bahasa Portugis seperti Manuel. Ayah lima anak ini pun dipanggil kembali mengajar di sekolah yang kini namanya menjadi Eskola Pre Secundarya Baucau itu.
Sebagai bahasa resmi dalam pendidikan, maka buku pelajaran dan guru harus memakai bahasa Porto. Portugal memang pernah menduduki Timor Timur selama 450 tahun, tapi tidak mudah melaksanakan kebijakan bahasa ini. Bahasa Porto dikenal rumit. “Dalam bahasa Porto kata ‘makan’ untuk kemarin, pagi ini, siang, malam, besok, lusa, berbeda. Memang paling gampang bahasa Indonesia, ‘makan’ ya makan,” kata Manuel.
Guru harus belajar bahasa Porto. “Padahal mereka besar dari sistem pendidikan berbahasa Indonesia. Di sekolah anak-anak harus memakai bahasa Porto, sementara di rumah orang tua tidak bisa berbahasa Porto. Mau ngomong sama siapa? Batu?” kata Manuel.
Bagi Manuel, bahasa akan lebih mudah hidup bila menjadi bahasa pergaulan. “Bahasa Porto belum menjadi bahasa pergaulan,” kata dia.
Manuel sering didatangi guru lain di tengah pelajaran. “Tiba-tiba guru datang tanya satu kata yang dia tidak tahu bahasa Portonya, atau tidak tahu menjawab pertanyaan siswa,” kata Manuel. “Ini keputusan politik para pemimpin. Pasti tidak mudah melaksanakannya,” kata dia.
Sejak merdeka 20 Mei 2002, Timor Leste menjadi anggota Community of Portuguese Speaking Countries (CPLP). Di sana juga ada Portugal, Angola, Brazil, Cape Verde, Guinea Bissau, Mozambik, Sao Tome dan Principe. Komunitas ini memandang dirinya sebagai proyek politik yang dasar utamanya adalah bahasa, kaitan sejarah, dan warisan yang sama antara anggotanya.
Tidak seperti komunitas bekas koloni Inggris (Commonwealth) dan Prancis (Francophone) yang lebih mementingkan kerja sama ekonomi, promosi bahasa Porto adalah satu dari tiga tujuan utama CPLP.
Akibat kebijakan bahasa ini, meski sudah tua, tenaga Manuel masih berharga. Lain hal dengan putri bungsunya lulusan universitas swasta di kota Malang, sarjana pertanian. “SP, sarjana pengangguran,” kata Manuel sambil terkekeh. “Kalau mau jadi pegawai negeri ya harus kursus dulu karena ujian masuknya dalam bahasa Porto.”
***
Manuel mendapat gaji 150 dolar AS sebulan. Cukup besar bila dibandingkan dengan gaji guru di Indonesia. Tapi di Timor Leste ongkos hidup tinggi, disebut sebagai yang kedua tertinggi di Asia setelah Jepang. Sementara di regional yang sama negeri termuda di dunia ini masih yang termiskin. Besar upah minimum di Dili sekitar 130 dolar AS per bulan. Sementara pendapatan perkapita sekitar 300 dolar AS per tahun.
Tapi sungguh sulit menyebut biaya hidup di Timor Leste mahal. Karena negara ini belum memiliki indeks harga barang, jadi tidak bisa menghitung pergerakan inflasi. Dasar yang dipakai untuk menyebut mahal adalah harga sama di negara terdekat. Misalnya untuk makan nasi dengan daging ayam dan sayur di rumah makan Padang sekitar 1,5-2 dolar AS. Harga satu liter bensin premium di Timor Leste 0.80 sen dolar AS, hampir dua kali lipat harga premium di Indonesia.
Pemerintah Leste jelas tidak mensubsidi bahan bakar minyak. Dengan hanya mengandalkan pemasukan negara dari pendapatan pajak dan hibah negara donor, pemerintah Timor Leste menerapkan disiplin fiskal yang ketat.
Disiplin fiskal ini diharapkan tidak saja menyumbang penerimaan yang nyata bagi kas pembangunan negara, tapi juga memperkokoh fundamental ekonomi Timor Leste sejak dini. Di sisi yang lain, globalisasi ekonomi menemukan bentuk sejatinya di sana dalam wujud pajak impor mobil yang rendah. Besarnya hanya 1 dolar AS per cc kapasitas mesin. Karena itu untuk kota sekecil Dili, jumlah mobil mewah yang berseliweran sangat banyak. Di sana, Toyota Land Cruiser Prado varian menengah (3.000 cc) bisa dibeli seharga Rp 400 juta. Kalau mau lebih murah, banyak dealer menyediakan mobil bekas impor Singapura dan Jepang.
Akibat biaya hidup tinggi, masih banyak orang tua menyekolahkan anaknya di Indonesia. Seperti yang dilakukan Jovevina Maria, ibu dari tiga anak. Anak pertamanya telah menikah dan menetap di Inggris, yang kedua bekerja di Australia dan yang ketiga kuliah di Institut Teknologi Surabaya (ITS). “Kalau di Surabaya saya kirim 150 dolar tiap bulan dia sudah bisa menabung. Kalau di Dili mana cukup,” kata Vina.
Suami Vina mantan bupati sebelum kemerdekaan, kini menjadi penasehat Presiden Xanana Gusmao untuk masalah civil society. Untuk mencukupi ongkos rumah tangganya Vina membuka restoran Sol & Mar di daerah Pasir Putih. Letaknya di pinggir jalan dari pusat kota Dili menuju bukit Fatucama yang di puncaknya berdiri patung Kristus Raja (Christo Rei) yang terkenal.
Bangunan Sol & Mar sederhana dan terbuka menghadap pantai. Bahan utamanya papan dan tiangnya batang kelapa. Di ujung petang, banyak orang asing mencari keringat di sekitar patung Christo Rei. Ada yang bersepeda. Ada yang jogging menuju tanjung Fatucama, meniti anak tangga bukit, melalui gua-gua buatan berisi ornamen yang melukiskan kisah sengsara penyaliban Yesus di Bukit Golgota.
Sejak dulu Pasir Putih telah menjadi daya tarik wisata, seiring dengan usaha rezim Orde Baru menjadikan patung Kristus Raja sebagai landmark Timor Timur. Hampir setiap publikasi mengenai Timor Timur disertai foto Christo Rei dan pantai yang mengitarinya. Pantainya bersih. Pasirnya putih. Ombaknya cukup tenang, aman untuk berenang.
Christo Rei memang kalah tinggi dengan patung Christo Redentor di puncak Gunung Corcovado, Rio de Janeiro, Brazil, yang 38 meter. Sebenarnya Orde Baru bukan tidak sanggup membangun lebih tinggi. Tapi tinggi 17 meter Christo Rei merepresentasi angka tanggal kemerdekaan RI 17 Agustus.
Di Christo Redentor, Yesus dalam gestur tangan sedang membentang ke arah kota Rio de Janeiro sebagai simbol pemberkatan. Sementara di Christo Rei Yesus menadahkan tangan. Tak biasanya Kristus digambarkan dalam gestur seperti meminta sesuatu. Arah menghadapnya pun ke barat, ke arah Pulau Jawa. Karena itu patung perunggu ini dianggap sebagai simbol yang dipakai Orde Baru untuk menaklukkan hati masyarakat Timor Timur yang mayoritas Katolik.
Pelanggan Vina kebanyakan para pendatang yang bersantai di pinggir pantai. Kalau tidak bekerja untuk misi PBB atau lembaga nirlaba internasional, mereka adalah anak muda asal Portugal atau Brazil. Di Timor Leste, anak muda itu menjalani estagio -kira kira serupa Kuliah Kerja Nyata- sebagai pengajar bahasa Porto untuk guru.
Vina menikmati berkah dari banyaknya orang asing yang berurusan di Timor Timor. Tapi kalau dibandingkan dengan masa referendum 1999 sampai kemerdekaan 2002, orang asing di Timor Leste terus berkurang. “Pengunjung ke sini semakin sepi. Dan akan terus berkurang. Bulan Mei tugas PPB akan habis, mereka keluar dari sini. Kalaupun ada yang tersisa, paling tidak banyak. Turis yang benar-benar berwisata ke sini masih jarang,” kata Vina.
Timor Leste sempat mengalami laju ekonomi luar biasa di masa Administrasi Peralihan PBB di Timor Leste (UNTAET). Pertumbuhan ekonominya sempat mencapai 15 persen pada tahun 2000 dan 18 persen pada 2001. Namun, setelah kemerdekaan 20 Mei 2002, pertumbuhan ekonomi tiba-tiba menukik tajam menembus angka nol persen.
Geliat ekonomi menakjubkan itu tak lain adalah efek rembesan dari aktivitas belanja organisasi internasional dan lembaga nirlaba di sana. Bukan hasil nyata pemulihan dan perbaikan fundamental ekonomi. Sekitar tiga miliar dolar AS mengalir ke semua barang dan jasa kebutuhan PBB, termasuk personelnya.
Ketika populasi malai (istilah setempat untuk orang asing) terus berkurang, maka hotel, restoran, dan bar di sana pun semakin sepi konsumen. Gejala itu terlihat jelas dari telah tutupnya Hotel Central Maritime, hotel terapung berbintang lima dari bekas kapal laut milik pengusaha Thailand.
Hotel berkapasitas 130 kamar itu sempat menjadi tempat favorit orang asing yang singgah dan menjadi ikon baru Timor Leste setelah patung Christo Rei. Sudah hampir setahun kapal berbobot lebih dari 200 ton itu hanya tertambat hening tanpa penghuni sekitar 100 meter dari bibir pantai Nitiau.
***
Vina pernah tinggal di Bandung mengikuti suaminya sekolah di Akademi Pendidikan Dalam Negeri (APDN, kini STPDN). Ketika Gunung Galunggung meletus untuk kedua kalinya di tahun 1982, Vina sudah dua tahun di Bandung.
Vina memutus pembicaraan. Dia menekan tombol-tombol telepon genggamnya.
“Halo… Udang sudah ada? Oke sebentar lagi saya ambil ke sana.” Pembicaraan diputus. “Akhirnya udang datang juga. Belakangan ini saya tidak menjual udang. Mungkin truk yang masuk dari Atambua sudah bisa masuk dengan lancar,” kata Vina yang menjual sekilogram olahan udang windu seharga 18 dolar.
Vina mengatakan Timor Leste sangat bergantung kepada Indonesia dalam perdagangan. Kebutuhan beras saja, kata dia, sebagian besar dipasok dari Kupang. “Sewaktu integrasi orang jadi malas menanam padi. Pegawai negeri dapat beras, pemerintah juga sering menjual beras murah. Karena keenakan jarang orang ke sawah. Sekarang orang mulai menanam padi lagi,” kata dia.
Saya berbicara dengan Vina sebulan lewat setelah insiden penembakan terhadap tiga warga Nusa Tenggara Timur di perbatasan Timor Leste, 6 Januari lalu. Ketiganya ditembak ketika sedang mencari ikan di Sungai Malibaka, Turiskain, yang menurut petugas Border Patrol Unit (BPU) Timor Leste telah memasuki wilayah mereka sejauh 50 meter.
Insiden ini sempat memicu panasnya pernyataan dari pejabat kedua negara. Pejabat Indonesia menyebut penembakan itu sebagai aksi berlebihan aparat BPU menghadapi warga tak bersenjata. Sementara pihak Departemen Luar Negeri Timor Leste menyebut ketiga korban adalah bekas milisi penyokong integrasi. Jadi alasan mereka mencari ikan sampai melanggar perbatasan, sangat sangat diragukan.
Laksana bola biliar, insiden ini menyodok kemana-mana. Dua mahasiswa Timor Leste di Yogyakarta dianiaya oleh orang keturunan Timtim anti-kemerdekaan. Bahkan sekitar 1.500 eks pengungsi dan bekas milisi di Atambua melakukan aksi bakar bendera Timor Leste dan poster Xanana Gusmao. Aksi itu ditanggapi dengan panas di Timor, meski tidak ditimpali aksi serupa.
“Biar saja mereka bakar bendera kita. Kalau kita mau balas, mau membakar bendera siapa? Indonesia? Tidak. Mereka itu kan tidak punya bendera,” kata Fernando Alves, seorang pemuda bersemangat yang bekerja sebagai ajudan untuk seorang menteri.
Ucapan Fernando membuat saya membenarkan anggapan tentang permusuhan di antara saudara kerap melebihi permusuhan terhadap orang lain. Masih tersisanya sekitar 25.000 jiwa masyarakat keturunan Timtim di wilayah Indonesia memang masih menyimpan masalah. Upaya repatriasi eks pengungsi kembali ke tanah kelahirannya memang menunjukkan hasil sangat baik dari jumlah pengungsi pascajajak pendapat mencapai 250.000 jiwa. Asas ius sanguinis tetap menggariskan mereka sebagai warga negara Timor Leste. Namun pilihan yang sekonyong-konyong telah ideologis menahan mereka untuk kembali ke tanah kelahiran yang telah merdeka.
“Sebenarnya orang Timor tidak pernah membenci orang Indonesia. Pemerintah Indonesia sudah banyak melakukan kemajuan di Timor Timur. Cuma memang susah melupakan apa yang dilakukan tentara (TNI) di sini. Semua yang dilakukan tentara, membuat apa yang dilakukan pemerintah (Indonesia) gagal memenangkan hati rakyat,” tutur Vina.
***
Suatu pagi di tahun 1986, sekolah yang dipimpin Manuel geger. Pemicunya sebuah surat kaleng yang diduga dikirim oleh seorang siswa. “Akan terjadi sesuatu kepada guru IPS kalau tidak mau mengajar, juga kepada kepala sekolah,” tutur Manuel mengulangi isi surat bernada ancaman itu.
Seharusnya masalah itu tidak menggegerkan kalau saja sang guru IPS, Subowo namanya, asal Solo, panik dan langsung mengadu ke markas Korem setempat. Manuel dipanggil ke markas Korem. Jawabannya dianggap tidak memuaskan. Satuan Kopassus yang bertugas di wilayah itu menanggapi surat kaleng itu dengan serius dan mengambil alih pengusutan. Seorang perwira operasi Kopassus di Baucau, Kapten Zacky Anwar meminta Manuel untuk mengusut pengirim surat misterius.
Esok sorenya Manuel dipanggil lagi. Dalam kesempatan itulah Manuel mengenal atasan Zacky, Prabowo yang ketika itu berpangkat Mayor. Jawaban Manuel belum memuaskan juga. “Jadi di sekolah Bapak sekarang ada clandestine ya,” tutur Manuel menirukan ucapan Prabowo ketika itu. “Baru itu saya mendengar istilah clandestine,” ucap Manuel sembari terkekeh.
Mayor Prabowo mendesak Manuel untuk memeriksa silang semua tulisan tangan siswa untuk menemukan penulis surat kaleng. Besoknya Manuel pun mengumpulkan seluruh buku catatan siswa laki-laki. “Dari 90 buku siswa yang diperiksa ada lima buku yang tulisannya mirip dengan di surat kaleng.”
Tapi Manuel tidak segera melaporkan hasil pengusutannya ke perwira Kopassus. “Waktu itu Pastor ketua yayasan mau keluar kota dan dia meminta saya untuk tidak ke markas Korem selama dia tidak ada. Dia juga melarang ada pemeriksaan sebelum dia kembali,” kata Manuel.
Karena ditunggu tidak datang, Zacky mendatangi Manuel ke sekolah. Manuel mengajukan alasannya sesuai perintah ketua yayasan. “Pak Zacky meminta saya untuk menyebut nama siswa yang dicurigai. Tapi saya bilang tunggu Pastor datang,” kata Manuel dengan nada tenang.
Zacky tetap memaksa. Kekukuhan Manuel membuahkan tamparan.
***
“Tapi saya tidak pernah mendendam. Mungkin anak saya yang lebih sakit hati,” kata Manuel tentang kejadian dua dasawarsa lalu itu.
Ada ribuan atau bahkan jutaan kisah yang derajatnya berlipat dari yang dialami Manuel di bumi Timor Lorosae selama pendudukan Indonesia tahun 1974-1999. Kisah-kisah itulah yang diantaranya terekam dalam laporan CAVR (Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi) yang diserahkan Xanana Gusmao kepada Sekjen PBB Koffi Annan, Januari lalu.
Laporan itu setebal 2.500 halaman bertajuk Chega! (Cukup!) itu memerahkan kuping petinggi republik saudara tua. Di dalamnya disebutkan terjadi 102.000 –setara delapan persen dari populasi Timor Leste saat ini- hingga 180.000 kematian semasa 24 tahun. Jiwa yang melayang itu tak hanya akibat senjata dan kekerasan tapi juga, kelaparan dan penyakit akibat lemahnya kebijakan pemerintah Indonesia di provinsi bungsunya. Xanana menekankan jumlah itu juga termasuk pembunuhan yang dilakukan oleh warga Timtim sendiri atas saudaranya.
TNI dan milisi penyokong integrasi disebut menumpaskan sekitar 1.500 nyawa pascajajak pendapat Agustus 1999. Salah satu hal paling dibantah pemerintah Indonesia adalah laporan itu menyebutkan TNI menggunakan bom napalm melawan penduduk sipil. “Ini adalah perang angka dan data tentang sesuatu yang tidak pernah terjadi. Bagaimana mungkin TNI menggunakan napalm dimana ketika itu Indonesia tidak mampu mengimpor atau membuat sendiri bom napalm,” bantah Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono.
Tahun 1980 PBB telah melarang penggunaan bom napalm untuk melawan masyarakat sipil. Bom yang juga disebut jellied gasoline ini sering digunakan tentara Amerika pada Perang Vietnam.
CAVR yang dibentuk tahun 2001 diberi mandat mencari kebenaran melalui antara lain kegiatan audiensi publik dengan delapan kelompok korban (antara lain dengan tahanan politik, korban kelaparan, perempuan, dan anak). Selama tiga tahun, CAVR mendengarkan pengakuan sekitar 8.000 korban.
Xanana menekankan tujuan penyampaian laporan itu adalah untuk memantapkan posisi kebenaran tentang apa yang terjadi dan agar kejadian serupa tak terulang. "Kami menerima hasil laporan itu sebagai jalan untuk mengobati luka,” kata Xanana. “Jumlah (korban) bisa diperdebatkan. Tapi tidak terlalu penting melihat pada angkanya. Yang penting adalah melihatnya sebagai sebuah pelajaran. Kami tidak menuntut keadilan hukuman tapi keadilan untuk memperbaiki.”
Xanana menekankan model pengalaman Afrika Selatan dimana Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi mengekspose ulah brutal kebijakan apartheid dan memberi ruang bersuara bagi korban berkulit hitam. Dengan alasan itu Xanana menolak rekomendasi CAVR agar PBB menggelar mahkamah internasional untuk pelaku pelanggaran HAM di Timor Leste.
Di dalam negeri, ada kalangan yang menganggap laporan itu sebagai kemajuan besar dalam cita-cita rekonsiliasi. Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara bahkan merasa pemerintah perlu lebih rendah hati menanyikapi laporan itu.
“Indonesia harus mengakui keputusan Presiden Soeharto untuk menginvasi Timor Timur adalah salah dan menyadari kemudian, keputusan itu tidak memiliki manfaat secara politik maupun ekonomi,” kata Abdul Hakim. Pemerintah Indonesia, menurut Abdul Hakim, harus mempelajari laporan itu, dan mengajukan versinya sendiri kepada pemerintah Timor Leste dan masyarakat internasional, mengklarifikasi bagian mana dari laporan itu yang salah. “Seperti yang dilakukan negara lain, seperti Jepang, Korea dan Afrika Selatan, Indonesia harus mengakui telah melakukan kesalahan dan harus meminta maaf,” kata Abdul Hakim.
Abdul Hakim mengajukan prinsip mengobati sakit hati yang sangat sederhana. Timor Leste pun tidak perlu melupakan Indonesia, forgive but not forget. Memang terlalu jauh bila setelahnya mengharapkan masyarakat Timor Leste mengingat Indonesia pernah menjadi sinterklas dengan segalah hadiah semasa integrasi. Tetapi yang pasti, permintaan maaf itu adalah suplemen bagi harga diri Indonesia. Desculpa Indonesia. Boa Sorte, Timor Leste.
Subscribe to:
Posts (Atom)